Tautan-tautan Akses

Ini Dia Dua Komikus Indonesia Kelas Dunia Yang Diundang ke Amerika


Komikus Indonesia Ariela Kristantina (kiri) dan Ario Anindito (kanan) di San Diego Comic-Con (dok: Ariela)

Nama Ariela Kristantina dan Ario Anindito dikenal di dunia komik internasional lewat karya-karya mereka untuk perusahaan komik Amerika, seperti Marvel dan ComiXology. Belum lama ini mereka diundang untuk hadir di ajang Comic-Con International di San Diego, AS. Keren yah!

Dua komikus Indonesia, Ario Anindito dan Ariela Kristantina belum lama ini diundang untuk menghadiri ajang pameran komik dan karya seni populer terbesar Comic-Con Internasional atau dikenal sebagai San Diego Comic-Con, yang digelar di San Diego Convention Center, di kota San Diego, California.

Ario yang berasal dari Bandung memenuhi undangan Marvel, perusahaan komik raksasa tempat ia tengah berkarya sejak tahun 2012.

“Nah, ini ceritanya aku tuh ditawarin sama Rickey Purdin, dia adalah talent management-nya Marvel. Dia bilang, ‘Ario, kamu datang ke SDCC (red: San Diego Comic-Con) dong. Kita ngobrol soal komik yang lagi kamu bikin sekarang. Kita nanti bikin program segala macam di booth.’ Aku senang banget dan ingin banget. ‘OK, aku berangkat,’” cerita Ario yang juga sempat menanda-tangani komik-komiknya di acara yang bergengsi ini.

Komikus Indonesia di Comic-Con: Ario Anindito
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:49 0:00

Komikus asal Jakarta, Ariela yang juga pernah berkarya lewat serial komik Marvel seperti “Wolverines,” kali ini khusus diundang ke San Diego Comic-Con untuk mempromosikan komik bertajuk “Adora and the Distance,” yang tengah ia garap bersama penulis Marc Bernadine untuk perusahaan komik Amerika, ComiXology.

Komik ini terinspirasi dari anak Marc Bernadine yang autis, yang ceritanya lalu dikembangkan untuk mengetahui apa yang ada di pikiran sang anak saat tumbuh dewasa, tidak lupa dengan menambahkan unsur fantasi ke dalamnya.

Komikus Ariela Kristantina (kanan) bersama penulis Marc Bernadine (kiri) saat menanda-tangani komik di Comic-Con (dok: Superfan/Pamela Mullin Horvath)
Komikus Ariela Kristantina (kanan) bersama penulis Marc Bernadine (kiri) saat menanda-tangani komik di Comic-Con (dok: Superfan/Pamela Mullin Horvath)

“Mereka terbangin aku dari Jakarta, untuk promo, untuk launching buku, terus untuk signing juga, signing pin yang eksklusif untuk San Diego (Comic-Con) dan terlibat dalam beberapa panel,” ujar Ariela kepada VOA Indonesia.

Jika selama ini Ario hanya bisa melihat suasana acara San Diego Comic-Con melalui Internet, kini ia bisa hadir secara langsung dan menyaksikan sendiri efek dari komik terhadap banyak orang. Ario mengaku ‘kaget setengah mati’ saat melihat acara ini dengan mata kepalanya sendri. Menurut Ario, alangkah sayangnya jika potensi komik tidak dimanfaatkan di Indonesia.

“Sebesar ini efeknya komik. Karena semua awalnya dari komik. Judulnya Comic-con. Meskipun ada film, meskipun ada TV series, tapi semua akarnya dari komik dan ini loh efek dari komik ke orang-orang. Sebanyak ini orang sampai mereka mau pakai kostum aneh-aneh. Dan bisnisnya juga sudah milyaran dolar. Jadi this is the power of comic," ucap komikus yang terlibat dalam penggarapan komik produksi Marvel bertajuk “Hulkverines,” “Weapon H,” “The War of the Realms,” “Iron Hammer” dan masih banyak lagi.

"Sayang banget kalau kita tidak memanfaatkan potensi komik ini sebanyak-banyaknya di negara kita,” tegasnya.

