Tautan-tautan Akses

Iran Bertekad Kembangkan Industri Minyak di Tengah Sanksi AS


Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh berbicara kepada para wartawan di awal pertemuan OPEC di Wina, Austria, 22 Juni 2018. (Foto: REUTERS/Heinz-Peter Bader)
Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh berbicara kepada para wartawan di awal pertemuan OPEC di Wina, Austria, 22 Juni 2018. (Foto: REUTERS/Heinz-Peter Bader)

Iran bertekad untuk mengembangkan industri minyaknya meskipun AS masih memberikan sanks bagi negara tersebut. Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Sabtu (11/7).

"Kami tidak akan menyerah dalam keadaan apa pun ... Kami harus meningkatkan kapasitas kami sehingga bila perlu dengan kekuatan penuh kami dapat memasuki pasar dan menghidupkan kembali pangsa pasar kami," kata Zanganeh, seperti dilansir dari Reuters.

Menteri itu berbicara sebelum penandatanganan kontrak senilai $294 juta (sekitar Rp 4.12 triliun) antara Perusahaan Minyak Nasional Iran dan Persia Oil & Gas, sebuah perusahaan Iran untuk mengembangkan lapangan minyak Yaran.

Perjanjian tersebut bertujuan untuk memproduksi 39,5 juta barel minyak dari lapangan Yaran di Provinsi Khuzestan di Iran barat daya, kata kantor berita Kementerian Minyak Iran SHANA.

Terpukul oleh sanksi yang diberlakukan kembali AS sejak Washington keluar dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 di tahun 2018, ekspor minyak Iran diperkirakan mencapai 100.000 hingga 200.000 barel per hari. Angka tersebut turun dari lebih dari 2,5 juta barel per hari dibandingkan posisi April 2018.

Produksi minyak mentah Iran juga telah berkurang menjadi sekitar 2 juta barel per hari. [ah]

Recommended

XS
SM
MD
LG