Tautan-tautan Akses

AS

Kajian Baru Tunjukkan Pembunuhan di AS Meningkat pada Tahun 2020


Seorang petugas membawa brankar kosong di lokasi dugaan pembunuhan di wilayah Brooklyn, New York, AS, 7 September 2020. (Foto: dok).

Suatu kajian baru mengindikasikan jumlah pembunuhan meningkat tajam di AS pada tahun 2020 dan menduga pandemi COVID-19 serta ketidakadilan rasial berperan dalam hal tersebut.

Kajian yang diterbitkan Senin (1/2) oleh Komisi Nasional mengenai Kejahatan dan COVID-19 dan Peradilan Pidana, dilakukan para peneliti kriminologi di University of Missouri-St. Louis. Kajian ini mempelajari tingkat kejahatan di 34 kota berbagai ukuran, mulai dari Kota New York hingga Norfolk di Virginia.

Hasilnya, peneliti mendapati apa yang disebut sebagai kenaikan 30 persen yang “bersejarah” dalam kasus pembunuhan pada tahun 2020 dibandingkan dengan pada tahun 2019, dengan 1.268 kematian lebih banyak di kota-kota sampel itu dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pembunuhan meningkat di 29 dari 34 kota yang diteliti. Pembunuhan di Milwaukee naik 85 persen, Seattle 63 persen, Chicago 55 persen dan Kota New York 43 persen.

Penelitian itu juga mendapati terjadinya kenaikan penganiayaan berat dan serangan dengan senjata.

Petugas medis membawa pasien dengan brankar di Life Care Center of Kirkland, fasilitas perawatan jangka panjang untuk pasien COVID-19 di Kirkland, Washington, AS 5 Maret 2020. (REUTERS / Lindsey Wasson)
Petugas medis membawa pasien dengan brankar di Life Care Center of Kirkland, fasilitas perawatan jangka panjang untuk pasien COVID-19 di Kirkland, Washington, AS 5 Maret 2020. (REUTERS / Lindsey Wasson)

Salah seorang penulis utama penelitian itu mengatakan kepada Associated Press, ia meyakini sebagian dari masalahnya adalah pandemi yang memaksa polisi tidak turun ke jalan-jalan di berbagai penjuru negara ini. Bahkan ketika sedang bertugas pun, ketentuan mengenai social distancing membuat polisi tidak dapat berinteraksi dekat dengan masyarakat.

Ia mengatakan, “Ini benar-benar mengurangi kemampuan aparat penegak hukum untuk terlibat dalam tindakan pengawasan proaktif yang dapat mengurangi kejahatan.”

Penelitian ini mendapati bahwa pandemi “secara tidak proporsional mempengaruhi populasi yang rentan, membuat individu-individu yang berisiko mendapat tambahan tekanan fisik, mental, emosional dan keuangan.”

Para peneliti menyatakan virus juga membatasi kemampuan polisi, pengadilan, rumah sakit dan entitas lain yang bertugas menanggapi kekerasan, dan menghambat upaya mengurangi kekerasan.

Seorang Polisi Kota New York (NYPD) mengenakan masker saat menjaga keamanan di sekitar Sheep Meadow, Central Park di tengah pandemi COVID-19 di Manhattan, New York, AS, 15 Mei 2020.
Seorang Polisi Kota New York (NYPD) mengenakan masker saat menjaga keamanan di sekitar Sheep Meadow, Central Park di tengah pandemi COVID-19 di Manhattan, New York, AS, 15 Mei 2020.

Menurut para peneliti, upaya mengatasi pandemi, meningkatkan kepercayaan pada polisi dan sistem peradilan, serta penerapan strategi antikekerasan yang telah terbukti, akan diperlukan untuk mencapai situasi damai yang bertahan lama di berbagai kota.

Para penulis kajian itu menyatakan statistik kejahatan diperoleh dari portal online departemen kepolisian kota. Informasi itu bisa direvisi, dan klasifikasi mengenai pelanggaran sedikit bervariasi di antara berbagai kota. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG