Tautan-tautan Akses

Iran: Perjanjian Maroko-Israel 'Pengkhianatan Islam'


Pemimpin Tertinggi Iran, pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei berpidato di depan bangsa dalam pidato yang disiarkan televisi yang menandai liburan Iduladha, di Teheran, Iran, Jumat, 31 Juli 2020. (Foto: AP)

Seorang penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah mengecam normalisasi hubungan Maroko dengan Israel, musuh republik Islam itu. Iran menyebut perjanjian itu "pengkhianatan Islam."

AFP melaporkan, kerajaan itu pada Kamis (10/12) menjadi negara Arab keempat tahun ini yang menormalisasi hubungan dengan Israel, dalam sebuah perjanjian yang diumumkan oleh Presiden Donald Trum.

Sebagai imbal balik, AS mengakui kedaulatan Maroko atas Sahara Barat yang disengketakan, sesuatu yang telah menjadi keinginan Rabat selama puluhan tahun.

"Perjanjian antara segitiga Amerika, Maroko dan rezim Zionis itu dilakukan dengan meminta pengkhianatan Maroko atas Islam (dan) Palestina, menjual kehormatan Muslim kepada Zionisme internasional," kata penasihat kebijakan luar negeri Ali Akbar Velayati di situs resminya Jumat (11/12).

Dia menambahkan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel "bukan hal baru" karena kerajaan itu pernah mempertahankan kantor perwakilan di Israel di masa lalu.

Maroko mengikuti langkah Uni Emirat Arab, Bahrain dan Sudan dalam apa yang disebut oleh pemerintahan Trump sebagai Perjanjian Abraham.

Mengecam keempatnya, Velayati mengatakan mereka akan "menyaksikan pergolakan populer di dalam waktu dekat" sementara para pemimpin mereka yang "ketergantungan, tunduk dan otoriter," terbongkar.

Pengakuan AS atas kedaulatan Maroko di Sahara Barat memicu kemarahan Front Polisario, yang menguasai sekitar seperlima wilayah yang luas itu.

Maroko, yang memiliki hubungan dekat dengan saingan regional Iran, Arab Saudi, memutus hubungan diplomatik dengan Teheran pada 2018, menuduhnya mendukung Polisario. Iran telah membantah tuduhan itu. [vm/ft]

Lihat komentar (3)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG