Tautan-tautan Akses

Kesan Pendengar Setia Jelang 79 Tahun Siaran VOA


Temu Keluarga Pendengar Radio (TKPR) yang diprakarsai Rudy Hartono. (Foto courtesy)

Tanggal 25 Februari nanti, Voice of America (VOA) atau yang dikenal dengan Radio Suara Amerika, berusia 79 tahun. Begitu banyak cerita dalam perjalanan VOA selama ini, dan pendengar setia VOA merupakan salah satu unsur penting yang mewarnai siaran radio ini.

Pada siaran pertamanya tahun 1942, tujuh minggu lebih setelah Amerika secara resmi memasuki Perang Dunia II, para pendengar Voice of America (VOA) pertama kali mendengar lagu patriotik Amerika, "The Battle Hymn of the Republic."

Siaran perdananya tahun itu sangat bersahaja, berupa siaran langsung radio dengan gelombang pendek selama 15 menit yang dipancarkan ke Jerman dari sebuah studio kecil di kota New York.

Kini menjelang usia 79 tahun, siaran VOA yang didanai oleh Kongres AS itu, menjangkau lebih dari 280 juta orang di seluruh dunia dan disiarkan dalam lebih dari 40 bahasa, salah satunya Indonesia.

Iklan dan logo Voice of America (Foto: Sunu Budiarjo)
Iklan dan logo Voice of America (Foto: Sunu Budiarjo)

Menurut penelitian Kantar, khusus untuk siaran radio saja, terdapat lebih dari 10,5 juta pendengar radio yang mendengarkan siaran VOA yang disiarkan oleh lebih dari 200 radio afiliasinya di Indonesia. Sementara total Affiliasi VOA Indonesia sendiri terdiri dari Radio ,TV dan online berjumlah lebih 400 affiliasi.

Heribertus Sunu Budiharjo, 63 tahun adalah salah seorang pendengar setia VOA selama lebih dari 45 tahun. Ia mulai mendengarkan ketika duduk di bangku SMA, tepatnya pada tahun 1975.

“VOA itu mempunyai ciri khas tersendiri ketika menyampaikan beritanya dibandingkan dengan radio-radio lain. Nuansa Amerika-nya ada. Yang jelas bercerita tentang keliling kampus, dunia teknologi. Itu yang menjadi salah satu daya tariknya,” ujarnya.

Heribertus Sunu Budiarjo (kiri) menerima cindera mata VOA dari Direktur Biro Jakarta, Agus Sunarto. (Foto: Sunu Budiarjo)
Heribertus Sunu Budiarjo (kiri) menerima cindera mata VOA dari Direktur Biro Jakarta, Agus Sunarto. (Foto: Sunu Budiarjo)

Sunu, panggilan akrabnya yang pernah menjadi koresponden di Radio Nederland itu, juga menjadi dosen di Akademi Komunikasi Bina Ekatama yang ketika itu mempunyai radio kampus satu-satunya di Jakarta. Di samping membina afiliasi antara radio kampusnya, BComm dengan VOA, ia juga menggunakan bahan kuliah dari naskah-naskah siaran VOA untuk para mahasiswanya.

“Saya mengajar di berbagai kampus. Naskah-naskah yang kami terima dari VOA itu saya pergunakan untuk acuan. Karena kami mengelola radio kampus, maka program acara, judulnya, waktu penyiaran, dan sebagainya kami tulis. Jadi ada semacam daftar yang setiap bulan kami kirim ke AS sebagai bukti bahwa kami menggunakan itu untuk siaran radio kampus,” tukasnya.

Pendengar dari Generasi Muda

Generasi yang lebih muda pun seperti Rudy Hartono, 49 tahun yang tinggal di Pemangkat, Kalimantan Barat, sudah menjadi pendengar VOA sejak tahun 1988. Ia bahkan membentuk grup pendengar VOA yang diberi nama, Borneo Listeners Club.

Rudy Hartono salah satu pendengar setia VOA di Kalimantan. (Foto: courtesy)
Rudy Hartono salah satu pendengar setia VOA di Kalimantan. (Foto: courtesy)

Ditanya mengenai kegiatan dan tujuan membentuk klub pendengar itu, ia menjelaskan, “Siaran radio gelombang pendek yang kita agung-agungkan waktu itu, sudah bergeser ke arah digital. Dari kekurangan informasi itu maka saya membentuk klub, supaya teman-teman yang rindu suara penyiar, tentunya melalui komunitas ini bisa membangkitkan kembali VOA. Kami setiap 2 tahun sekali melaksanakan Temu Keluarga Pendengar Radio (TKPR) dan kami ingin proses regenerasi keluarga-keluarga pendengar untuk tetap mendengarkan radio”.

Klub pendengar Borneo yang dibentuk tahun 2010 itu beranggotakan sekitar seratus orang yang semuanya merupakan pendengar setia VOA. Ketika ditanya mengenai gaya penyiar membawakan acaranya, Rudy Hartono mengatakan, “Mungkin pak Leonard Triyono lebih populer di sini.”

Pertemuan Kelompok Pendengar Borneo. (Foto: Rudy Hartono)
Pertemuan Kelompok Pendengar Borneo. (Foto: Rudy Hartono)

Sedangkan menurut Sunu Budiarjo, suara para penyiar VOA menunjukkan ciri khas masing-masing.

“Ciri khas itu justru membawa trademark tersendiri, tidak bisa digeneralisasikan. Misalkan laporan dari Sumatra, Jawa Tengah, Ujung Pandang, kan aksentuasinya juga berbeda. Karena masing-masing penyiar mempunyai gaya dan suara tersendiri. Misalnya suara Puspita Sariwati pelan, intonasinya jelas, mengalir dan ini menjadi suatu ciri khas yang disukai dan ketika kami putarkan, ini lho gayanya Helmi Johannes, ini lho gayanya mbak Puspita, dan sebagainya.”

Beberapa penyiar VOA Siaran Bahasa Indonesia di Studio VOA (foto: courtesy).
Beberapa penyiar VOA Siaran Bahasa Indonesia di Studio VOA (foto: courtesy).

Teknologi Baru Digital

Seiring dengan berkembangnya teknologi dengan berbagai media digital, maka banyak pendengar menikmati siaran VOA melalui streaming, seperti yang dilakukan Dwi Budiraharjo, 52 tahun asal Wonosobo, Jawa Tengah.

“Saya mendengarkan VOA lewat streaming. Acara yang paling berkesan adalah America This Morning maupun America Highlight melalui radio Sonora, Jakarta. Dirgahayu ke-79 VOA, tetap independen dan terpercaya.”

Menjelang HUT ke-79 VOA dan Pendengar Setianya
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:06:29 0:00


Mewakili banyak pendengar setia VOA, Heribertus Sunu Budiarjo dan Rudy Hartono berharap ada pertemuan di mana VOA tidak saja menghadirkan radio-radio afiliasi yang menjadi mitranya, tetapi juga para pendengar. Mereka mencontohkan acara “Temu Pendengar” yang sering diadakan pada masa lalu.

Siaran VOA kini diperkaya dengan kehadiran berbagai bentuk multimedia yang memungkinkan warga menikmati siaran audio, video, website, streaming, podcast, instagram, dan lainnya. Jadi semua rubrik dalam siaran VOA bisa diunduh lalu didengarkan, ditonton dan dibaca kapan pun dan di mana pun melalui daring, asalkan mempunyai telpon pintar dan wifi. [ps/em]

Lihat komentar (3)

XS
SM
MD
LG