Tautan-tautan Akses

Insiden Peracunan Navalny, Jerman Tingkatkan Tekanan pada Rusia


Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas

Jerman hari Minggu (6/9) meningkatkan tekanan pada Rusia terkait insiden serangan racun terhadap politisi oposisi Alexei Navalny, dan mengingatkan bahwa kurangnya dukungan dari Rusia terhadap penyelidikan itu dapat “memaksa” Jerman mengkaji ulang nasib proyek jalur pipa gas Jerman-Rusia.

“Saya harap Rusia tidak memaksa kami untuk mengubah sikap terkait jalur pipa Nord Stream 2 yang tengah dibangun di bawah Laut Baltik,” ujar Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas pada suratkabar Bild am Sonntag.

Maas juga mengatakan, “Jika tidak ada kontribusi dari pihak Rusia atas penyelidikan itu dalam beberapa hari ke depan, kami terpaksa harus berkonsultasi dengan mitra-mitra kami.”

Ia tidak mengesampingkan kemungkinan sanksi terhadap Rusia, dengan mengatakan pada suratkabar itu bahwa langkah-langkah semacam itu seharusnya “ditunjukkan secara efektif.”

Namun Maas juga mengakui bahwa penangguhan pembangunan jaringan pipa yang hampir selesai itu juga akan merugikan perusahaan-perusahaan Jerman dan Eropa, selain Rusia.

“Siapa pun yang menuntut hal ini harus menyadari konsekuensinya,” ujar Maas. “Lebih dari 100 perusahaan dari 12 negara Eropa terlibat dalam proyek ini. Separuhnya berasal dari Jerman,” tambahnya.

Pengecam dan penyelidik korupsi Kremlin, Alexei Navalny, jatuh sakit dalam perjalanan menuju Moskow 20 Agustus lalu dan dilarikan ke rumah sakit di kota Omsk, Siberia, tak lama setelah pesawat melakukan pendaratan darurat. Ia diterbangkan ke Berlin pada 22 Agustus dan sejak saat itu berada dalam kondisi koma.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan serangan racun terhadap Navalny merupakan upaya pembunuhan untuk membungkam salah satu pengecam keras Presiden Rusia Vladimir Putin dan menyerukan dilangsungkannya penyelidikan penuh.

Pihak berwenang Jerman mengatakan uji medis menunjukkan Navalny diracun dengan agen syaraf kimia “Novichok.” Pihak berwenang Inggris sebelumnya mengidentifikasi agen syaraf yang sama, yang dikembangkan pada era Uni Sovyet, telah digunakan untuk menarget mantan mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya, di Inggris, tahun 2018 lalu. [em/jm]

Recommended

XS
SM
MD
LG