Tautan-tautan Akses

Konflik Israel-Palestina, Brexit, Kemungkinan Jadi Topik di PBB


Suasana Sidang Majelis Umum PBB di New York, 26 September 2019. (Foto: dok).
Suasana Sidang Majelis Umum PBB di New York, 26 September 2019. (Foto: dok).

Para pemimpin dunia yang berkumpul dalam acara sidang Majelis Umum PBB di New York kemungkinan besar Kamis ini (26/9) akan mendengar pembahasan mengenai konflik Israel-Palestina, sementara para pejabat dari kedua pihak bergiliran berpidato pada pertemuan tahunan ini.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas dijadwalkan berpidato pada Kamis pagi. Menteri Luar Negeri Yisrael Katz akan berpidato pada siang hari menggantikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sedang berupaya membentuk pemerintahan setelah pemilu pekan lalu.

Ketidakpastian terkait keluarnya Inggris dari Uni Eropa juga mungkin menjadi agenda, karena Presiden Dewan Uni Eropa Donald Tusk dijadwalkan berpidato hari ini. Perdana Menteri Boris Johnson tidak membicarakan tentang Brexit dalam pidatonya pekan ini. Ia sendiri sedang terpukul oleh putusan Mahkamah Agung Inggris yang menyatakan keputusannya membekukan parlemen melanggar hukum.

Pada hari Rabu, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan kepada para pemimpin dunia bahwa tidak akan ada perundingan dengan Amerika Serikat selama sanksi-sanksi ekonomi masih berlaku.

Presiden Iran Hassan Rouhani saat berpidatom di hadapan Sidang Majelis Umum PBB, 25 September 2019.
Presiden Iran Hassan Rouhani saat berpidatom di hadapan Sidang Majelis Umum PBB, 25 September 2019.

“Kami pernah bernegosiasi di bawah sanksi-sanksi. Kami tidak akan melakukan hal itu lagi. Hentikan sanksi dan kembali kepada komitmen Anda agar dialog dapat dimulai kembali,” katanya di Majelis Umum PBB.

Amerika memberlakukan langkah-langkah yang menarget industri minyak penting Iran setelah tahun lalu mundur dari perjanjian 2015 yang membatasi program nuklir Iran. Pemerintahan Trump menyatakan perjanjian antara Iran dan negara-negara berpengaruh dunia tidak memadai untuk mencegah Teheran membuat senjata nuklir atau terlibat dalam perilaku lainnya yang dianggap buruk.

Teheran sejak itu melampaui batasan-batasan yang ditetapkan dalam perjanjian 2015 itu, dengan alasan para penandatangan lain dalam perjanjian itu tidak memenuhi peran mereka, khususnya dalam memastikan pelonggaran sanksi-sanksi. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG