Tautan-tautan Akses

AS

Kasus Covid-19 ‘Meningkat Pesat” di Kalangan Generasi Muda AS


Lindsey Pettita (ketiga dari kiri), manajer bar "The Jackalope" berbincang dengan petugas pengawas minuman alkohol Texas untuk memeriksa aturan jarak aman untuk meredam penyebaran virus corona (Covid-19), setelah bar buka kembali, di Austin, Texas, 22 Mei 2020. (Foto: dok)

India telah mencatat hampir 100 ribu kasus baru Covid-19 dalam satu hari. Negara di Asia Selatan ini pada hari Jumat (11/9) menyatakan ada 96.551 kasus baru dalam periode 24 jam sebelumnya. India kini mencatat total 4,5 juta kasus Covid-19.

Dengan catatan hampir 6,4 juta kasus, AS menjadi satu-satunya negara yang memiliki lebih banyak kasus daripada India.

Sementara itu di AS, kasus Covid-19 “meningkat dengan pesat di kalangan orang dewasa muda di AS,” demikian hasil riset Harvard yang diterbitkan di situs daring jurnal medis JAMA.

Kajian itu dilakukan terhadap 3.222 orang dewasa muda berusia antara 18 dan 34 tahun

Menurut penelitian tersebut, kelompok dewasa muda itu “menunjukkan tingkat terdampak yang signifikan: 21 persen perlu dirawat intensif, 10 persen memerlukan ventilator, dan 2,7 persen meninggal.”

Para pasien dengan gangguan kesehatan obesitas, hipertensi dan diabetes memiliki “risiko lebih tinggi mengalami dampak buruknya.” Kelompok dewasa muda yang memiliki lebih dari satu gangguan kesehatan, sebut para peneliti, “menghadapi risiko yang sebanding dengan risiko pada kelompok usia paruh baya yang tidak memiliki gangguan seperti itu.” Lebih dari separuh pasien yang memerlukan perawatan di rumah sakit adalah orang kulit hitam dan Hispanik.

Sebuah laporan terpisah dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular AS (CDC) menyatakan, suatu penelitian terhadap pasien simtomatik yang dirawat jalan di 11 fasilitas kesehatan di AS mendapati bahwa mereka yang dites positif terjangkit Covud-19 dua kali lipat lebih besar kemungkinannya menyatakan telah bersantap di restoran dibandingkan dengan mereka dengan hasil tes negatif.

PM Inggris Boris Johnson mengumumkan pekan ini bahwa pemerintahnya akan meluncurkan program ambisius, melakukan tes Covid-19 terhadap sedikitnya setengah juta orang setiap hari dengan hasil diketahui dalam beberapa menit saja. Johnson mengatakan ia berharap program tersebut akan mulai berlangsung sebelum tahun depan. Ia juga berharap hal itu akan membawa semacam situasi normal bagi Inggris dan memberi keleluasaan lebih besar bagi mereka dengan hasil tes negatif virus corona.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara pada konferensi pers virtual di Downing Street, London, 9 September 2020. (Foto: Reuters)
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara pada konferensi pers virtual di Downing Street, London, 9 September 2020. (Foto: Reuters)

Johnson menambahkan pengumuman mengenai prakarsa tes massal itu dengan perintah baru yang membatasi jumlah orang yang boleh hadir dalam sebagian besar pertemuan sosial menjadi enam, dari jumlah 30 orang yang sekarang ini berlaku.

Pembatasan baru ini akan mulai berlaku pekan depan, sementara Inggris mengalami lonjakan hampir 3.000 kasus baru Covid-19 setiap hari dalam beberapa pekan ini, angka-angka harian tertinggi sejak Mei lalu.

Pejabat Kesehatan Tertinggi Inggris Chris Whitty mengatakan restriksi baru itu kemungkinan besar akan berlaku selama beberapa bulan.

Johns Hopkins University melaporkan ada lebih dari 28 juta kasus Covid-19 di seluruh dunia dengan lebih dari 900 ribu kematian.

AS terus berada di posisi teratas dengan jumlah kasus lebih dari 6,4 juta dan lebih dari 191 ribu kematian. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG