Tautan-tautan Akses

Keluarga ABK Hilang di Mauritius Kirim Sepucuk Surat ke Paus


Sebuah kapal ikan Vietnam, sebagai ilustrasi. Keluarga Anak Buah Kapal (ABK) ikan Vietnam yang hilang di Mauritius lima belas bulan lalu masih berupaya mencari kejelasan nasib mereka. (Foto: VOA)
Sebuah kapal ikan Vietnam, sebagai ilustrasi. Keluarga Anak Buah Kapal (ABK) ikan Vietnam yang hilang di Mauritius lima belas bulan lalu masih berupaya mencari kejelasan nasib mereka. (Foto: VOA)

Keluarga Anak Buah Kapal (ABK) yang hilang di Mauritius lima belas bulan lalu masih berupaya mencari kejelasan nasib mereka. Salah satunya, dengan mengirim surat ke Paus Fransiskus di Vatikan, agar pencarian turut dilakukan melalui jalur gereja Katolik.

Surat itu ditulis oleh Gabriel Ulu Tunabenani, ayah dari Petrus Crisologus Tunabenani, salah satu ABK yang hilang di Mauritius pada 26 Februari 2021. Mauritius adalah negara kecil di sebelah timur Madagaskar, Afrika.

“Kita mengharapkan bantuan Sri Paus untuk mengimbau ke seluruh dunia lewat gereja Katolik, supaya kalau bisa ada yang menemukan anak-anak itu, kalau bisa dipulangkan,” ujar Gabriel Ulu kepada VOA.

Dalam salinan surat yang juga diterima VOA, warga Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini mengajukan permohonan bantuan, agar Paus mengimbau nahkoda dan ABK kapal ikan Weifa asal Vietnam mengaku. Pengakuan jujur itu penting, karena hanya merekalah yang mengetahui di mana tujuh ABK yang hilang tersebut. Diketahui, narkoda dan ABK asal Vietnam tersebut merupakan pihak yang terakhir bersama para ABK asal Indonesia.

Kapal ikan Vietnam. (Foto: VOA)
Kapal ikan Vietnam. (Foto: VOA)

“Agar mereka berbicara jujur kepada Kepolisian Mauritus yang saat ini menangani perkara sehubungan dengan kasus hilangnya tujuh ABK WNI di perairan Mauritius, Afrika,” papar Gabriel Ulu.

Surat dikirimkan ke Paus, karena di Mauritius juga terdapat gereja Katolik. Jika memang pemerintah Mauritius dan pihak kepolisian belum dapat memberikan informasi terang, diharapkan gereja Katolik setempat membantu mengupayakan itu.

Keluarga Gabriel Ulu Tunabenani, meminta bantuan Presiden Jokowi terkait nasib anaknya. (Foto Gabriel Ulu)
Keluarga Gabriel Ulu Tunabenani, meminta bantuan Presiden Jokowi terkait nasib anaknya. (Foto Gabriel Ulu)

“Ini saya mencoba meminta bantuan ke Sri Paus karena saran dari pastor yang ada di NTT,” tambah Gabriel Ulu.

Kementerian Luar Negeri Indonesia terakhir memberikan keterangan kepada keluarga ABK yang hilang, kata Gabriel Ulu, pada November tahun lalu. Setelah itu tidak diperoleh kabar lebih lanjut, meski ABK telah hilang selama 15 bulan.

“Harapan kami ke pemerintah, kalau memang tujuh anak ini masih ada, kalau bisa pemerintah berupaya memulangkan. Kalaupun sudah tidak ada, kami minta jenazahnya dipulangkan,” tambah Gabriel Ulu.

Dalam adat masyarakat Timor, lanjut Gabriel Ulu, ada penanda yang muncul jika anggota keluarga mereka meninggal dunia. Sepanjang lima belas bulan ini, Gabriel Ulu mengaku tidak menerima satu tanda apapun, sesuai kepercayaan adat mereka. Karena itulah, harapan selalu ada untuk kepulangan tujuh ABK yang hilang

Petrus Crisologus Tunabenani, seharusnya pulang ke Indonesia pada 28 Februari 2021, tetapi hilang dua hari sebelumnya. (Foto Gabriel Ulu)
Petrus Crisologus Tunabenani, seharusnya pulang ke Indonesia pada 28 Februari 2021, tetapi hilang dua hari sebelumnya. (Foto Gabriel Ulu)

Berharap Respons Baik

Upaya keluarga ABK yang hilang ini mendapat dukungan sepenuhnya dari Lembaga Hukum dan HAM Padma Indonesia. Direktur Padma Indonesia, Gabriel Goa, kepada VOA mengatakan, surat telah dikirimkan dan mereka berharap ada respons positif.

