Tautan-tautan Akses

Kelompok Kristen Berupaya Ambil Kembali Benda Purbakala yang Dicuri ISIS


Foto yang dirilis oleh kantor berita resmi Suriah pada 27 Maret 2019 memperlihatkan patung-patung yang hancur pada Museum Palmyra yang sudah dirusak di Kota Palmyra, Suriah.

ISIS secara militer mungkin telah dikalahkan, tetapi kelompok teror itu meninggalkan kehancuran yang sangat besar di Suriah dan Irak yang tidak bisa diperbaiki setidaknya untuk saat ini.

Bulan lalu, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika menyatakan kemenangan atas ISIS setelah merebut kubu terakhirnya di Baghuz, Suriah timur.

Sementara masyarakat di seluruh Irak dan Suriah berusaha membangun kembali kehidupan setelah hampir lima tahun ISIS yang brutal berkuasa, sebagian merasa sangat sulit memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan kelompok teror itu terhadap situs-situs keagamaan dan arkeologi.

Sejak muncul pada 2014 hingga hari-hari terakhirnya pada 2019, ISIS menjarah, menghancurkan, dan membakar semua tempat bersejarah umat Kristen, termasuk gereja dan museum. Dalam video propaganda yang disebarluaskan di daring, militan ISIS tampak membongkar artefak dan patung Kristen dengan palu godam dan menghancurkan koleksi sejarah ketika pertama kali menguasai kota Mosul, Irak, pada 2014.

Setahun kemudian, militan ISIS menyerbu kota kuno Suriah, Palmyra, yang terkenal akan reruntuhan era Romawi.

Dalam wawancara pada 2015, direktur UNESCO kala itu Irina Bokova mengatakan, penghancuran sejarah di Suriah dan Irak oleh ISIS sama dengan pembersihan budaya. Pada 2015, Dewan Keamanan PBB menyetujui resolusi yang melarang semua perdagangan barang antik dari Suriah dan menegaskan kembali larangan terhadap penjualan artefak Irak yang disetujui hampir 15 tahun lalu.[ka]

XS
SM
MD
LG