Tautan-tautan Akses

AS

Jaksa Pemakzulan: Trump “Pemicu Utama”


Manajer pemakzulan mantan presiden Donald Trump, Jamie Raskin, saat memimpin sidang kedua pemakzulan di Senat, di Washington,10 Februari 2021. (Senate Television via AP)

Jaksa penuntut dalam sidang pemakzulan mantan presiden Donald Trump di Senat, Rabu (10/2), mulai memaparkan kasus terhadapnya.

Jaksa mengatakan “ia bukan penonton yang tidak bersalah” terhadap kekerasan yang terjadi di gedung Kongres Amerika pada 6 Januari lalu ketika anggota-anggota parlemen mensertifikasi kemenangan Joe Biden dalam pemilu presiden.

Anggota Kongres yang menjadi manajer pemakzulan utama, Jamie Raskin, dan anggota-anggota faksi Demokrat lainnya mengatakan Trump memberikan kondisi yang menyebabkan penyerbuan ke Kongres selama beberapa minggu menjelang pemilu presiden dengan puluhan klaim tidak berdasar bahwa satu-satunya hal yang membuatnya kalah adalah jika ia dicurangi dalam pemilu.

Manajer utama pemakzulan dalam sidang ini adalah anggota dari masing-masing faksi yang dipilih untuk memaparkan argumen tentang alasan perlu tidaknya pemakzulan.

Raskin mengatakan dengan menyerukan ratusan pendukungnya untuk “berjuang habis-habisan” menghadapi anggota-anggota Kongres pada 6 Januari itu, Trump memicu kekacauan yang menewaskan lima orang, termasuk seorang polisi Capitol.

“Ia menghasut serangan ini,” ujar Raskin kepada 100 anggota Senat yang akan memutuskan apakah Trump harus dihukum berdasarkan satu artikel pemakzulan yang disampaikan DPR sebelumnya. Artikel itu menuduh Trump telah “menghasut terjadinya pemberontakan.”

“Ia jelas-jelas melepaskan perannya sebagai panglima tertinggi dan menjadi pemicu utama,” ujar Raskin.

Ia menilai Trump, yang sudah tidak lagi berkuasa setelah masa jabatan empat tahunnya berakhir, menjadi “satu-satunya pihak yang bertanggungjawab” mendesak para pendukungnya untuk mencoba mengubah kemenangan Biden.

Ratusan pendukung Trump mengamuk di gedung Kongres, memecahkan kaca-kaca jendela, mendobrak pintu, menggeledah sejumlah kantor anggota Kongres dan bentrok dengan polisi. Aparat penegak hukum memperkirakan ada sekitar 800 orang pendukung Trump saat itu.

Puluhan perusuh, yang sebagian besar pamer di media sosial tentang penyerbuan mereka ke dua majelis di Kongres, telah didakwa melakukan tindak pidana ketika penyelidikan terhadap penyerbuan itu berlanjut.

Para manajer pemakzulan menunjukkan puluhan pernyataan di Twitter dan potongan video di mana Trump mengklaim kecurangan dalam pemilu presiden dan menyerukan kepada para pendukungnya untuk datang ke Washington DC pada 6 Januari ketika Kongres melangsungkan pertemuan untuk mensertifikasi perolehan suara elektoral, yaitu 306 banding 232, yang menunjukkan kemenangan Joe Biden.

We will be wild,” cuit Trump.

Setelah kekacauan selama hampir empat jam, pada Kamis (7/2) dini hari, anggota-anggota Kongres menyertifikasi kemenangan Biden, menjadikan Trump sebagai presiden kelima dalam sejarah Amerika yang kalah dalam pemilu untuk masa jabatan kedua. [em/lt]

XS
SM
MD
LG