Tautan-tautan Akses

AS

Jenderal AS: Kiprah Google di China Hanya Untungkan Militer China


ARSIP – Bendera China tampak berkibar dekat logo Google di kantor pusat Google di Beijing, China, Jumat, 22 Januari 2010 (foto: AP Photo/Ng Han Guan)

Seorang jenderal senior AS menyatakan hari Kamis militer China mengambil manfaat dari kiprah Google yang berada di bawah Alphabet Inc di China, dimana raksasa teknologi tersebut sejak lama berusaha untuk lebih mengembangkan kehadirannya di sana.

“Kiprah Google di China secara tidak langsung menguntungkan militer China,” ujar Jendral Marinir Joseph Dunford, ketua Staff Gabungan Militer AS, dalam sidang dengar Komite Angkatan Bersenjata di Senat AS.

“Kami terus mengamati dengan keprihatinan mendalam saat mitra industri berkiprah di China dimana kami mengetahui ada manfaat tidak langsung,” ujarnya.

“Jujur saja, ‘manfaat tidak langsung’ tidak menggambarkan kenyataan yang sebenarnya, gambaran yang sebenarnya lebih kepada manfaat langsung bagi militer China.”

Tahun lalu Google menyatakan pihaknya tidak lagi ikut berkompetisi untuk memenangkan kontrak komputasi awan dengan Departemen Pertahanan AS senilai $10 miliar, sebagian karena pedoman etika perusahaan yang baru tidak sesuai dengan proyek tersebut.

Bulan Juni, Google menyatakan pihaknya tidak akan memperpanjang kontrak untuk membantu militer AS menganalis citra udara dari pesawat nirawak saat kontrak itu berakhir, saat perusahaan tadi berusaha untuk menenangkan hiruk-pikuk internal terhadap kesepakatan itu.

Di waktu yang sama, Google mengatakan pihaknya “tidak berencana” untuk meluncurkan ulang mesin pencari di China meskipun perusahaan itu terus mempelajari gagasan tersebut.

Selama sidang dengar, Senator dari Partai Republik, Josh Hawley, melontarkan kritikan tajam kepada perusahaan teknologi itu, dengan mengatakan perusahaan “yang seharusnya perusahaan Amerika.”

ARSIP – Sen. Josh Hawley, R-Mo, berbicara dalam sidang dengar di Komite Kehamiman Senat di Washington, 6 Maret 2019.
ARSIP – Sen. Josh Hawley, R-Mo, berbicara dalam sidang dengar di Komite Kehamiman Senat di Washington, 6 Maret 2019.

Perusahaan-perusahaan teknologi akhir-akhir ini menjadi target favorit banyak anggota Kongres AS, yang mengritik mereka atas beragam persoalan seperti privasi, kiprah mereka di China, dan membiarkan campur tangan asing di berbagai pemilihan umum di AS.

Para pembuat undang-undang dan karyawan Google telah menyuarakan keprihatinan mereka bahwa perusahaan akan tunduk pada kebijakan penyensoran internet dan pengintaian oleh pemerintah China apabila perusahaan itu memasuki kembali pasar mesin cari di negeri Asia tersebut.

Saat ditanya tentang komentar Dunford, Google merujuk pada pernyataan-pernyataan terdahulu.

Ketua Eksekutif Google, Sundar Pichai, sebelumnya telah mengatakan perusahaan tersebut telah berinvestasi selama bertahun-tahun di China dan berencana untuk terus melakukannya, namun perusahaan itu juga terus bekerja bersama pemerintah AS dalam proyek-proyek layanan kesehatan, keamanan siber, dan di bidang-bidang lainnya. [ww/fw]

XS
SM
MD
LG