Tautan-tautan Akses

Ilmuwan Rancang Hidung Elektronik Untuk Perangi Penyelundupan Satwa Liar


Satu dari dua biawak Australia unik yang dicuri dari toko reptil pada November 2019, di Long Beach, California. (Foto: Polisi Long Beach via AP)

Penyelundupan beberapa jenis reptil Australia untuk para kolektor di luar negeri merupakan bisnis yang mendatangkan keuntungan besar. Seekor kadal saja dapat menghasilkan lebih dari 10 ribu dolar Australia (lebih dari Rp.111,4 juta). Sekarang ini, para ilmuwan sedang mengembangkan peralatan baru yang mereka yakini akan sangat menentukan dalam menghentikan perdagangan satwa di pasar gelap.

Ilmuwan Rancang Hidung Elektronik untuk Perangi Penyelundupan Satwa Liar
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:51 0:00

Melihat seekor kadal shingleback (Tiliqua rugosa) berjemur di bawah matahari Australia bukan hal yang aneh. Namun di pasar gelap internasional, hewan ini termasuk langka, mendatangkan uang dalam jumlah besar karena satwa ini adalah hewan peliharaan eksotis.

Para ilmuwan sekarang ini sedang berupaya menghentikan perdagangan ilegal, dengan menggunakan kadal untuk mendesain hidung elektronik yang dapat mendeteksi reptil selundupan di bandara-bandara dan di paket-paket pos.

Shingle black lizard (kadal hitam) dibebaskan dari kaus kaki setelah petugas Bea Cukai Australia menemukan penyelundupan hewan ilegal ke Jepang, Sydney, Australia (AP / Videostill)
Shingle black lizard (kadal hitam) dibebaskan dari kaus kaki setelah petugas Bea Cukai Australia menemukan penyelundupan hewan ilegal ke Jepang, Sydney, Australia (AP / Videostill)

Ilmuwan forensik Amber Brown dari University of Technology Sydney (UTS) mengatakan, “Jadi fokus kami adalah mendeteksi bau, karena terlepas ke manapun tujuannya, di dalam wadah apapun, kita masih menghasilkan dan melepaskan bau, dan kami seperti menciptakan anjing pendeteksi satwa liar.”

Brown telah menghabiskan waktunya setahun ini untuk mengumpulkan berbagai sampel shinglebacks atau bobtails (Tiliqua rugosa) dari berbagai penjuru Australia.

Setelah beberapa uji dasar, hewan-hewan reptil itu ditempatkan selama 20 menit di sebuah kotak berventilasi, di mana bau dikumpulkan untuk dianalisis di laboratorium.

Tim riset yakin hidung elektronik akan sangat menentukan dalam memberantas perdagangan satwa liar.

Dr. Maiken Ueland, dari Pusat Ilmu Forensik UTS menambahkan, “Kalau Anda dapat memindai semua paket pos yang masuk, semua koper yang tiba, ini akan sangat menghemat waktu, dan ini artinya kita dapat menangkap lebih banyak lagi pedagang satwa liar yang sekarang ini tidak terdeteksi.”

Melissa Murray (tengah) mengawal Winny Saur, robot Muttaburrasaurus dari Museum Australia saat mendekati Kevin, seekor kadal shingleback yang dipegang pawangnya Laura Murphy dari Kebun Binatang Taronga di Sydney, Jumat, 12 Agustus 2011. (Foto: AP/Rick Rycroft)
Melissa Murray (tengah) mengawal Winny Saur, robot Muttaburrasaurus dari Museum Australia saat mendekati Kevin, seekor kadal shingleback yang dipegang pawangnya Laura Murphy dari Kebun Binatang Taronga di Sydney, Jumat, 12 Agustus 2011. (Foto: AP/Rick Rycroft)

Peralatan ini akan dirancang untuk tidak hanya dapat mengendus satwa hidup, tetapi juga produk-produk hewani yang digunakan dalam ramuan obat tradisional atau hiasan.

Dr. Greta Frankham, pakar konservasi genetika dari Australian Museum mengemukakan, “Ini merupakan masalah bagi satwa liar dan satwa liar di seluruh dunia, bukan hanya di Australia, karena ini dapat menyebabkan kepunahan spesies serta menimbulkan risiko keamanan hayati.”

Sementara riset ini masih berfokus pada shingleback, spesies-spesies yang paling sering diselundupkan diharapkan akan segera disertakan juga dalam riset tersebut. [uh/ab]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG