Tautan-tautan Akses

Kenya, Beralih Ke Bahan Bakar Energi Bersih


Seorang pekerja mengatur tabung gas masak M-Gas di depot dekat permukiman kumuh Mukuru di Nairobi, Kenya, 29 Januari 2020. (Foto: REUTERS/Njeri Mwangi)

Hampir semua sekolah di Kenya menggunakan bahan bakar kayu yang emisinya tinggi untuk memasak makanan siswa-siswanya. Namun sebuah kampanye pemerintah menjelang Hari Bumi pada 22 April menyasarkan agar sekolah-sekolah beralih ke penggunaan bahan bakar yang lebih bersih pada akhir tahun ini.

Di sekolah Alliance High School di Kiambu County, Kenya, pekerja memasak makan siang untuk sekitar 2.000 anak laki-laki. Tugas itu menjadi lebih mudah sekarang sejak sekolah beralih ke penggunaan LPG untuk memasak tiga bulan yang lalu.

Namun kebanyakan sekolah di Kenya tidak bisa menanggung beban peralihan ke jenis bahan bakar baru ini untuk memasak, padahal hal ini mampu mengurangi emisi karbon di atmosfir. Ketidakmampuan tersebut terkait isu pendanaan, terutama menemukan sumber dana yang bisa membayar biaya uang muka pemasangan sarana baru itu.

Pejabat di sekolah Alliance High mengatakan, pemasangan sistem untuk bahan bakar yang bersih di sekolah menuntut banyak dana tetapi bisa dilakukan.

Seorang pekerja terlihat dalam demonstrasi memasak di depot M-Gas dekat permukiman kumuh Mukuru di Nairobi, Kenya, 29 Januari 2020. (Foto: REUTERS/Njeri Mwangi)
Seorang pekerja terlihat dalam demonstrasi memasak di depot M-Gas dekat permukiman kumuh Mukuru di Nairobi, Kenya, 29 Januari 2020. (Foto: REUTERS/Njeri Mwangi)

"Anda lihat saja kami menggunakan sarana seperti yang kami miliki sebelumnya. Kami tidak berubah, jadi isu penghematan energi, perubahan apapun kami masih masih sama," ujar kepala sekolah Alliance High, William Mwangi.

Penguasa Kenya menanggapi absennya kesadaran akan penggunaan bahan bakar yang lebih bersih ini dengan mendirikan pusat-pusat di mana sekolah-sekolah bisa belajar tentang berbagai teknologi energi bersih yang tersedia.

"Jadi salah satu yang kami lakukan di pusat hijau ini adalah memeragakan teknologi energi terbarukan, solusi memasak secara bersih. Sekolah-sekolah datang ke pusat hijau ini untuk belajar solusi-solusi ini dan bagaimana memperbesar fasilitasnya," ujar pakar ekonomi di Otoritas Lingkungan Nasional, Obadiah Mungai.

Organisasi-organisasi yang berusaha menggalakkan masak secara bersih ini mengatakan, keterbatasan akses Kenya ke teknologi memperlambat peralihan ke bahan bakar yang lebih bersih.

"Beberapa solusi ini bukan berasal dari Kenya, meskipun kami sangat ingin mendukung produk yang dibuat di dalam negeri. Beberapa teknologi ini yang sangat baik, atau sebagian sangat baik, harus diimpor dan kemungkinan dirakit di Kenya agar bisa digunakan," ujar David Nugi, CEO Clean Cooking Association di Kenya.

Sejauh ini, 11 sekolah telah beralih dan menggunakan bahan bakar yang lebih bersih. Pemerintah Kenya berharap pada akhirnya, semua sekolah di negara itu bisa beralih ke bahan bakar yang lebih bersih. [ew/jm]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG