Tautan-tautan Akses

AS

Kebijakan Trump Buat AS Keluar Jalur, Bahkan Sebelum Mundur dari Kesepakatan Paris

  • Steve Baragona

Presiden AS Donald Trump saat mengumumkan keputusan AS untuk mundur dari Kesepakatan Paris, 1 Juni 2017 di Gedung Putih, Washington. (AP Photo/Pablo Martinez Monsivais).

Presiden Donald Trump mengumumkan Amerika Serikat akan mundur dari Kesepakatan Paris yang membatasi emisi gas rumah kaca.

Di Paris, 197 negara mengakui perubahan iklim sebagai ancaman serius. Mereka pun sepakat untuk melakukan pemangkasan besar emisi gas rumah kaca.

Emisi global gas rumah kaca diperkirakan akan meningkat hingga 69 gigaton (milar ton) karbon diokasida (CO2) per tahunnnya menjelang tahun 2030 seandainya tidak ada usaha untuk memangkasnya. Kesepakatan Paris berusaha mengurangi laju itu menjadi 56 miliar ton.

Amerika berjanji akan menyumbang hingga seperlima dari pemangkasan tersebut. China, sebagai produsen gas rumah kaca terbesar di dunia, akan berkontribusi sebesar 27 persen. Sisanya akan diupayakan negara-negara penandatangan lainnya.

Sejak menjabat sebagai presiden AS, Donald Trump berusaha membatalkan kebijakan-kebijakan yang diambil untuk memenuhi janji AS tersebut, mulai dari mengizinkan pembangunan saluran pipa minyak Keystone XL yang kontroversial hingga memerintahkan revisi peraturan terkait emisi instalasi-instalasi pembangkit listrik yang dibuat oleh pemerintahan Barack Obama.

"Mungkin tak ada satupun peraturan yang mengancam para penambang kita, para pekerja energi kita dan perusahaan-perusahaan kita separah peraturan ini. Peraturan itu menindas industri Amerika,” kata Trump.

Menurut Andrew Light dari World Resource Institute, mundur dari Kesepakatan Paris hanyalah formalitas.

"Pemerintahan Trump telah mengisyaratkan bahwa mereka ingin merusak apa yang dilakukan pemerintahan sebelumnya dalam mencapai target-target nasional terkait perubahan iklim. Mereka akan melakukan itu sekalipun AS bertahan dengan Kesepakatan Paris,” jelas Andrew Light.

Namun Light mengatakan, emisi AS menurun sekalipun Trump meneruskan agendanya. Instalasi-instalasi pembangkit listrik kini beralih dari batubara ke gas alam yang lebih bersih. Di sejumlah wilayah, tenaga angin dan surya lebih dimanfaatkan dibanding bahan bakar fosil sebagai sumber listrik.

Menurutnya, kekuatan-kekuatan lain di luar kontrol Trump sebetulnya sedang mengarah menuju ekonomi rendah karbon.

"Banyak negara bagian, kota, dan bisnis sudah bergerak ke arah itu. Mereka akan melanjutkan kebijakan-kebijakan yang selama ini mereka jalankan tanpa memerdulikan kebijakan-kebijakan pemerintah sekarang. Jadi, dalam konteks iklim, tidak akan ada perubahan sangat besar. Kecuali jika negara-negara lain mundur dari Kesepakatan Paris karena mengikuti langkah AS,” imbuhnya.

Kepulan asap dari Merrimack Station, Pusat Listrik Tenaga Batubara di Bow, New Hampshire, 20 Januari 2015 (Foto: dok).
Kepulan asap dari Merrimack Station, Pusat Listrik Tenaga Batubara di Bow, New Hampshire, 20 Januari 2015 (Foto: dok).

China telah menyatakan akan bertahan dengan Kesepakatan Paris. India memiliki rencana ambisius untuk energi terbarukan.

Light mengatakan, dunia akan bisa memenuhi target-traget kesepakatan Paris tanpa AS.

“Jika China dan India mencapai target mereka sebelum 2030, sebagaimana diramalkan, ada banyak cara di dunia untuk menutupi kesenjangan itu. Namun saya tidak merasa nyaman dengan perhitungan itu,” jelasnya.

Kesepakatan Paris tidak cukup untuk menghindarkan dunia dari kemungkinan mencapai tingkat pemanasan global yang berbahaya, Lebih banyak tindakan perlu dilakukan, tetapi di bawah pemerintahan Presiden Trump, menurut Light, kemungkinan itu sangat kecil. [ab/lt]

XS
SM
MD
LG