Tautan-tautan Akses

Ilmuwan AS Peroleh Petunjuk Vaksin AIDS Bisa Beri Perlindungan


Ilmuwan mendapatkan sejumlah petunjuk vaksin AIDS bisa memberi perlindungan (foto: dok.)
Ilmuwan mendapatkan sejumlah petunjuk vaksin AIDS bisa memberi perlindungan (foto: dok.)

Para ilmuwan menduga keberhasilan vaksin ini mungkin terkait dengan antibodi, yakni protein-protein yang mengikat virus dan melumpuhkannya.

Kajian di Thailand meneliti bakal vaksin yang disebut RV144. Setelah hasilnya diumumkan, para peneliti memilah-milah datanya. Bakal vaksin ini memberi perlindungan hingga 31 persen, angka yang belum cukup tinggi untuk membuatnya diproduksi massal, tetapi cukup tinggi untuk menimbulkan kegembiraan di kalangan peneliti vaksin.

Kolonel Jerome Kim, penulis senior penelitian lanjutan baru mengenai RV144, adalah dokter yang bekerja bagi Program Riset HIV Militer Amerika. Ia mengatakan sewaktu hasil RV144 diumumkan, para ilmuwan menduga keberhasilan vaksin ini mungkin terkait dengan antibodi, yakni protein-protein yang mengikat virus dan melumpuhkannya.

Kim mengatakan, “Tetapi kita tidak mengetahui sepenuhnya. Karena itu kami meneliti sejumlah besar respons imunitas yang berbeda-beda. Dengan cara itu kami dapat memilih yang benar-benar penting saja.”

Penelitian-penelitian lanjutan akhirnya mengarah pada dua antibodi, IgG dan IgA. Sebagian subjek penelitian di Thailand memiliki lebih banyak satu jenis antibodi dibandingkan dengan yang lainnya. Namun keduanya ditarik ke bagian HIV yang disebut amplop.

“HIV adalah anggota dari sekelompok virus di mana pelapis luar biasanya terdiri dari apa yang kita sebut membran atau selaput sel dan kemudian apa yang kita sebut duri-duri virus yang menonjol di selaput. Sering kali sewaktu vaksin bekerja, antibodi dikerahkan melawan duri-duri tersebut. Jadi sistem imunitas mengenali duri yang menonjol itu lalu memberikan respons kekebalan terhadap virus itu,” papar Kim.

Namun menyangkut HIV, Kim mengatakan, berteori lebih mudah daripada mempraktikkannya.

Suatu wilayah amplop yang disebut V2 menjadi target respons antibodi. Wilayah ini mungkin terkait dengan mutasi HIV untuk mencegahnya terdeteksi.

IgG dan IgA memberi tanggapan berbeda terhadap amplop HIV. Tetapi, IgG terkait dengan tingkat perlindungan yang lebih baik dengan menempel pada V2. IgA melakukan pendekatan yang lebih luas terhadap amplop virus. Pada awalnya ini diduga menimbulkan risiko infeksi yang lebih besar. Menurut Kim, hasil ini tak terduga dan membingungkan, tetapi sekaligus menimbulkan hipotesis baru.

Kim mengatakan masih banyak lagi riset direncanakan untuk meneliti hasil vaksin RV144, termasuk penelitian-penelitian lanjutan. Dua ujicoba diperkirakan berlangsung tahun depan dengan menggunakan vaksin yang sama. Salah satunya akan dilakukan di Thailand terhadap kelompok berisiko tinggi, yakni kaum homoseksual. Penelitian lainnya akan dilakukan bagi HIV Sub-tipe C, virus yang banyak ditemukan di Afrika bagian selatan. Meskipun telah ada vaksin terobosan, vaksin AIDS yang ampuh diperkirakan baru muncul bertahun-tahun lagi.
XS
SM
MD
LG