Tautan-tautan Akses

Kelompok Minoritas Ditekan, Konflik Perbatasan Iran Meningkat  


Para jamaah meneriakkan slogan-slogan anti Amerika, Israel, dan Arab Saudi, sementara salah satu peserta menunjukkan posted anti-Amerika dalam unjuk rasa di Tehran, Iran, 28 September 2018. Unjuk rasa itu untuk mengutuk serangan teror di Ahvaz.

Konflik bersenjata antara pasukan keamanan Iran dan gerilyawan separatis di perbatasan Iran meningkat di tengah upaya pemerintah memperkuat cengkeraman terhadap penduduk minoritas.

Dengan populasi lebih dari 80 juta orang, Iran didominasi etnis Persia. Agama negara itu adalah Islam Syiah. Iran juga rumah bagi jutaan minoritas suku-agama, termasuk suku Kurdi, Azeri dan Baluchis.

Media Iran, Selasa (16/10), melaporkan 14 anggota pasukan keamanan Iran diculik oleh militan di dekat provinsi tenggara Sistan-dan-Baluchestan, yang berbagi perbatasan dengan negara tetangganya Pakistan. Kelompok separatis Baluch, Jaish al-Adl (Tentara Keadilan), mengaku bertanggung jawab.

Dalam sebuah pernyataan, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), menyalahkan "kelompok teroris yang dipimpin dan didukung oleh kantor asing," telah melakukan penculikan tersebut. Ia meminta Pakistan untuk melindungi perbatasan barat dan memfasilitasi pembebasan pasukan Iran yang diculik itu.

Jumat (12/10) lalu, separatis Kurdi Partai Demokrat Kurdistan di Iran mengatakan anggotanya terlibat dalam "konfrontasi selama tiga jam dengan pasukan Iran di Provinsi Kermanshah."

Menurut pernyataan itu, sekurangnya dua anggota Kurdi dan seorang warga sipil tewas.

Para pejabat Iran, yang mengatakan kekerasan di perbatasan itu adalah insiden terpisah, menyalahkan Amerika dan sekutunya, khususnya Arab Saudi sebagai penyebab kerusuhan di beberapa bagian negara itu.

Pejabat AS dan Arab Saudi menolak tuduhan-tuduhan tersebut.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei bulan lalu menuduh AS dan "boneka-bonekanya" berencana menciptakan ketidakamanan di Iran. [my]

XS
SM
MD
LG