Sisipan gambar Macan Cisewu di punggung deadpool karya Ario Anindito (Dok: Ario Anindito)
Sisipan gambar Macan Cisewu di punggung deadpool karya Ario Anindito (Dok: Ario Anindito)

Efek komik tidak berhenti di acara sebesar Comic-Con saja, menurut Ario, komik bisa menjadi inspirasi hidup dari para pecintanya.

"Komik tuh impact-nya ke kehidupan orang itu besar banget. Ada orang yang kecilnya baca 'Captain America' gedenya dia daftar jadi tentara, ada yang baca 'Fantastic Four' dia jadi astronot, ngaruh banget ke kehidupan manusia ternyata,” tambah komikus yang pernah menyisipkan gambar macan cisewu di punggung Deadpool ini.

Selain pameran komik dan karya seni populer, San Diego Comic-Con juga menggelar beragam panel diskusi serta acara temu muka dengan para seniman, komikus, dan artis dari dunia hiburan.

Tahun ini, Ariela berpartisipasi di tiga acara panel diskusi bersama ComiXology dan para komikus lainnya, untuk memperkenalkan karya-karya baru ComiXology dan juga lokakarya membuat komik, serta cara membangun dunia fantasi di dalam komik.

“Jadi kita punya mixed experience lah di situ dan I’m the only female kebetulan di panel itu dan dari negara lain,” kata Ariela yang adalah lulusan S1 Universitas Gunadarman jurusan informatika ini.

Pertanyaan pun mulai berdatangan untuk Ariela, terutama saat diperkenalkan sebagai seorang seniman dari Indonesia. Banyak yang penasaran mengenai caranya bekerja dan berkomunikasi secara jarak jauh dengan penulis dan editonya.

“Ya, basically email-lah ya, e-mail, WhatsApp, telegram, apa pun yang bisa dipakai buat komunikasi juga,” ujar Ariela.

(ki-ka) Penulis Marc Bernardin, komikus Ariela Kristantina, penulis Jim Zub, penulis Richard Starkings, penulis C. Spike Trotman, seniman Clive Hawken (dok: Pamela Mullin Horvath)
(ki-ka) Penulis Marc Bernardin, komikus Ariela Kristantina, penulis Jim Zub, penulis Richard Starkings, penulis C. Spike Trotman, seniman Clive Hawken (dok: Pamela Mullin Horvath)

Di panel pun Ariela sempat curhat mengenai kehidupannya sebagai seorang komikus untuk perusahan di luar negeri.

“Aku sebutin, karena waktunya beda, ya I don’t have social life in Jakarta, karena semua orang berangkat kerja, aku tidur. Malam aku bangun, like who am I gonna hang out with?” ujarnya kepada VOA sambil tertawa.

Tidak hanya undangan ke Comic-Con yang membuat perasaannya campur aduk dan ‘nggak karu-karuan,’ Ariela pun sempat merasa tegang saat duduk di satu panel dengan salah satu komikus panutannya.

“Aku di panel sama Jock. Jock itu is one of my art heroes dari sekolah. Jadi langsung waktu aku dipanggil, ‘who’s your inspiration? Well, him!’ itu udah rasanya nggak karu-karuan banget deh,” kenang Ariela.

Acara seperti Comic-con ini memiliki makna yang besar bagi para komikus, khususnya mereka yang berasal dari luar Amerika Serikat seperti Ario dan Ariela. Selain bisa berbagi pengalaman, mereka bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan sesama, terutama jika sudah terbiasa bekerja dalam kesendirian.

“Untuk secara profesional, networking itu penting banget. Kalau buatku pengalaman ketemu editor banyak ketemu writer banyak tuh terutama dari convention. Jadi kadang-kadang meskipun aku nggak diundang atau pergi sendiri pun nggak apa-apa. Nabung untuk pergi sendiri,” ujar Ariela.

