Tautan-tautan Akses

Inggris Katakan Rusia Mungkin Simpan Amunisi di Lokasi Dekat Barak yang Diserang Ukraina


Para pekerja memindahkan puing-puing dari bangunan yang hancur yang digunakan sebagai akomodasi sementara tentara Rusia, puluhan di antaranya tewas dalam serangan rudal Ukraina di Makiivka ( Makeyevka), Ukraina yang dikuasai Rusia, 4 Januari 2023.REUTERS/Alexander Ermochenko
Para pekerja memindahkan puing-puing dari bangunan yang hancur yang digunakan sebagai akomodasi sementara tentara Rusia, puluhan di antaranya tewas dalam serangan rudal Ukraina di Makiivka ( Makeyevka), Ukraina yang dikuasai Rusia, 4 Januari 2023.REUTERS/Alexander Ermochenko

Kementerian Pertahanan Inggris, Rabu (4/1) mengatakan serangan Ukraina terhadap sebuah barak militer di kota di Ukraina Timur yang dikuasai Rusia mungkin telah diperburuk oleh simpanan amunisi Rusia di dekat tempat tinggal pasukannya.

“Mengingat tingkat kerusakan, ada kemungkinan nyata bahwa amunisi disimpan di dekat tempat akomodasi pasukan, yang meledak selama serangan, menciptakan ledakan sekunder,” cuit kementerian Inggris tersebut dalam penilaian harian terbarunya.

Kementerian pertahanan Inggris menambahkan bahwa Rusia memiliki riwayat penyimpanan amunisi yang tidak aman sebelum melancarkan invasinya terhadap Ukraina. “Tetapi insiden ini menyoroti betapa praktik tidak profesional berkontribusi pada tingkat korban yang tinggi di pihak Rusia,” kata kementerian itu.

Kementerian pertahanan Rusia mengatakan pada Rabu pagi bahwa penggunaan ponsel secara besar-besaran oleh tentaranya menyebabkan serangan pada 1 Januari itu.

“Sudah jelas bahwa alasan utama mengenai apa yang terjadi adalah pengaktifan dan penggunaan besar-besaran, bertentangan dengan larangan, ponsel personel dalam zona yang dijangkau oleh senjata musuh,” kata kementerian Rusia dalam sebuah pernyataan.

“Faktor ini memungkinkan musuh melacak dan menentukan koordinat lokasi tentara untuk serangan rudal,” lanjutnya.

Ukraina mengaku bertanggung jawab atas serangan di Makiivka pada hari Senin. Pasukan Rusia menguasai kota itu dan telah mengubah sebuah sekolah menjadi markas militer.

Letjen Sergei Sevryukov dari Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan melalui video yang dilansir kementerian itu pada Rabu pagi bahwa jumlah korban tewas meningkat menjadi 89 dari 63 yang diumumkan hari Senin. Ia mengatakan lebih banyak lagi mayat yang ditemukan di bawah reruntuhan bangunan, lapor kantor berita AFP.

“Sebuah komisi sedang bekerja untuk menyelidiki latar belakang kejadian itu,” ujarnya.

Wartawan perang Rusia mengatakan tentara di markas Makiivka kebanyakan adalah warga Rusia yang baru dimobilisasi, menurut AFP. Mereka menambahkan bahwa para tentara itu ditempatkan di bangunan yang tidak dilindungi dan hancur karena amunisi yang disimpan di sekitarnya, meledak dalam serangan tersebut.

Pada hari Selasa, para pelayat berkumpul di beberapa kota di kawasan Samara, Volga, di mana sebagian tentara itu berasal.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan dalam pidato hariannya Selasa malam bahwa negaranya perlu memperkuat pertahanannya. Dalam dua hari terakhir, ia mengklaim apa yang lihat sebagai rencana Rusia untuk ofensif baru.

“Kami tidak ragu bahwa para penguasa Rusia yang sekarang akan membuang semua yang tersisa dan semua orang dalam upaya mengubah arah perang dan setidaknya menunda kekalahan mereka,” katanya. “Kita harus mengacaukan skenario Rusia ini. Kita siap untuk ini.” [uh/ab]

Forum

XS
SM
MD
LG