Tautan-tautan Akses

Konferensi Mengenai Libya Berfokus pada Pemilu dan Keamanan


Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken bertemu dengan Perdana Menteri Libya Abdulhamid Dbeibeh di Berlin Marriott Hotel di Berlin, Jerman 24 Juni 2021. (Foto: Andrew Harnik via REUTERS)

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan PM sementara Libya Abdulhamid Dabaiba pada hari Kamis (24/6) mengadakan pembicaraan di Berlin setelah konferensi internasional yang berfokus pada dukungan bagi transisi Libya ke pemerintahan yang stabil dan permanen.

Konferensi yang diselenggarakan Jerman dan PBB itu melibatkan para pejabat dari 17 negara dan memperkuat dukungan bagi pemilu nasional di Libya yang dijadwalkan berlangsung akhir Desember.

“Kami ingin memanfaatkan momen kesempatan ini, dengan ucapan terima kasih banyak kepada Jerman karena mempertemukan semua orang, atas pekerjaan yang dilakukan terus menerus dalam upaya membantu Libya bergerak menuju masa depan yang lebih baik, lebih kuat dan independen,” kata Blinken dalam konferensi itu hari Rabu.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken bertemu dengan Perdana Menteri Libya Abdulhamid Dbeibeh di Berlin Marriott Hotel di Berlin, Jerman 24 Juni 2021. (Foto: Andrew Harnik via REUTERS)
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken bertemu dengan Perdana Menteri Libya Abdulhamid Dbeibeh di Berlin Marriott Hotel di Berlin, Jerman 24 Juni 2021. (Foto: Andrew Harnik via REUTERS)

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa pemilu itu penting “bukan hanya untuk melegitimasi pemerintah Libya yang kredibel dan berjangka panjang,” tetapi juga untuk membantu mencapai tujuan melaksanakan seruan yang ada sekarang ini bagi para pejuang asing agar meninggalkan negara itu.

“Pemerintahan Libya yang sah dan berdaya penuh akan berada dalam posisi yang jauh lebih kuat untuk menghadapi para pemain asing ini dan mengatakan, ‘terima kasih banyak, ini negara kami sekarang dan kami ingin menjadi pihak yang menentukan hubungan kerja sama keamanan yang akan kami miliki dan bukannya mereka yang memberlakukannya terhadap kami,’” kata pejabat itu.

Sebuah pernyataan resmi dari para peserta konferensi menyebutkan “semua kekuatan asing dan tentara bayaran harus ditarik keluar dari Libya tanpa ditunda-tunda,” tetapi mengenai hal tersebut Turki menyatakan keberatannya.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mengatakan Turki melihat personelnya di Libya bertindak sebagai pelatih berdasarkan kesepakatan yang dicapainya dengan pemerintah sementara sebelumnya, yakni Pemerintah Perjanjian Nasional yang diakui PBB.

Libya telah mengalami instabilitas politik sejak pemberontakan tahun 2011 yang didukung NATO menyingkirkan pemimpin lama negara itu, Moammar Gadhafi dari kekuasaannya. Pemerintah yang saling bersaingan bekerja di tempat-tempat terpisah di negara itu selama bertahun-tahun sebelum tercapai kesepakatan gencatan senjata Oktober lalu, yang mencakup tuntutan bagi semua pejuang asing dan tentara bayaran untuk meninggalkan Libya dalam 90 hari.

Pada jumpa pers setelah konferensi hari Rabu, Menteri Luar Negeri Libya Najla Mangoush mengatakan ada kemajuan ke arah keluarnya pasukan asing dan bahwa “harapannya dalam beberapa hari mendatang tentara bayaran dari kedua pihak akan ditarik.”

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada wartawan bahwa mencapai sasaran tersebut merupakan langkah penting “yang kini harus dibuat operasional.”

Blinken sedang dalam lawatan ke beberapa negara di Eropa dan pada hari Kamis dijadwalkan untuk bersama Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengunjungi sebuah monumen Holokos sebagai bagian dari upaya untuk menyoroti pentingnya menghadapi mereka yang menyangkal atau mendistorsi sejarah pembunuhan 6 juta orang Yahudi oleh Nazi pada tahun 1940-an. [uh/ka]

XS
SM
MD
LG