Tautan-tautan Akses

Kecemasan Ibu Hamil Meningkat Saat Pandemi Corona


Nancy Pedroza, 27 tahun, yang sedang hamil di rumah orang tuanya di Forth Worth Texas, di tengah pandemi virus corona, 5 April 2020. (Foto: Reuters)

Virus corona telah mengganggu rencana kehamilan dan meningkatkan kecemasan sebagian besar ibu hamil, yang mempertanyakan bagaimana dampak virus itu terhadap kelahiran bayi mereka. Dokter mengatakan, lebih banyak studi diperlukan untuk mengetahui dampak virus terhadap janin dan bayi. Namun yang terbaik untuk dilakukan ibu hamil saat ini adalah melakukan pembatasan sosial.

Kebanyakan ibu hamil merasa cemas jika melahirkan tanpa disertai orang-orang yang mereka kasihi di samping mereka.

Sebagian lagi kuatir takut terinfeksi COVID-19 dan tidak dapat memeluk bayi mereka.

Pandemi virus corona telah menambah kecemasan dan ketidakpastian ke dalam situasi yang mencemaskan. Walau ilmu pengetahuan tentang risiko itu menyakinkan, namun para dokter juga menginginkan jawaban yang jelas.

Info Sains dan Kesehatan: Kecemasan Ibu Hamil Meningkat Saat Pandemi Corona
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:34 0:00

Julia Moak, seorang penerbit, tinggal di Brooklyn bersama suaminya. Kehamilannya memasuki trimester kedua. Moak akan melahirkan bayinya pada bulan September.

Ia mengatakan, ia berupaya melakukan pembatasan sosial yang terbaik, yaitu dengan bekerja dari rumah dan menghindari tempat keramaian. Namun ia kuatir karena terbatasnya informasi yang tersedia.

"Saat ini saya kuatir bagaimana hal ini mempengaruhi kehamilan saya. Saya juga cemas bagaimana virus itu akan mempengaruhi, dampaknya terhadap proses persalinan, juga memiliki bayi," komentarnya.

Maureen Nicol, mahasiswa program S-3 di Universitas Colombia, New York, yang sedang mengandung bayi pertamanya, merubah total rencana persalinannya.

Ia merencanakan selama berbulan-bulan untuk melahirkan di rumah sakit Manhattan dengan dibantu seorang doula. Rencana itu berubah saat ia mengunjungi keluarganya di Maryland. New York tiba-tiba menjadi tempat pusat perebakan wabah corona di Amerika. Ia batal pulang kembali ke New York.

Nicole kini berlomba dengan waktu untuk mencari dokter baru beserta rumah sakit, membeli keperluan bayi dan mulai memikirkan kemungkinan untuk melahirkan dengan bantuan doula melalui telepon.

"Saya kemungkinan besar akan melahirkan tanpa dukungan dari orang, anggota keluarga, doula atau tamu. Selain itu, saya akan bersalin di tempat yang saya tidak tahu dengan orang (dokter) yang tidak saya kenal," jelas Nicole.

Dengan terbatasnya informasi, dokter berupaya memberi saran bagi para ibu hamil. Panduan dari Perhimpunan Dokter Kandungan Univeritas Amerika bagi Ibu dan Anak mengatakan, ibu hamil yang terinfeksi COVID-19 harus dianggap sebagai pasien yang beresiko tinggi. Ini dikarenakan ibu hamil yang terserang flu dan infeksi pernapasan lainnya beresiko terkena komplikasi, di antaranya kelahiran prematur dan cacat. Ada data terbatas yang menghubungkan infeksi COVID-19 dengan kehamilan dan kelahiran prematur.

Untuk membatasi resiko terinfeksi, sejumlah dokter kandungan melakukan pemeriksaan melalui telepon atau konferensi melalui video.

Pemerintah Amerika menyarankan rumah sakit seharusnya mulai memikirkan untuk memisahkan ibu yang terinfeksi virus dari bayinya, hingga hasil tes ibunya terbukti negatif.

Para pakar mengatakan, ibu yang terinfeksi virus masih diperbolehkan memberi ASI bagi bayinya, karena virus itu tidak tertular melalui ASI. Ibunya harus mencuci tangan dengan hati-hati, membersihkan payudaranya dan memompa ASI ke dalam botol susu. Orang lain yang akan memberikan ASI kepada bayinya, kata Dr. Christine Proudfit dari Universitas New York.

Sejumlah ibu hamil berupaya memajukan tanggal persalinan untuk menghindari rumah sakit sebelum terjadinya peningkatan kasus COVID-19 dan lainnya memutuskan untuk melakukan proses persalinan di rumah. [lj/lt]

XS
SM
MD
LG