Tautan-tautan Akses

Kantor HAM PBB Soroti Penyebaran Cepat Covid-19 di Penjara


Para napi di penjara Puraquequara kota Manaus, Brazil melakukan unjuk rasa memrotes kondisi penjara dan penyebaran Covid-19 di sana (2/5).

Kantor Hak Asasi Manusia PBB memperingatkan kepadatan yang berlebihan, kondisi yang tidak higienis, dan kurangnya perawatan medis di penjara di seluruh Amerika Utara dan Selatan menyebabkan COVID-19 dengan cepat menyebar di banyak fasilitas penahanan.

Para pejabat PBB tidak memberikan angka pasti tetapi mengatakan ribuan tahanan di seluruh wilayah Amerika Utara dan Selatan telah terinfeksivirus corona. Mereka mengatakan ketakutan akan penularan di antara populasi penjara dan kurangnya perawatan kesehatan yang memadai bagi yang jatuh sakit telah memicu kerusuhan mematikan di beberapa fasilitas penahanan.

Dalam insiden terbaru pada 1 Mei, laporan-laporan mengatakan 47 narapidana tewas dalam pemberontakan di penjara Los Llanos di Venezuela. Para tahanan juga terbunuh atau luka-luka dalam protes baru-baru ini di Peru dan Kolombia.

Juru bicara Hak Asasi Manusia, Rupert Colville, mengatakan banyak tahanan berusaha melarikan diri dari kondisi di bawah standar di fasilitas penahanan di Argentina, Brazil, dan Kolombia, Meksiko, dan Amerika.

"Skala dan bobotinsiden-insiden yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus negara belum mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegah kekerasan di fasilitas penahanan, dan juga menunjukkan bahwa para petugas mungkin telah melakukan kkerasan untuk memulihkan situasi di fasilitas-fasiltas ini," ungkapnya.

Lembaga HAMPBB ini meminta penyelidikan atas kematian dan korban luka-luka dalam kerusuhan itu. Mereka mendesak negara-negara untuk mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegah penyebaran virus corona dengan memastikan kondisi sanitasi, pengujian luas dan perawatan kesehatan bagi para narapidana.

Colville mengatakan tingginya jumlah infeksi COVID-19 yang tercatat di penjara di Amerika merupakan masalah utama mengingat banyaknya orang yang dipenjara, sekitar 2,3 juta. Ia mengatakan kekhawatiran besar lainnya adalah banyaknya orang yang ditahan di pusat penahanan imigrasi.

“Kami khawatir mungkin tidak cukup pengujian dilakukan di pusat imigrasi itu. Katanya banyak orang dibebaskan. Saya tidak punya angka tepatnya tetapi sepertinya ada puluhan ribu orang telah dibebaskan di seluruh negeri,” tambahnya.

Colville mengatakan kondisi di pusat penahanan dan penjara harus dipantau secara teratur oleh badan independen. Ia menambahkan tahanan yang terinfeksi COVID-19 harus dimasukkan ke dalam isolasi tanpa hukuman atau dikarantina di fasilitas di mana mereka bisa mendapat perawatan medis yang sesuai. [my/ii]

XS
SM
MD
LG