Tautan-tautan Akses

Jumlah Korban Tewas dalam Konflik Armenia-Azerbaijan Bertambah


Posisi garis depan Tentara Armenia di wilayah Tavush, Armenia, 14 Juli 2020. (Foto: dok).
Posisi garis depan Tentara Armenia di wilayah Tavush, Armenia, 14 Juli 2020. (Foto: dok).

Pertempuran sengit antara pasukan Azerbaijan dan Armenia pada Senin (28/9) memicu retorika permusuhan dari Turki, meskipun ada seruan internasional untuk dihentikannya pertikaian antar negara-negara yang bermusuhan itu.

Armenia dan Azerbaijan terlibat dalam sengketa wilayah terkait etnik Armenia di wilayah Nagorny Karabakh selama puluhan tahun, dengan pertempuran mematikan pecah awal bulan Juli lalu dan pada 2016.

Wilayah itu mendeklarasikan kemerdekaan dari Azerbaijan setelah perang pasa awal 1990an yang menewaskan 30.000 orang. Tapi kemerdekaan itu tidak diakui oleh negara manapun termasuk Armenia -- dan masih dianggap sebagai bagian dari Azerbaijan oleh masyarakat internasional.

Pertikaian antara Azerbaijan yang didominasi Muslim dan Armenia yang didominasi Kristen bisa melibatkan pemain regional seperti Rusia, yang memiliki aliansi militer dengan Armenia dan Turki, yang mendukung Azerbaijan.

Kementerian pertahanan Karabakh mengatakan 27 tentara tewas dalam pertempuran Senin (28/9) -- sehingga jumlah korban militer mencapai 58. Jumlah korban tewas keseluruhan naik menjadi 67, termasuk 9 warga sipil: 7 di Azerbaijan dan 2 di sisi Armenia.

Azerbaijan belum melaporkan adanya korban militer, tapi para pejabat separatis Armenia merilis video yang memperlihatkan beberapa kendaraan terbakar dan jenazah sejumlah tentara yang katanya merupakan tentara Azerbaijan.

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, Senin (28/9) memerintahkan mobilisasi parsial dan Jenderal General Mais Barkhudarov berjanji untuk "berperang hingga tetes darah terakhir untuk benar-benar menghancurkan musuh dan menang."

Para pemimpin dunia menyerukan ketenangan. Mereka mengkhawatirkan konflik skala penuh. Juru bicara pemerintah Rusia Dmitry Peskov mengatakan Rusia mencermati situasinya dan bahwa prioritas utamanya adalah "menghentikan permusuhan, bukan berurusan dengan siapa yang benar atau salah."

Tapi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuntut Armenia menghentikan "pendudukan" di Karabakh. "Sudah waktunya krisis di kawasan yang dimulai akibat pendudukan Nagorny Karabakh untuk diakhiri," kata Erdogan. "Kini Azerbaijan harus mengatasinya sendiri."

Armenia telah menuduh Turki ikut campur dalam konflik itu dan mengirim para prajurit upahan ke Azerbaijan. Sebuah organisasi pengawas perang mengatakan Turki telah mengirim sedikitnya 300 proksi dari Suriah utara untuk bergabung dengan pasukan Azerbaijan. [vm/lt]

XS
SM
MD
LG