Tautan-tautan Akses

Jepang Mulai Perluas Pembatasan untuk Cegah Lonjakan Kasus COVID-19


Pejalan kaki yang mengenakan masker pelindung, di tengah pandemi COVID-19, berjalan di pusat perbelanjaan di ibu kota prefektur Naha, di pulau selatan Okinawa, Prefektur Okinawa, Jepang, 24 Oktober 2021. (Foto: Reuters)
Pejalan kaki yang mengenakan masker pelindung, di tengah pandemi COVID-19, berjalan di pusat perbelanjaan di ibu kota prefektur Naha, di pulau selatan Okinawa, Prefektur Okinawa, Jepang, 24 Oktober 2021. (Foto: Reuters)

Restoran dan bar tutup lebih awal di Tokyo dan 12 kawasan lain di sekitarnya mulai Jumat (21/1). Jepang memperluas pembatasan COVID-19 karena varian omicron menyebabkan jumlah kasus melonjak ke level tertinggi baru di wilayah metropolitan tersebut.

Pembatasan itu, yang dianggap sebagai langkah prakeadaan darurat, adalah yang pertama sejak September lalu dan dijadwalkan berlangsung hingga 13 Februari.

Dengan tiga prefektur lainnya -- Okinawa, Hiroshima dan Yamaguchi – yang telah memulai tindakan serupa sejak awal Januari, pembatasan saat ini mencakup 16 kawasan atau sepertiga dari wilayah negara itu.

Sementara banyak orang dewasa Jepang telah divaksinasi penuh, hanya sedikit yang sudah mendapat booster, yang dianggap menjadi perlindungan penting dari varian omicron yang sangat menular.

Orang-orang berjalan melintasi persimpangan Shibuya yang terkenal saat salju turun Kamis, 6 Januari 2022, di Tokyo. (Foto: AP)
Orang-orang berjalan melintasi persimpangan Shibuya yang terkenal saat salju turun Kamis, 6 Januari 2022, di Tokyo. (Foto: AP)

Kementerian Kesehatan pada hari Jumat menyetujui penggunaan vaksinasi Pfizer untuk anak-anak berusia 5-11 tahun.

Selama pandemi, Jepang telah menolak menerapkan lockdown untuk membatasi penyebaran virus. Negara itu berfokus pada kebijakan yang mengharuskan restoran tutup lebih awal dan tidak menyajikan alkohol, serta mendesak masyarakat untuk memakai masker dan mempraktikkan jarak sosial, karena pemerintah berupaya untuk meminimalkan kerusakan ekonomi.

Berdasarkan pembatasan terbaru, sebagian besar restoran diminta tutup pada pukul 8 atau 9 malam, sementara acara-acara besar masih dapat diselenggarakan dengan kapasitas penuh sepanjang penyelenggaranya mempraktikkan langkah-langkah pencegahan penyebaran virus. Di Tokyo, restoran bersertifikat yang tidak menyajikan alkohol dapat tetap buka hingga pukul 21.00, sedangkan yang menyajikan minuman beralkohol harus tutup satu jam lebih awal.

Restoran yang tutup pada pukul 21.00 waktu setempat dan tidak menyajikan alkohol menerima 30.000 yen ($263) per hari sebagai kompensasi pemerintah, sedangkan yang tutup pada pukul 20.00, mendapatkan kompensasi 25.000 yen ($220) per hari.

Para kritikus mengatakan tindakan itu, yang hampir secara eksklusif menargetkan bar dan restoran, tidak masuk akal dan tidak adil.

Mitsuru Saga, manajer restoran Izakaya di pusat kota Tokyo, mengatakan ia memilih untuk menyajikan alkohol dan tutup pada pukul 8 malam. meskipun menerima kompensasi yang lebih sedikit dari pemerintah.

''Kami tidak bisa berbisnis tanpa menyajikan alkohol,'' kata Saga dalam wawancara dengan Nippon Television. ''Sepertinya hanya restoran yang menjadi sasaran pembatasan.''

Beberapa ahli mempertanyakan efektivitas pembatasan hanya pada restoran. Menurut mereka, jumlah infeksi di tiga prefektur yang telah dikenai tindakan itu selama hampir dua pekan tidak menunjukkan tanda-tanda yang melambat.

Setelah lebih dari dua tahun berulang kali dihadapkan pada pembatasan, orang-orang Jepang semakin menjadi kurang kooperatif terhadap tindakan tersebut. Orang-orang kembali bepergian dengan kereta yang penuh sesak dan berbelanja di toko-toko yang ramai.

Stasiun kereta api utama Tokyo, Shinagawa, penuh sesak seperti biasa dengan para komuter yang bergegas berangkat bekerja pada Jumat pagi. [ab/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG