Tautan-tautan Akses

Kelaparan di Selatan Afrika Melonjak karena Perubahan Iklim dan Covid-19


Seorang perempuan berladang di tengah pembatasan wilayah untuk meredam pandemi virus corona (Covid-19), di Soweto, Afrika Selatan, 31 Juli 2020. (Foto: Reuters)
Seorang perempuan berladang di tengah pembatasan wilayah untuk meredam pandemi virus corona (Covid-19), di Soweto, Afrika Selatan, 31 Juli 2020. (Foto: Reuters)

Program Pangan Dunia (World Food Program/WFP), Senin (7/9), memperkirakan sekitar 45 juta orang di kawasan selatan Afrika mengalami rawan pangan. Badan PBB itu melaporkan jumlah orang di kawasan tersebut yang tidak punya akses ke makanan yang memadai, terjangkau dan bergizi naik 10 persen dari tahun lalu.

Dalam webinar yang digelar oleh Asosiasi Koresponden Asing Kawasan Selatan Afrika, organisasi bantuan internasional itu mengatakan pandemi virus corona, ditambah dengan perubahan iklim dan kesulitan ekonomi beberapa negara, adalah penyebab utama kerawanan pangan.

Direktur Program Pangan Dunia untuk kawasan selatan Afrika, Lola Castro, mengatakan Zimbabwe adalah negara yang terkena dampak paling parah, dengan jumlah orang yang rawan pangan diperkirakan mencapai 8,6 juta pada akhir tahun ini.

Dia mengatakan Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona, adalah keadaan darurat tambahan yang sangat merugikan mata pencaharian banyak orang miskin di kawasan tersebut. Penghentian kegiatan, imbuhnya, telah membuat sejumlah besar orang menganggur, sehingga meningkatkan kerawanan pangan.

Banyak petani, terutama perempuan, sangat terimbas dampak Covid-19 dan akibatnya pada produksi pangan. [lt/ft]

Recommended

XS
SM
MD
LG