Ario Anindito saat berada di booth Marvel di San Diego Comic-Con 2019 (dok: Ario Anindito)
Ario Anindito saat berada di booth Marvel di San Diego Comic-Con 2019 (dok: Ario Anindito)

Melalui San Diego Comic-con, Ario bertekad untuk membagi ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan kepada para komikus di Indonesia, dengan tujuan agar bisa membuka jalan bagi mereka untuk bisa berkarya di kancah internasional. Salah satunya dengan menggandeng Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) di Indonesia.

“Aku kepingin setelah semua yang aku dapat di sini, ilmu pengetahuannya, connection-nya dan sistemnya, pokoknya tips dan trick-nya tuh aku bisa sharing ke komikus-komikus yang ada di Indonesia. Jadi bareng sama BEKRAF, nanti setelah pulang, kita mau bikin semacam sharing profesional utk menyebar luaskan semua pengetahuan aku yang aku dapatin di sini,” jelas komikus kelahiran tahun 1984 ini.

Ario Anindito saat berada di San Diego Comic-Con 2019 (dok: Ario Anindito)
Ario Anindito saat berada di San Diego Comic-Con 2019 (dok: Ario Anindito)

Bekerja jarak jauh dengan perbedaan waktu yang cukup panjang memang menjadi tantangan, namun sebagai komikus Indonesia yang berkarir di kancah internasional menurut Ario bisa mengharumkan nama bangsa dan menarik perhatian dunia terhadap tanah air.

"Nama kita nama Indonesia dan kita bisa kayak atlet olimpiade, bawa nama bangsa. Orang lihat cover komik bikinan Ario Anindito. Orang sini (bilang) ‘Ario Anindito? Orang mana sih tuh?’ Terus dia googling, ternyata orang Indonesia. Dari situ dia googling, Indonesia itu apa? Dimana? Nah, itu kita bisa bawa nama harum bangsalah, bahwa di Indonesia tuh beritanya bukan cuman terorisme, bukan cuman politik yang nggak ada selesai-selesainya itu. Tapi juga ada anak-anak bangsa yang bisa berkarya di dunia internasional,” jelasnya.

Saat ini memang Ario sibuk mengerjakan komik untuk Marvel. Namun, ia juga memiliki karakter ciptaannya sendiri dan masih ingin berkarya untuk Indonesia.

“Aku prinsipnya gini, selagi aku masih bisa belajar sebanyak-banyaknya dari Marvel, dari industri yang sebesar ini, then aku akan cari ilmunya dulu sebanyak-banyaknya. Karena masih banyak ternyata yang aku bisa pelajari. Aku udah kerja dari 2014 sampai 2019 nih masih ada aja ilmu baru gitu, jadi kayak let’s learn a lot dari sini, kemudian kita sharing di industri komik Indonesia,” ujarnya.

Ariela Kristantina (kanan) bersama penulis Marc Bernadine di ComiXology booth di San Diego Comic-Con 2019 (dok: Ariela Kristantina)
Ariela Kristantina (kanan) bersama penulis Marc Bernadine di ComiXology booth di San Diego Comic-Con 2019 (dok: Ariela Kristantina)

Sebelum bekerja untuk perusahaan komik di luar negeri seperti Marvel, ComiXology, Dark Horse Comics, Aftershock Comics dan Boom Studios, tahun 2006 Ariela sempat mendirikan studio bernama Seven Art Land bersama teman-temannya, dimana mereka merilis majalah Manga yang diterbitkan setiap empat bulan sekali.

Tahun 2011, Ariela mendapat beasiswa untuk kuliah S2 di The Savannah College of Art and Design di Savannah, Georgia, Amerika. Kampus inilah yang menjadi saksi pertemuannya dengan editor dari Marvel yang langsung menawarkan pekerjaan setelah melihat portfolio Ariela.

Adora and the Distance, komik karya Ariela Kristantina bersama penulis Marc Bernadine (dok: Ariela/ComiXology)
Adora and the Distance, komik karya Ariela Kristantina bersama penulis Marc Bernadine (dok: Ariela/ComiXology)

Sekembalinya ke Indonesia sekitar tahun 2014-2015, Ariela merasakan adanya perkembangan yang pesat di industri komik tanah air.

"Aku rasa cukup positif ya, sejak aku tinggal,” katanya.

