Tautan-tautan Akses

Insiden Penembakan di California Picu Kembali Perdebatan Senjata


Para mahasiswa di Universitas California Santa Barbara mengenang rekan mereka yang tewas dalam insiden penembakan (27/5).
Para mahasiswa di Universitas California Santa Barbara mengenang rekan mereka yang tewas dalam insiden penembakan (27/5).

Insiden penembakan massal di kota Santa Barbara, California yang menewaskan enam orang telah memicu debat di Kongres Amerika mengenai cara untuk menjauhkan senjata dari orang-orang yang memiliki gangguan mental serius.

Sejak berbagai upaya untuk meregulasi senjata gagal, sebagian anggota Kongres berupaya mereformasi sistem layanan kesehatan mental untuk lebih memusatkan perhatian pada orang-orang yang mengalami gangguan mental paling berat.

Mahasiswa Elliot Rodger diyakini telah mengunggah sebuah video pengakuan di YouTube sebelum melakukan pembunuhan di kampus di Santa Barbara. Orangtuanya telah memperingatkan polisi akan kemungkinan ancaman akibat penyakit kejiwaan yang dialaminya.

Dalam sebuah forum di Gedung Capitol, anggota Kongres Tim Murphy mengatakan bahwa sebelum insiden Santa Barbara itu, ada penembakan massal di sebuah SD di Newton, Connecticut, bioskop di Aurora, Colorado dan di Tucson, Arizona. Murphy mengatakan tersangka-tersangka pembunuhnya memiliki satu kesamaan:

“Semuanya memiliki gangguan mental yang belum ditangani atau sedang dalam perawatan. Semuanya terjadi di luar kendali di dalam suatu sistem yang minim mekanismenya untuk membantu,” ujar Murphy.

Murphy telah memperkenalkan RUU yang akan memudahkan keluarga yang memiliki saudara dengan gangguan mental serius untuk memasukannya ke rumah sakit meskipun tanpa seizin yang bersangkutan, jika dia dianggap membahayakan diri sendiri atau masyarakat.

Seorang ayah bernama Edward Kelley mendukung RUU itu. Kelley mengatakan puteranya yang memiliki gangguan mental serius menolak untuk mendapatkan bantuan dan seringkali berakhir di jalan.

“Selama 15 tahun kami menghadapi putera kami yang berubah menjadi tidak terkendalikan lagi,” papar Kelley.

Sebagian besar pakar sepakat rumah sakit jiwa terbatas kapasitasnya dan pasien-pasien dengan penyakit kejiwaan serius seringkali berakhir di Unit Gawat Darurat yang ramai atau menjadi tuna wisma.

D.J. Jaffe dari Organisasi Kebijakan Gangguan Mental mengatakan AS juga harus mengubah prioritas anggarannya. Ia mengatakan, “Kita harus berhenti mengabaikan orang-orang dengan gangguan kejiwaan serius. Kita tidak bisa berpura-pura bahwa mereka tidak ada.”

Faksi Demokrat mengajukan RUU terpisah yang akan melarang orang yang pernah diopname secara paksa untuk membeli senjata. Anggota Kongres Mike Thompson mengatakan:

“Itu adalah RUU yang memusatkan perhatian pada kekerasan senjata dan gangguan kejiwaan,” kata Thompson.

Mantan anggota Kongres Gabrielle Giffords selamat dari penembakan massal tahun 2011 di konstituennya di Arizona dimana dia ditembak kepalanya oleh seorang laki-laki yang mengidap gangguan mental serius. Sejak itu, dia telah menjadi aktivis yang berpengaruh.

“Kita harus melakukan sesuatu. Memang akan sulit, tapi kini sudah waktunya. Kita harus bertindak,” desak Giffords.

Sebagian anggota Kongres mengatakan yakin faksi Republik dan Demokrat dapat menemukan kesepakatan mengenai isu senjata dan gangguan mental untuk mencegah tragedi di masa depan.
XS
SM
MD
LG