Tautan-tautan Akses

Jelang Deportasi, Migran Dilanda Kekhawatiran dan Kebingungan


Para migran antri menunggu pembagian makanan di Idomeni, Yunani. Mereka kini khawatir akan dideportasi ke Turki, sesuai perjanjian antara Uni Eropa-Turki untuk mengatasi krisis migran di Eropa.
Para migran antri menunggu pembagian makanan di Idomeni, Yunani. Mereka kini khawatir akan dideportasi ke Turki, sesuai perjanjian antara Uni Eropa-Turki untuk mengatasi krisis migran di Eropa.

Para migran yang terjebak di lokasi yang sebelumnya adalah kamp pengungsi di Yunani, kini khawatir akan dideportasi ke Turki.

Ahmed dan Mustafa sebelumnya adalah tentara di militer Suriah, tetapi mereka tidak ingin membunuh sesama warga Suriah. Keduanya melarikan diri dari dinas ketentaraan, negara dan kemudian seperti jutaan warga lainnya bertahan hidup dengan sebuah perahu karet, menyebrang laut menuju ke Eropa.

Kini mereka terjebak di lokasi yang sebelumnya adalah kamp pengungsi, khawatir akan dideportasi ke Turki. “Di sini kotor dan sangat penuh sesak”, ujar Mustafa, “tetapi lebih baik dibandingkan kembali ke Turki,” tambahnya.

“Setiap orang di sini ketakutan”, ujar Ahmed.

Perjanjian Uni Eropa-Turki untuk memperlambat arus migran ke Eropa diperkirakan akan dimulai hari Senin (4/4), dengan pemulangan ratusan migran dan pengungsi ke Turki. Menurut berita-berita lokal, jumlah tentara dan pengungsi di kapal-kapal mungkin akan sama banyaknya.

Menurut para pekerja bantuan dan pengungsi, sejumlah migran asal Pakistan sudah dideportasi ke Turki. Dengan tangan diborgol dan dikelilingi tentara dan polisi, mereka dimasukkan ke dalam beberapa bis dan dipulangkan dengan kapal ke bagian utara Yunani, sebelum meninggalkan negara itu.

Komisariat PBB Urusan Pengungsi UNHCR mengatakan pada dasarnya tidak menentang deportasi itu, tetapi tidak mendukung rencana sebagaimana yang ada dalam perjanjian itu. Pemulangan imigran illegal dengan cara yang teratur adalah bagian dari sistem pengungsi yang berfungsi baik, ujar Boris Cheshirkov – juru bicara UNHCR di Lesbos.

“Kami menentang kurangnya pedoman yang jelas ketika menerapkan perjanjian itu,” ujar Cheshirkov, yang duduk di sebuah kursi beberapa meter dari dermaga.

“Kita perlu melihat perluasan kapasitas sistem pencari suaka di Yunani,” cetusnya.

Untuk mengatur deportasi secara manusiawi – menurut Cheshirkov – perlu ada proses banding individual bagi orang-orang yang ingin menyampaikan keberan atas kasusnya ke pihak berwenang.

Di pusat penampungan, beberapa pengungsi mengatakan tidak ada yang tahu siapa yang akan dipulangkan atau bagaimana proses memilih siapa yang dipulangkan dan siapa yang tidak. Bagi sebagian migran – seperti Mustafa yang pergi bersama istri dan kedua anaknya – inisiatif memulangkan kembali para migran ke Turki jelas memilukan.

“Abang dan adik saya di Jerman. Saya seharusnya bersama mereka”, ujar Mustafa.

Sekelompok anak muda dari Maroko, Mesir dan Suriah hari Sabtu (3/4) berkumpul di sebuah bukit yang menghadap ke pelabuhan, untuk menyaksikan kedatangan kapal-kapal yang akan memulangkan para migran.

Pertama, mereka melihat sebuah bis dikelilingi oleh sedikitnya 100 polisi dan tentara yang dimasukkan ke kapal dan berlayar ke arah utara. Mereka mengatakan para migran itu tampaknya warga Pakistan. Pemulangan migran lainnya baru akan dimulai hari Senin.

Anak-anak muda ini adalah sebagian dari ratusan migran dan pengungsi yang berada di luar tempat penampungan. Polisi tahu dimana mereka tinggal, yaitu di sebuah kamp darurat di dekat laut yang tidak jauh dari kota.

“Hari Senin ini kami semua harus pergi ke Moria,” ujar Hesham – yang menjelaskan bahwa pihak berwenang telah memerintahkan mereka untuk meninggalkan kamp darurat dimana mereka bebas keluar masuk, dan pindah ke pusat penampungan.

Pihak berwenang kerap menyebut pusat penampungan itu sebagai “fasilitas tertutup”. Namun warga Turki hingga Swedia menyebutnya sebagai “penjara”.

“Ini bukan kamp, ini penjara,” ujar Abdelkhader – remaja dari Suriah, ketika kapal menuju ke Yunani tampak di kejauhan. “Tidak ada kebebasan di Yunani”.

Dalam beberapa bulan ini, ratusan ribu dolar telah dikucurkan untuk membangun infrastruktur guna membantu para pengungsi di Lesbos.

Sukarelawan dari seluruh belahan dunia bekerja silih berganti di pantai dan tempat-tempat penampungan, menyambut migran yang baru tiba dengan perahu-perahu karet dan memberikan selimut dan pakaian hangat, atau memberi makanan dan pakaian, sebelum ditempatkan di tempat penampungan.

Kini para sukarelawan menanti kapal-kapal yang tidak merapat ke dermaga. Beberapa bis polisi justru membawa migran, melintasi para pekerja kemanusiaan, menuju ke kapal tersebut.

“Ini menyedihkan”, ujar Margareth Woodfall – sukarelawan di “Lighthouse Relief” yang membawa keluarganya dari Kanada supaya bisa membantu para pengungsi. “Ada sumber daya yang sangat besar yang sesungguhnya bisa digunakan dan orang-orang tersebut justru berdesak-desakan di kamp”.

Beberapa menit kemudian kelompoknya berjalan melintasi pantai berbatu di Lesbos. Mereka melanjutkan pekerjaan sulit mengumpulkan perahu-perahu karet dan baju pelampung yang tersebar sejauh mata memandang.

Woodfall – seperti juga sukarelawan lainnya – berencana pergi ke ibukota Mytilini untuk menyaksikan langsung kelompok pertama yang akan dideportasi. Mereka berharap kehadiran para sukarelawan dan pekerja bantuan dari pulau itu akan dipandang sebagai protes dan sekaligus dukungan terhadap deportasi tersebut.

‘’Saya kira ini gila. Deportasi ini bertentangan dengan segala bentuk konvensi tentang pengungsi," ujar Woodfall merujuk pada hukum internasional yang melarang pemulangan kembali pengungsi ke situasi berbahaya yang sebelumnya membuat mereka melarikan diri.

Amnesti Internasional menuduh Turki memaksa warga Suriah dan Irak kembali ke negara mereka, dan mengatakan Uni Eropa berada dalam situasi berbahaya karena mengabaikan dan mendorong terjadinya pelanggaran HAM serius dengan mengirim para migran dan pengungsi ke Turki. [em/al]

XS
SM
MD
LG