Tautan-tautan Akses

Konferensi Keamanan Libya di Italia Alami Kegagalan


Para delegasi Konferensi Keamanan Libya berpose bersama di Palermo, Italia, Selasa (13/11).

Upaya Italia menjadi tuan rumah pertemuan puncak tentang menstabilkan Libya yang selama tujuh tahun ini dilanda konflik, tampaknya gagal hari Selasa (13/11), karena penyelenggara pada hari kedua dan terakhir pertemuan di Sisilia itu bahkan tidak bisa mengukuhkan apakah wakil dari faksi-faksi utama hadir atau tidak.

Satu pemain utama, Jenderal Khalifa Haftar, komandan Tentara Nasional Libya yang menguasai sebagian besar Libya timur, tiba di pulau itu Senin malam, tetapi tidak jelas apakah ia akan ikut ambil bagian dalam pembicaraan itu. Laporan media sebelumnya mengutip Haftar mengatakan konferensi itu tidak memiliki agenda yang jelas.

Konferensi di ibukota Sisilia, Palermo, dimulai hari Senin (12/11) dengan makan malam pribadi yang diselenggarakan Perdana Menteri Giuseppe Conte sebelum sidang pleno hari Selasa.

Italia ingin tetap berfokus pada produsen minyak dan anggota OPEC itu, di mana kekacauan telah berlangsung tujuh tahun di antara ratusan kelompok bersenjata dan suku yang saling bersaing sejak pemimpin Libya Muammar Gadhafi digulingkan dan dibunuh. Tetapi yang paling jelas tampak pada pertemuan itu adalah persaingan yang muncul dengan Prancis mengenai siapa yang akan memimpin upaya untuk menstabilkan Libya. Prancis menyerukan pertemuan serupa awal Mei lalu, membuat marah para pemimpin Italia.

Italia berharap Presiden Amerika Donald Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kanselir Jerman Angela Merkel akan hadir, tetapi mereka dan sejumlah pemimpin lain yang diundang mengirim wakil tingkat rendah. Prancis mengirim menteri luar negerinya.

Deputi Perdana Menteri Italia Luigi Di Maio mengatakan pekan lalu ia yakin rencana untuk menstabilkan Libya bisa dibuat.

''Kami tidak akan membuat harapan palsu, tetapi sangat penting bagi kami untuk menemukan jalan bersama semua yang terlibat untuk maju ke langkah berikutnya,'' ujar Di Maio.

Pejabat-pejabat Italia tidak merahasiakan bahwa niatnya menjadi tuan rumah pertemuan itu adalah mencitrakan Italia sebagai pemimpin upaya internasional untuk mewujudkan perdamaian di Libya, negara di Afrika Utara, yang diperintah Italia sebagai koloni setelah pasukan Italia merebutnya dari kekuasaan kekhalifahan Usman pada tahun-tahun sebelum Perang Dunia Pertama. Banyak dari pesan mereka diarahkan ke Amerika.

''Sangat penting bagi kami bahwa Amerika rela kami menjadi negara yang memimpin manajemen dan stabilisasi Libya dan kami melakukan ini dengan komitmen tertinggi, berharap meraih hasil tertinggi,'' ujar Di Maio, seraya menambahkan, ''kami tidak mengecualikan siapa pun untuk mendukung jalan ini.''

Saat ini ada dua pemerintahan di Libya: Government of National Accord yang lemah dan didukung PBB, dipimpin Fayez al-Sarraj, di Tripoli, dan Libyan National Army, dipimpin Haftar, di bagian timur negara itu. (ka)

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG