Tautan-tautan Akses

Ilmuwan Kaitkan Fenomena El Nino dengan Meningkatnya Wabah Kolera di Afrika Timur


ARSIP – Dalam foto yang diambil tanggal 24 Mei 2014 ini keluarga Samuel Moro, 30 tahun berduka setelah kematiannya akibat wabah kolera, di luar bangsal isolasi kolera di Juba Teaching Hospital di ibukota Sudan Selatan, Juba (foto: AP Photo/Matthew Abbott/arsip)

Fenomena cuaca yang dikenal sebagai El Nino menurut laporan para peneliti terkait dengan jumlah kasus kolera di Afrika bagian timur.

Para peneliti melaporkan kaitan antara fenomena cuaca yang dikenal sebagai El Nino dan jumlah kasus kolera di Afrika bagian timur. Dengan kemampuan untuk memprediksi tibanya fenomena El Nino dapat meningkatkan kesiagaan untuk peningkatan kesehatan masyarakat.

El Nino adalah fenomena iklim globat yang terjadi pada saat-saat yang tidak teratur, kurang lebih setiap dua hingga tujuh tahun.

Selama terjadinya El Nino, suhu permukaan samudra di Pasifik sebelah timur di lepas pantai Amerika Selatan menjadi lebih hangat dari biasanya. Tren menghangatnya suhu permukaan samudra berawal di saat-saat Natal.

Tahun berikutnya, pada musim gugur, suhu permukaan laut juga hangat, walaupun sedikit lebih rendah, di Pasifik bagian barat, yang mengarah pada kejadian-kejadian terkait cuaca seperti banjir dan kekeringan, sebuah kondisi matang untuk merebaknya wabah kolera.

Kurang lebih 177 juta orang tinggal di daerah-daerah dimana wabah kolera meningkat selama terjadinya fenomena El Nino.

Namun hanya ada bukti terbatas terkait dampak kesehatan yang ditimbulkan El Nino di Afrika.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Prosiding Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional menemukan peningkatan insiden kolera di negara-negara Afrika Timur.

“Karena fenomena ini dapat menyebabkan banjir yang menyebabkan kontaminasi sumber air minum di daerah-daerah dimana orang membuang hajatnya di daerah terbuka,” ujar seorang epidemiologis, Sean Moore, yang memimpin studi tersebut. “Fenomena ini juga dapat menyebabkan melubernya sistem pembuangan air kotor di daerah-daerah perkotaan yang sekali lagi menyebabkan terkontaminasinya sumber air minum.”

Ada kurang lebih 150.000 kasus kolera setiap tahunnya, kebanyakan di daerah sub-Sahara Afrika, menurut Moore, seorang epidemiologis di Johns Hopkins School of Public Health di Baltimore.

Namun selama terjadinya fenomena El Nino, para peneliti menemukan insiden membengkak menjadi 50.000 kasus kolera di Afrika bagian timur, meskipun jumlah kasus secara keseluruhan di benua itu tidak berubah – untuk beragam alasan yang belum dipahami sepenuhnya, ujar Moore.

Pola pergeseran dari jumlah kasus kolera diukur selama terjadinya fenomena El Nino antara tahun 2000 dan 2014. Di Afrika bagian selatan kasus kolera yang dilaporkan 30.000 lebih sedikit selama tahun-tahun El Nino dibandingkan pada tahun-tahun selain El Nino, demikian hasil temuan para peneliti.

Para ilmuwan juga melihat sedikit peningkatan dalam jumlah kasus kolera di daerah-daerah yang dilanda kekeringan yang disebabkan oleh fenomena El Nino.

Moore menyatakan karena ketika ketersediaan air menjadi langka, sumber air minum yang ada dapat terkontaminasi oleh bakteria yang bersumber dari kotoran manusia.

Tanpa perawatan, kasus kematian akibat kolera dapat meningkat sebesar 50 persen.

Dalam rentang dimana fenomena cuaca dapat diprediksi enam hingga 12 bulan dimuka, Moore mengatakan para pejabat kesehatan masyarakat dapat mempersiapkan meledaknya wabah, yang cenderung timbul lebih cepat dari biasanya.

“Sebuah peringatan dini dapat, meskipun tidak dapat mencegah mewabahnya penyakit, paling tidak dapat menekan angka kematian yang cenderung timbul di bagian awal timbulnya wabah,” ujarnya.

Dengan terapi rehidrasi lewat mulut, Moore mengatakan risiko kematian akibat kolera berkurang hingga 1 persen. Ia mengatakan sekarang sudah tersedia vaksin kolera dengan harga terjangkau yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit tersebut ketika telah diketahui bahwa daerah tertentu akan dilanda oleh fenomena El Nino. [ww]

XS
SM
MD
LG