Tautan-tautan Akses

Klaster Virus di Kelab Malam Picu Tindakan Ketat Baru di Beijing


Seorang petugas kesehatan mengambil sampel swab dari seorang perempuan untuk diuji COVID-19 di tempat pengambilan swab di Beijing, 27 Mei 2022. (Foto: AFP)
Seorang petugas kesehatan mengambil sampel swab dari seorang perempuan untuk diuji COVID-19 di tempat pengambilan swab di Beijing, 27 Mei 2022. (Foto: AFP)

Ibu kota China telah menetapkan pelaksanaan sekolah secara daring di salah satu distrik utamanya di tengah-tengah wabah baru COVID-19 yang terkait dengan sebuah kelab malam, sementara kehidupan belum kembali normal di Shanghai meskipun lockdown selama dua bulan lebih telah dicabut.

China berpegang pada kebijakan “nol-COVID’ yang mewajibkan tes massal, karantina, dan mengasingkan siapa pun yang melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi di lokasi-lokasi terpusat, di mana kebersihannya secara umum buruk.

Ada 166 kasus yang dikaitkan dengan kelab Heaven Supermarket di daerah hiburan malam di pusat kota Gongti setelah satu orang yang terinfeksi berkunjung ke sana pada hari Kamis. Dari jumlah tersebut, 145 adalah tamu, selebihnya adalah staf atau orang-orang yang kemudian melakukan kontak dengan tamu.

Orang-orang berbaris untuk diuji COVID-19 di Beijing, China 18 Mei 2022. (Foto: Reuters)
Orang-orang berbaris untuk diuji COVID-19 di Beijing, China 18 Mei 2022. (Foto: Reuters)

Seluruh daerah itu, beserta kompleks perbelanjaan dan restoran Sanlitun di dekatnya, ditutup hingga pemberitahuan selanjutnya.

Wabah ini mendorong pihak berwenang di distrik Chaoyang untuk mengembalikan proses belajar di sekolah secara daring, dengan perkecualian bagi siswa yang sedang mengikuti ujian penempatan SMP dan SMA. Pertemuan untuk olahraga di kota itu juga ditangguhkan.

Chaoyang telah memerintahkan tes massal setiap hari, menimbulkan antrean panjang dan waktu tunggu dua jam lebih.

Di Shanghai, 502 orang telah dikaitkan dengan tiga orang yang dites positif yang dideteksi pada 9 Juni lalu di kalangan pelanggan salon kecantikan Red Rose. Mereka berasal dari 15 distrik di kota berpenduduk 25 juta orang itu, mendorong restriksi berskala besar pertama sejak lockdown resmi diakhiri pada 1 Juni lalu.

Dengan tes massal dan pembatasan pergerakan diberlakukan lagi, jalan-jalan dan supermarket kembali kosong pada akhir pekan lalu.

Kegagalan melakukan tes akan memicu kode kuning di aplikasi status kesehatan seseorang, yang menutup aksesnya ke seluruh tempat umum.

Sebagian besar siswa tetap di rumah dan semua, kecuali sedikit restoran, buka hanya untuk pesanan dibawa pulang. Banyak pelanggan hanya mengambil makanan dan minuman mereka di anak-anak tangga di luar gedung.

Seorang pekerja duduk di sebelah pagar yang didirikan untuk menutup area perumahan di tengah lockdown COVID-19 di distrik Huangpu, Shanghai. (Foto: AFP)
Seorang pekerja duduk di sebelah pagar yang didirikan untuk menutup area perumahan di tengah lockdown COVID-19 di distrik Huangpu, Shanghai. (Foto: AFP)

Sementara 22 juta penduduk Shanghai terbebas dari lockdown hampir dua pekan silam, 220 ribu orang masih dibatasi di rumah mereka di bawah peraturan yang mengharuskan tidak ada lagi kasus positif ditemukan di kompleks permukiman mereka selama 10 hari lebih.

Enam ratus ribu lainnya berada di zona kontrol, di mana pergerakan mereka dibatasi hanya di dalam lingkungan permukiman mereka.

Meskipun muncul wabah belakangan ini, Beijing melaporkan hanya 51 kasus baru pada hari Senin, 22 di antaranya tanpa gejala. Warga kota itu masih menjalani tes rutin – kebanyakan dua hari sekali – dan harus mengenakan masker serta menggunakan aplikasi ponsel untuk memasuki tempat umum dan memfasilitasi pelacakan kasus.

Di tingkat nasional, China melaporkan hanya 143 kasus, hampir semuanya di Beijing dan Shanghai. Jumlah kematian akibat wabah itu di China daratan masih tercatat 5.226. [uh/ka]

XS
SM
MD
LG