Tautan-tautan Akses

Kampanye Kontraterorisme jadi Agenda Tillerson di Eropa

  • Dorian Jones

Menlu AS Rex Tillerson (kiri) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelum pertemuan di Ankara, Turki, Rabu (30/3).

Menteri Luar Negeri Amerika Rex Tillerson hari Kamis (30/3) bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu. Sementara itu, Amerika dan sekutu-sekutunya mempelajari langkah-langkah berikutnya dalam kampanye untuk mengalahkan militan ISIS dan menstabilkan krisis pengungsi dengan sekutu-sekutu di kawasan.

Berbicara bersama sejawatnya Cavusoglu seusai pertemuan, Tillerson mengatakan, diskusi mereka adalah mengenai membangun tiga tujuan bersama untuk jangka panjang, yaitu bekerjasama mengalahkan ISIS, membangun stabilitas di kawasan, dan meningkatkan hubungan ekonomi antara kedua negara.

Namun, Amerika dan Turki masih bertentangan mengenai dukungan Amerika terhadap kelompok Kurdi Suriah (PYD) dan pasukan milisinya, YPP dalam memerangi militan ISIS. Turki menuduh PYD sebagai organisasi teroris yang berafiliasi kepada PKK yang memerangi negara Turki.

Dalam konferensi pers bersama, Menlu Turki Mevlut Cavusoglu menekankan tentangan Turki atas dukungan AS bagi PYD tapi tidak secara langsung mengacam pemerintahan Trump. Tillerson mengakui tidak ada terobosan mengenai perselisihan itu dan mengatakan perlu diskusi lebih banyak, namun menekankan dukungan Amerika terhadap Turki dalam melawan PKK.

“Kami membela Turki dalam usaha menghentikan aksi teror yang diarahkan kepada Turki dan rakyatnya. Serangan-serangan PKK di Turki tahun lalu mengingatkan kita bagaimana dampak ancaman serangan itu bagi rakyat Turki. Kami menyampaikan belasungkawa bagi mereka yang tewas dan kehilangan orang-orang yang dikasihi karena teror PKK,” ujar Tillerson.

Tillerson menghargai Turki yang menampung tiga juta pengungsi dan mengatakan pembicaraannya terfokus pada upaya-upaya untuk memungkinkan pemulangan mereka.

“Itu adalah perbincangan kami hari ini, bertukar pandangan, cara terbaik untuk menciptakan zona stabilisasi yang memungkinkan rakyat kembali ke Suriah. Dan merencanakan solusi politik jangka panjang,” imbuhnya.

Pandangan Turki mengenai zona stabilisasi tidak berbeda dengan permintaannya bagi penciptaan tempat-tempat perlindungan.

Sebelum kedatangan Tillerson, Perdana Menteri Turki Binali Yildrim mengumumkan diakhirnya operasi militer Turki di Suriah dan menyebutnya sukses.”Operasi Tameng Efrata” menjadi pangkal ketegangan dengan Amerika karena pasukan Turki mengancam pasukan Kurdi Suriah, PYD.

Dalam perjalanannya kemudian, diplomat tertinggi Amerika itu akan menekan sekutu-sekutunya di NATO agar menunjukkan kesediaan untuk meningkatkan belanja pertahanan, dalam pertemuan pertamanya dengan mitra-mitranya dari blok keamanan ini.

Pasukan pimpinan Amerika meningkatkan kampanye mereka untuk merebut kembali kota Raqqa di Suriah dari militan ISIS.

Menstabilkan daerah-daerah yang telah ditinggalkan militan dan memungkinkan pengungsi kembali ke tempat tinggal mereka menjadi agenda penting bagi Amerika dan mitra-mitra koalisinya yang anti-ISIS.

Tillerson juga berusaha meneruskan kemajuan yang telah dicapai dalam pertemuan dengan mitra-mitra koalisinya pekan lalu di Washington. [uh/lt]

XS
SM
MD
LG