Tautan-tautan Akses

Jaksa Tuntut Penyerang di Notre Dame


Polisi Perancis berjaga-jaga di TKP insiden penembakan dekat Katedran Notre Dame di Paris, Perancis, 6 Juni 2017 (foto: REUTERS/Charles Platiau)

Pelaku penyerangan beberapa polisi yang sedang berpartroli di depan Katedran Notre Dame hari Selasa lalu (6/6) tampaknya telah teradikalisasi lewat internet dan tidak pernah masuk dalam daftar orang yang dicurigai oleh polisi dan badan-badan intelijen Perancis.

Ketua tim jaksa di Paris hari Sabtu (10/6) mengatakan seorang laki-laki bersenjata palu yang menyerang beberapa polisi yang sedang berpatroli di depan Katedral Notre Dame hari Selasa lalu (6/6) tampaknya telah teradikalisasi lewat internet dan tidak pernah masuk dalam daftar orang yang dicurigai oleh polisi dan badan-badan intelijen Perancis.

Kantor jaksa di Paris mengatakan telah mengajukan tuntutan awal terhadap mahasiswa program doktoral berusia 40 tahun yang berasal dari Aljazair itu, dengan tuntutan berupaya membunuh polisi dalam kaitan dengan aksi teroris dan konspirasi kejahatan terorisme.

Seorang polisi luka ringan akibat serangan itu.

Penyerang yang ketika beraksi meneriakkan kalimat ‘’ini untuk Suriah’’ ditembak oleh polisi. Ia dirawat karena cedera akibat luka tembak.

Dalam konferensi pers hari Sabtu, jaksa Paris Francois Molins mengatakan laki-laki ini ‘’sosok baru’’ yang dikhawatirkan badan-badan kontra-terorisme, sama seperti kehadiran ekstremis yang dilatih untuk melakukan serangan.

‘’Saat ini ancaman teroris mengalami perubahan bentuk. Inilah saat dimana kita menghadapi ancaman dari dalam negeri, individu-individu yang ingin melakukan serangan ketika mereka mengalami kesulitan untuk bergabung di medan tempur,” tambah Molins.

Penyerang diidentifikasi sebagai Farid Ikken asal Aljazair. Molins tidak menyebutkan nama lengkap pelaku itu, tetapi memastikan bahwa pelaku adalah mantan wartawan yang dilahirkan di Akbou, suatu kota kecil di utara Aljazair, yang tinggal di Perancis secara resmi sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan program pendidikan doktoral.

Tim penyelidik yang menggeledah rumah mahasiswa itu di pinggiran Cergy-Pontoise Paris menemukan pernyataan kesetiaan pada kelompok ISIS yang difilmkan Selasa pagi sebelum melakukan serangan. Ia memposisikan dirinya sebagai “tentara khalifah.”

Mereka juga menemukan laptop dan empat USB yang mencakup foto dan video propaganda ISIS yang merujuk pada serangan-serangan di London, Paris, Brussels dan sebuah gereja di kawasan Normandy – Perancis; serta gambar-gambar tentang perang di Suriah.

Molins mengatakan keluarga dan teman-teman pelaku tidak menyadari tanda-tanda radikalisasi yang dialami pelaku. Ia menggambarkan laki-laki itu sebagai seseorang yang “terisolasi” secara sosial dan psikologis.

Tim penyelidik belum menemukan kontak apapun antara pelaku dengan orang yang tinggal di Suriah dan Irak.

Farid Ikken – bungsu dari 12 bersaudara – pindah ke Swedia tahun 2001 untuk belajar jurnalistik. Ia kembali ke Aljazair tahun 2011 dan mendirikan newsletter di internet, bekerja sebagai wartawan hingga ia pindah ke Perancis untuk melanjutkan studi doktoral tahun 2013. [em]

XS
SM
MD
LG