“Harapan untuk Paus, bisa mengirim nota diplomatik melalui Nuncio Apostolik di Mauritius untuk mengingatkan Presiden Mauritius agar mendesak pihak Kepolisian Mauritius memberikan keterangan resmi kepastian tujuh ABK,” kata Gabriel ketika dihubungi VOA.

Nuncio Apostolik adalah kepala diplomat gerejawi atau duta besar Vatikan yang ada di berbagai negara, termasuk di Mauritius dan Indonesia. Diharapkan, dengan perhatian dari perwakilan Vatikan di Mauritius, kejelasan kabar terkait nasib tujuh ABK bisa diperoleh.

“Apakah mati dibunuh dan dibuang ke perairan Mauritius atau masih hidup. Keterangan bisa diperoleh melalui keterangan resmi nakhoda kapal dan ABK asal Vietnam yang masih hidup dan ditahan di Kepolisian Mauritius,” tegas Gabriel Goa.

Gabriel Goa dari Padma Indonesia. (Foto: Dok Pribadi)
Gabriel Goa dari Padma Indonesia. (Foto: Dok Pribadi)

Surat tersebut ditujuan ke Paus, lanjut Gabriel Goa, karena Gabriel Ulu Tunabenani yang mewakili keluarga tujuh ABK, adalah umat Keuskupan Atambua. Keuskupan ini merupakan bagian dari Gereja Katolik Universal yang dipimpin Paus Fransiskus.

“Paus sendiri sudah mengeluarkan Ensiklik atau surat resmi Paus tentang Migran dan Anti-Human Trafficking,” tambah Gabriel Goa.

Ensiklik yang disebut Gabriel Goa adalah surat amanat Paus sebagai Uskup Roma dan pemimpin Gereja Katolik dunia. Ensiklik, berisi ajaran Paus mengenai iman dan kesusilaan. Paus mengeluarkan ensiklik untuk berbagai tema, salah satunya terkait pekerja migran dan upaya menghapus perdagangan manusi.

“Kami memohon agar Paus menindaklanjuti ensiklik-nya dengan memberikan perlindungan kepada tujuh ABK, yang dua diantaranya adalah umat Katolik asal Keuskupan Atambua, NTT, Indonesia, yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia,” ujar Gabriel Goa lagi.

Surat juga telah dikirimkan kepada Nuncio Apostolik di Jakarta, yang merupakan wakil Paus di Indonesia. Sebelumnya, upaya meminta kejelasan nasib tujuh ABK ini telah dilakukan dengan berkirim surat kepada Presiden Joko Widodo, Duta Besar Vietnam di Indonesia, dan Komisi I DPR RI

Klaudius Ukat, ABK Indonesia asal Belu, NTT yang hilang di Mauritius. (Foto: Courtesy/Keluarga Brigitta Telik)
Klaudius Ukat, ABK Indonesia asal Belu, NTT yang hilang di Mauritius. (Foto: Courtesy/Keluarga Brigitta Telik)

Hilangnya Tujuh ABK

Hilangnya tujuh ABK ini dimulai dengan keributan antara ABK Indonesia dan ABK dari Vietnam pada 26 Februari 2021. Dari tujuh ABK Indonesia itu, enam orang bekerja di kapal Wei Fa dan satu bekerja di De Hai 16, keduanya adalah kapal penangkap ikan berbendera Taiwan. Perkelahian terjadi di kapal Wei Faa.

Aparat keamanan Mauritius menarik kapal Wei Faa ke Port Luis, Mauritania namun tujuh ABK Indonesia sudah tidak ada di kapal. Aparat keamanan Mauritius kemudian menahan seluruh kru Wei Fa, termasuk kapten kapal yang merupakan warga negara Vietnam.

Pada September 2021 Kepolisian Mauritius menerbitkan keterangan resmi yang menyatakan tujuh ABK Indonesia hilang sejak terakhir terlihat di kapal Wei Fa pada 26 Februari 2021. Sementara berkas penyelidikan polisi telah dilimpahkan ke Kantor Deputy Public Prosecutions (DPP) Mauritius untuk diproses lebih lanjut.

Tujuh ABK itu adalah Rudi Herdiana (Brebes, Jawa Tengah), Dadan (Ciamis, Jawa Barat), Petrus Crisologus Tunabenani ( Belu, NTT), Klaudius Ukat (Belu, NTT), Muhamad Jafaf, Gali Chandra Kusuma (Kebumen, Jawa Tengah) dan Anton Pradana (Banyuwangi, Jawa Timur). [ns/ah]

Recommended

XS
SM
MD
LG