“Kaget gitu loh, ternyata banyak juga pemain lokal. Semakin banyak,” tambahnya lagi.

Ario pun mengakui bahwa industri komik di Indonesia tengah bertumbuh dengan pesat. Sehingga dibutuhkan lebih banyak lagi dukungan dari komikus dan pemerintah, juga perlu adanya regenerasi di industri komik.

"Misalnya nggak ada regenerasi. Jadi kayak komik Indonesia jaman dulu tuh. Sudah bagus-bagus, jago-jago tapi ketika komikusnya sudah berhenti berkarya, nggak ada yang nerusin, karena mungkin tidak ada sistem regenerasi itu. Mungkin nggak ada yang ngajarin atau apprentice atau apa gitu aku nggak taulah sistemnya. Tapi intinya, makanya ini bareng sama BEKRAF tuh kita kepingin supaya komik Indonesia bisa lebih maju lagi, dengan cara ya kita cari tips dan tricks-nya dari industri komik yang udah sebesar ini. Apa sih rahasianya sebenarnya?” ucap Ario.

Ariela pun memiliki pendapat yang sama. Ia berharap industri komik di Indonesia lebih bervariasi dan terus menghasilkan cerita yang baru.

“Jadi orangnya nggak itu-itu saja. Ceritanya nggak cuman recyle cerita yang lama-lama saja. They’re awesome, tapi kita juga perlu maju terus dan punya cerita, dan ikon yang baru,” ujar Ariela.

Kunci sebagai komikus menurut Ario adalah harus selalu percaya diri, banyak berlatih, dan ikuti proses perjalanannya.

“Banyak orang zaman sekarang terutama penyakitnya adalah mereka kepingin exposure, mereka kepingin fame, mereka kepingin money, mereka ingin ngejar itu semua dengan cara instan. There’s no such thing. Jadi semua ada prosesnya," ujar Ario.

Walau sudah menjadi komikus untuk perusahaan sekelas Marvel, Ario tidak pernah berhenti untuk berlatih menggambar.

"Ada yang bilang, ‘Loe kan udah jadi komikus Marvel. Ngapain loe masih latihan? Buat apa?’ Karena kita harus selalu tetap improve gitu kan. Jadi tipsnya adalah banyak-banyak berlatih dan harus punya mimpi, dan banyak-banyak berdoa. Pokoknya jangan pernah putus asa deh,” kata Ario.

Komikus Indonesia Ariela Kristantina (kiri) dan Ario Anindito (kanan) di San Diego Comic-Con (dok: Ariela)
Komikus Indonesia Ariela Kristantina (kiri) dan Ario Anindito (kanan) di San Diego Comic-Con (dok: Ariela)

Dengan adanya perkembangan teknologi dan Internet yang kini menjadi jendela dunia, Ario dan Ariela berpesan kepada para komikus dan seniman yang ingin berkarir di kancah internasional untuk rajin-rajin mengunggah hasil karya mereka ke Internet.

"Kita nggak akan pernah tahu ketika kita upload siapa saja yang lihat. Bisa saja ternyata dilihatnya sama Russo Brothers, atau dilihatnya sama editor Marvel. Jadi ya pokoknya manfaatin internet, manfaatin banyak referensi yang sekarang gampang didapat,” pesan Ario.

“Kalau sukanya bikin komik, interior, jangan cuman posting ilustrasi. Kalau memang sukanya cover, bikin cover sama ilustrasi ya posting yang itu, karena sepertinya sekarang itu banyak editor yang hunting artis baru via media sosial,” kata Ariela.

Sebagai komikus yang bekerja jarak jauh, Ariela juga berpesan untuk mengingat pentingnya komunikasi.

“Jangan menghilang, karena technically kita cuman bisa dihubungi lewat e-mail atau chatting gitu kan. Kalau kita menghilang, they will hate you forever gitu. Mereka lebih ingin dengar ‘oh sorry kita bakal terlambat kirim deadline atau kita bakal terlambat kirim halaman’ ketimbang kita menghilang sama sekali,” pungkasnya. (di)

Lihat komentar (4)

XS
SM
MD
LG