Tautan-tautan Akses

Jumlah Imigran Ilegal yang Ditahan di AS Meningkat


Amanda Ordonez (tengah) dan pengasuhnya, Veronica Velazquez, menunggu sidang dengar pendapat di Santa Fe, New Mexico, dengan para anggota DPD mengenai kondisi fasilitas penahanan federal di negara bagian itu, 16 Juli 2018.
Amanda Ordonez (tengah) dan pengasuhnya, Veronica Velazquez, menunggu sidang dengar pendapat di Santa Fe, New Mexico, dengan para anggota DPD mengenai kondisi fasilitas penahanan federal di negara bagian itu, 16 Juli 2018.

Jumlah imigran tanpa dokumen yang ditahan di Amerika terus meningkat. Mereka ditahan dalam jangka waktu lebih lama tanpa mendapat perlindungan hukum, sebagaimana yang diberikan kepada penjahat. Inilah temuan laporan terbaru yang dikeluarkan kelompok aktivis imigrasi.

Dalam dua puluh tahun terakhir, jumlah rata-rata imigran yang ditahan setiap hari telah meningkat, dari kurang 7 ribu orang pada 1994, menjadi lebih dari 44 ribu pada 2018.

Kebijakan-kebijakan imigrasi garis keras pemerintahan Trump telah mempercepat tren ini.

Menteri Urusan Keamanan Dalam Negeri Kirstjen Nielsen membela kebijakan imigrasi yang bersifat menjatuhkan hukuman, dan bertekad untuk menahan, menuntut dan memulangkan siapapun yang memasuki Amerika secara ilegal.

“Berdasarkan UU di Amerika, ingin mencari pekerjaan bukan alasan untuk mencari suaka,” kata Nielsen.

Tetapi sebuah kelompok aktivis imigrasi yang independen, Dewan Imigrasi Amerika AIC, mengatakan kebijakan-kebijakan ini telah membuat jumlah pelanggaran HAM melesat, mulai dari pemisahan keluarga secara paksa, kondisi penahanan yang tidak manusiawi dan kurangnya akses untuk mendapat bantuan penasehat hukum.

“Kami bicara soal hak-hak manusia yang paling mendasar dan kurangnya perlindungan hukum minimum yang seharusnya didapatkan siapa pun di tempat penahanan mana pun,” kata Kathryn Shepherd, akvtivis dari Dewan Imigrasi Amerika.

Awal tahun ini kebijakan “zero tolerance” Presiden Donald Trump telah membuat siapa pun yang menyebrangi perbatasan secara ilegal akan dituntut sebagai penjahat, membuat anak-anak dipisahkan secara paksa dari orang tua mereka. Trump menghentikan kebijakan ini setelah menuai kecaman luas publik.

Pada masa lalu pencari suaka dapat kembali ke komunitas lokal mereka sementara menunggu persidangan. Tetapi pemerintah Trump telah memaksa mereka tetap berada di dalam tahanan hingga kasusnya selesai ditangani.

Edafe Okporo, seorang aktivis gay yang melarikan diri dari Nigeria karena aksi kekerasan terhadap kaum gay di negaranya, terkejut ketika ia ditahan selama lima bulan setelah mengajukan suaka pada 2017.

“Saya diberitahu bahwa saya akan dibawa ke penjara. Jadi pada awalnya saya ingin kembali ke Nigeria saja karena belum pernah dipenjara sebelumnya. Saya ingin tahu kenapa saya akan dipenjara? Ini benar-benar mengejutkan saya,” kata Edafe Okporo.

Dewan Imigrasi Amerika mengatakan para pencari suaka resmi sebenarnya tidak perlu ditahan.

“Banyak orang yang berada di tempat tahanan itu sebenarnya tidak berisiko melarikan diri, tidak berbahaya bagi komunitas kita, dan banyak diantara mereka yang telah menunjukkan bahwa ada tempat yang ingin mereka tuju dan bahwa mereka akan datang pada sidang dengar pendapat berikutnya,” kata Kathryn.

Laporan Dewan Imigrasi Amerika itu mengecam proses penahanan imigrasi karena kurangnya “akuntabilitas dan transparansi publik” dan menimbulkan kekhawatiran tentang “kondisi fasilitas tahanan yang tidak memenuhi syarat atau berbahaya,” terutama fasilitas tahanan yang dioperasikan secara pribadi. Fasiltas-fasilitas penahanan yang dikelola secara pribadi, menurut para kritikus, telah memangkas biaya pelayanan yang diberikan dan memperpanjang masa tahanan untuk meningkatkan laba yang mereka peroleh. [em]

XS
SM
MD
LG