Tautan-tautan Akses

Kasus Covid-19 Tinggi, Arab Saudi Batasi Haji 


Para jemaah melakukan salat Subuh berjamaah dengan tetap menjaga jarak aman di Masjidil Haram, Mekkah (foto: dok).
Para jemaah melakukan salat Subuh berjamaah dengan tetap menjaga jarak aman di Masjidil Haram, Mekkah (foto: dok).

Arab Saudi menjadi salah satu negara dengan tingkat infeksi virus corona tertinggi di Timur Tengah, dengan lebih dari 213 ribu penderita terkonfirmasi dan hampir dua ribu kematian hingga hari Selasa (7/7). Keadaan ini mendorong Arab Saudi untuk membatasi musim haji tahunan menjadi “ibadah dalam jumlah kecil dan terbatas.” Tata cara haji akan dilakukan sesuai dengan pedoman keamanan. Tetapi, para analis mengatakan, mengurangi jumlah jemaah haji diperkirakan akan memperburuk kemerosotan ekonomi kerajaan itu.

Kedutaan Besar Amerika di Riyadh telah mengatur penerbangan khusus untuk membawa warga Amerika, termasuk staf kedutaan dan anggota keluarga mereka keluar dari Arab Saudi karena infeksi virus corona yang meningkat tajam di negara itu.

Pada awalnya, kerajaan itu mengambil langkah-langkah keras untuk membendung pandemi COVID-19, tetapi seperti disampaikan kepada VOA oleh analis Timur Tengah Theodore Karasik dari Gulf State Analytics, ada faktor-faktor mitigasi lain yang berpengaruh di negara berpenduduk 30 juta itu.

“Di Arab Saudi, ini bukan sekedar karantina wilayah, tetapi Arab Saudi itu besar, dengan perbatasan yang mudah dilintasi. Penduduk bergerak bolak-balik melintasi perbatasan. Jadi, penyakit ini sulit dikendalikan. Wabah terjadi di Arab Saudi hanya karena satu atau dua orang yang terinfeksi mengunjungi orang lain dan akhirnya menginfeksi seluruh keluarga. Kelompok lain yang mengalami tingkat infeksi tinggi adalah para pekerja migran," ujarnya.

Arab Saudi kini mengizinkan ibadah haji yang sangat terbatas pada akhir Juli, dibandingkan dengan lebih dari dua juta jemaah dari lebih dari 180 negara yang biasanya mengikuti ibadah itu.

Dalam hubungan itu, Arab Saudi telah mengeluarkan pedoman baru bagi sekitar 1.000 orang yang akan menjalankan ibadah haji di Mekkah pada bulan ini. Pedoman yang secara resmi dikeluarkan hari Senin (6/7) di antaranya menyebutkan, jemaah haji hanya diperkenankan meminum air suci dari sumur Zamzam dalam kemasan botol yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Jemaah juga tidak diperkenankan mengambil sendiri batu-batu kecil untuk kegiatan jumrah (lempar batu) di Mina.

Pihak berwenang akan mempersiapkan terlebih dahulu batu-batu itu dalam kantung-kantung khusus. Batu-batu itu, menurut pedoman tersebut, akan disterilisasi terlebih dahulu.

Kegiatan haji tahun ini tidak akan diikuti jemaah dari luar negeri. Negara kerajaan itu mengumumkan sebelumnya, 70% jemaah yang diizinkan ikut haji tahun ini adalah warga asing yang tinggal di Arab Saudi sementara 30% lainnya adalah warga negara Saudi.

Pedoman baru itu juga menyebutkan, warga asing di Arab Saudi yang ingin ikut naik haji tahun ini harus berusia antara 20 dan 50 tahun, dan belum pernah melakukan ibadah haji sebelumnya.

Jemaah asal Saudi sendiri akan diseleksi dari para pekerja kesehatan dan personel keamanan yang telah pulih dari COVID-19. Menurut pemerintah langkah ini diambil sebagai apresiasi atas peran mereka selama wabah itu.

Arab Saudi adalah salah satu negara di Timur Tengah yang paling parah dilanda wabah virus corona. Setiap hari 3.000 hingga 4.000 penderita baru ditemukan. Lebih dari 213.000 orang telah tertular virus tersebut, termasuk 1.968 yang meninggal.

Banyak pihak khawatir bahwa ibadah yang biasanya diikuti oleh jemaah dalam jumlah besar itu bisa menjadi sumber penularan masif, kata Karasik. “Ibadah haji akan dilakukan sebagian besar untuk warga dalam negeri Arab Saudi. Hilangnya pendapatan dari penyelenggaraan ibadah haji tentu secara finansial akan merugikan mereka. Mereka akan mengencangkan ikat pinggang dan menjalani proses ini karena pada akhirnya, penjagaan tempat suci lebih penting daripada pendapatan,” tambahnya.

Dalam masa normal, para analis memperkirakan ibadah haji menambah 12 miliar dolar — sekitar tujuh persen — ke PDB Arab Saudi per tahun. Mereka mengatakan antara 25 hingga 30 persen pendapatan sektor swasta di daerah Mekkah dan Madinah sangat bergantung pada musim haji. [lt/ii]

XS
SM
MD
LG