Tautan-tautan Akses

Kelangkaan Pangan Selimuti 860.000 Pengungsi Muslim-Rohingya


Pengungsi Muslim Rohingya menunggu pembagian bantuan makanan di kamp Balukhali, Cox's Bazar, Bangladesh, 15 Desember 2017.

Sudah empat bulan sejak eksodus warga Muslim-Rohingya mulai terjadi setelah pemberontak melancarkan serangkaian serangan terhadap pos-pos polisi Myanmar di perbatasan.

Musim dingin tiba bagi lebih dari 650 ribu pengungsi Muslim-Rohingya yang melarikan diri dari penumpasan brutal pasukan Myanmar dalam empat bulan terakhir ini.

Rantai pasokan pangan dan tempat penampungan perlahan-lahan mulai teratur, tetapi antrian masih panjang, dan bahan pokok sangat kurang bagi keluarga besar yang memiliki anggota keluarga lebih dari delapan orang.

Fatima Noor yang baru tiba di Cox’s Bazaar Bangladesh mengatakan, “Mereka memberi kami 10-12 kilogram beras, tetapi itu tidak cukup. Ini yang mereka berikan kepada kami setiap bulan. Tetapi saya tidak mendapat lebih dari 10 kilogram beras.”

WFP Akui Pasokan Pangan Bagi Pengungsi Sangat Kurang

Program Pangan Sedunia WFP telah memberikan lebih dari 200 ribu ton beras bagi 185.000 kepala keluarga, tetapi mengakui bahwa itu tidak cukup.

Humas WFP di Bangladesh Shelly Thakral mengatakan, “Kami sebenarnya berusaha menarget keluarga yang memiliki anggota lebih banyak sehingga kami sedang mengupayakan peningkatan jatah untuk keluarga dengan 4-6 anggota keluarga, sementara mereka yang memiliki anggota keluarga lebih dari 8 orang akan mendapat jatah dua kali lebih besar. Kami perlu memenuhi kebutuhan orang-orang yang mengatakan kepada kami, ‘kami lapar, kami tidak mendapat cukup makanan."

Permukiman warga di sebuah Desa Rohingya dekat Maungdaw, Rakhine, Myanmar yang habis akibat dibakar (foto: dok).
Permukiman warga di sebuah Desa Rohingya dekat Maungdaw, Rakhine, Myanmar yang habis akibat dibakar (foto: dok).

Doctors Without Borders: Sedikitnya 6.700 Warga Muslim Rohingya Tewas dalam Serangan 4 Bulan Lalu

Survei kamp terbaru yang dilakukan kelompok HAM “Doctors Without Borders” melaporkan sedikitnya 6.700 warga Muslim-Rohingya tewas dalam serangan di Myanmar dan foto-foto satelit November lalu menunjukkan 40 desa lagi yang hancur, sehingga seluruhnya ada 354 desa yang hancur.

Seiring semakin banyaknya bukti yang muncul, konsensus di kalangan para pekerja krisis yang paling berpengalaman tidak mengherankan.

Salah seorang petugas Aservatham Florington mengatakan, “Setelah melewati berbagai situasi traumatis ini, melihat abang, kakak, ayah dan adik dibunuh di hadapan mereka, dan diperkosa; adalah tidak layak, menurut para warga Rohingya, bagi mereka untuk segera kembali ke desa-desa mereka.”

Jumlah Pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh Kini 860 Ribu Orang

Hingga Desember ini jumlah pengungsi di kamp-kamp itu mencapai hampir 860 ribu orang, termasuk mereka yang melarikan diri sebelum penumpasan terbaru. Pengungsi seperti Muhamid Amar tidak menunjukkan tanda bahwa ia bersiap-siap untuk pulang.

“Kami tidak ingin kembali ke Myanmar jika tidak memperoleh hak-hak kami. Jika kami kembali, mereka akan menyiksa, menembak dan membunuh kami. Jadi kami belum mau kembali,” ujarnya.

Pemerintah Myanmar sejak lama menyangkal tudingan melakukan kekejaman terhadap warga Muslim-Rohingya, tetapi belum jelas kapan kelompok minoritas Muslim itu bisa kembali ke desa-desa mereka. Sementara itu krisis kemanusiaan di kamp-kamp pengungsi tampaknya akan terus berlanjut hingga tahun 2018. [em/ds]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG