Tautan-tautan Akses

Ekonom: Kinerja Perekonomian Indonesia Belum Memuaskan


Setelah setahun, pemerintahan Presiden Yudhoyono dan Wapres Boediono menuai sejumlah kritikan, termasuk kinerja dalam bidang ekonomi.
Setelah setahun, pemerintahan Presiden Yudhoyono dan Wapres Boediono menuai sejumlah kritikan, termasuk kinerja dalam bidang ekonomi.

Selama setahun pemerintahan SBY-Boediono, kinerja perekonomian Indonesia dinilai beberapa ekonom masih belum sesuai harapan.

Menurut pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latief Adam, kinerja pemerintah di bidang ekonomi sepanjang satu tahun terakhir tidak mengalami kemajuan. Ia menilai pemerintah masih bangga dengan pencapaian-pencapaian bersifat teori yang ditulis dalam RAPBN 2011. Padahal menurutnya yang terpenting adalah realisasi target pencapaian yang dapat dilihat dari berkurangnya angka pengangguran dan angka kemiskinan yang ternyata belum berhasil dilakukan pemerintah hingga sekarang.

“Menurut saya sih harus ada action plan yang jelas dari pemerintah, tingkat pertumbuhan ekonomi itu akan mampu menciptakan kue ekonomi sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat banyak dan pada akhirnya akan bisa meningkatkan kesejahteraan dalam bentuk pengurangan kemiskinan dan pengangguran,” kata Latief Adam.

Banyaknya masukan dari berbagai kalangan agar Presiden Yudhoyono melakukan perombakan sususan kabinet karena beberapa menteri dinilai tidak berhasil, menurut Latief Adam langkah tersebut tidak berguna. Ia menegaskan, kinerja seorang menteri tidak berjalan sendiri melainkan melalui sistem yang telah ditetapkan dan tentunya telah disetujui presiden dan wakil presiden serta kementerian lain.

“Kalau saya selalu mengistilahkan ekonomi itu suatu sistem, kita akan sulit menyalahkan menteri yang tidak perform, itu yang pertama, kemudian yang kedua, agak rumit kalau ada pertimbangan-pertimbangan politis,” jelas Latief Adam.

Wapres Boediono dalam sebuah acara di Washington DC. Kinerja pemerintahannya bersama Presiden SBY dikritik sejumlah ekonom.
Wapres Boediono dalam sebuah acara di Washington DC. Kinerja pemerintahannya bersama Presiden SBY dikritik sejumlah ekonom.

Menurut ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, sebaiknya pemerintah tidak lagi bangga dengan pertumbuhan ekonomi. Ditegaskan Faisal Basri, jika selama ini pemerintah berpendapat ekonomi Indonesia tumbuh signifikan, hal itu belum terbukti. Ia juga menambahkan pemerintah harus segera menuntaskan berbagai kasus yang selama ini membuat masyarakat mengalami krisis kepercayaan terhadap pemerintah, terutama soal korupsi.

“Oke pertumbuhan ekonomi memang makin lama makin tinggi, tapi ingat 2010 ini pertumbuhan ekonomi kita yang meninggi terus 6,2 persen itu terendah di ASEAN, kemudian target pertumbuhan harusnya sudah tercapai 6,5 persen di awal tahun ternyata tidak dan persoalan-persoalan lain yang seharusnya tidak terjadi lagi, masih tetap terjadi,” ungkap Faisal Basri.

Menurut Gito Ganindito anggota Himpunan Pengusaha Muda seluruh Indonesia (HIPMI), sulit menilai berhasil atau tidaknya perekonomian Indonesia hanya melalui satu tahun kinerja pemerintah. Namun ia berharap sektor riil mampu tumbuh karena beberapa tahun terakhir stagnan sehingga tidak menciptakan lapangan kerja baru.

“Memang kalau kita lihat dalam tempo satu tahun memang relatif cukup singkat, susah untuk menjadi suatu tolok ukur keberhasilan soal investasi, mudah-mudahan semua bisa berjalan di koridor yang benar. Itu mustinya 2014 sih, sebenarnya ada harapan juga ya, tetapi kalau saya lihat dari terakhir kemarin kelihatannya kita jalan di tempat saja,” jelas Gito Ganindito.

Sementara itu para menteri bidang ekonomi berpendapat berbagai bidang terkait ekonomi terus tumbuh. Pertumbuhan ekonomi, perbankan, ekspor, investasi, pasar modal hingga Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ditegaskan pemerintah terus meningkat. Selain itu pengangguran dan kemiskinan mengalami penurunan.

XS
SM
MD
LG