Tautan-tautan Akses

Jepang Bereaksi terhadap Klaim Peretasan Rencana Olimpiade


Logo Olimpiade 2020. (Foto: VOA)
Logo Olimpiade 2020. (Foto: VOA)

Jepang pada hari Selasa (20/10) menyatakan tidak bisa mengabaikan "serangan siber berbahaya yang mampu mengguncang landasan demokrasi", setelah muncul tuduhan bahwa intelijen Rusia telah merekayasa kampanye siber untuk mengacau Olimpiade Tokyo.

Departemen Kehakiman Amerika pada hari Senin (19/10) mengumumkan dakwaan terhadap pejabat intelijen Rusia dalam serangan siber yang menarget Olimpiade Tokyo 2020, pemilihan presiden Prancis, dan bisnis Amerika.

Pemerintah Inggris juga mengatakan bahwa negara itu adalah yang pertama mengungkap skala operasi tersebut, dan merilis pernyataan pada hari Senin yang merinci temuannya.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Katsunobu Kato menolak mengomentari detail kasus tertentu, tetapi mengatakan para pejabat sudah mengambil langkah-langkah keamanan siber.

"Pemerintah telah melakukan manajemen risiko oleh operator acara, selain membentuk dan mengoperasikan pusat koordinasi tanggap keamanan siber yang berfungsi sebagai pusat komando untuk berbagi informasi."

Di Amerika, enam orang dinyatakan bersalah melakukan peretasan. Menurut jaksa, orang-orang yang saat ini aktif atau pernah menjabat di badan intelijen militer Rusia, dikenal sebagai GRU, itu hendak memajukan kepentingan geopolitik Rusia, sementara menggoyahkan atau menghukum pihak-pihak yang dianggap musuh. [ka/ab]

XS
SM
MD
LG