Tautan-tautan Akses

Ilmuwan AS: Tolak Vaksin, Risiko Kesehatan Publik Meningkat

  • Carol Pearson

Seorang anak remaja diberi suntikan vaksin MMR di sekolah di Swansea, Wales selatan, Inggris.

Para ahli medis mengatakan mereka yang menolak vaksinasi anak-anak bergantung pada ilmu pengetahuan semu dan bermsalah dan membuat jutaan anak-anak berisiko.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) berharap dapat memberikan vaksin polio pada lima juta anak-anak di Yaman tahun ini, sementara di Amerika Serikat, sebuah gerakan yang menolak penggunaan vaksin untuk anak-anak semakin mendapat momentum, memicu peringatan dari banyak dokter bahwa tren ini dapat berakibat pada wabah berbahaya penyakit yang dulu dapat dikontrol.

Dr. Peter J. Hotez, ahli penyakit menular dan perawatan anak-anak, adalah termasuk para ahli medis yang dengan tegas melawan mereka yang menolak vaksin berdasarkan keyakinan mereka bahwa praktik-praktik vaksinasi Amerika membuat anak-anak mereka berisiko.

Dr. Peter Hotez, dekan Baylor College of Tropical Medicine, menunjukkan kepda wartawan wilayah-wilayah di Houston yang mungkin berisiko tinggi untuk penyebaran Zika. (Foto: Dok)
Dr. Peter Hotez, dekan Baylor College of Tropical Medicine, menunjukkan kepda wartawan wilayah-wilayah di Houston yang mungkin berisiko tinggi untuk penyebaran Zika. (Foto: Dok)

Kelompok yang melawan Hotez adalah kelompok-kelompok seperti Texans for Vaccine Choice, yang para anggotanya yakin bahwa vaksin untuk anak-anak mungkin terkait dengan autisme. Para otoritas keilmuan telah berulang kali menyanggah teori semacam itu, namun para orangtua penolak vaksin mengatakan mereka seharusnya bisa memilih apakah mereka akan memberi anak-anak vaksin atau tidak.

Texans for Vaccine Choice adalah “organisasi yang sangat efektif," ujar Hotez.

Grup lain yang bernama Revolution for Truth berencana akan berdemonstrasi di Washington akhir Maret. Di halaman Facebooknya, kelompok itu mengatakan tujuan mereka adalah "untuk memprotes liputan media yang bias dan demonisasi mereka yang mendorong vaksin-vaksin yang lebih aman untuk membela hak legal dalam membuat pilihan mendapatkan vaksin berdasarkan informasi dan secara sukarela."

Tahun ini, gerakan anti-vaksin ini telah diberi semangat oleh beberapa komentar anti-vaksin dari Presiden AS Donald Trump bertahun-tahun lalu, dan dengan sikap anti-vaksin dalam kampanye politiknya menuju Gedung Putih.

Vaksinasi-vaksinasi untuk melawan penyakit anak-anak seperti campak, gondok dan rubela adalah wajib di sebagian besar wilayah AS, tapi Texas adalah satu dari negara-negara bagian yang akan menyidangkan gugatan dari para orangtua yang menolak praktik itu, dan, dalam banyak kasus, mengecualikan anak-anak mereka dari kewajiban vaksinasi.

Diperkuat oleh keberhasilan-keberhasilan mereka dalam proses gugatan -- sekitar 50.000 anak sekolah di Texas tidak lagi divaksinasi -- kelompok-kelompok "pilihan vaksin" sekarang mengalihkan operasi mereka ke dalam politik, media sosial dan arena-arena lain untuk mendorong sektor publik yang lebih luas.

Departemen Kesehatan Texas melaporkan bahwa cakupan vaksinasi campak di beberapa daerah telah hampir jatuh di bawah 95 persen, tingkat yang diperlukan untuk memastikan imunitas secara luas dan mencegah wabah campak.

Michelle Moore dan anak kembarnya. Warga Lake Oswego, Oregon ini adalah salah seorang yang skeptis terhadap vaksin.
Michelle Moore dan anak kembarnya. Warga Lake Oswego, Oregon ini adalah salah seorang yang skeptis terhadap vaksin.

Hotez, profesor kedokteran anak, virologi molekuler dan mikrobiologi di Baylor University di Texas itu, mengatakan peningkatan jumlah orangtua yang menolak vaksinasi anak-anak dapat menyebabkan lonjakan campak mematikan di Texas dan daerah lain.

Epidemi campak, yang merupakan masalah kesehatan publik di Amerika Serikat pada pertengahan abad 20, telah sebagian besar hilang berkat vaksinasi, menurut Hofez dan rekan-rekannya, atau berkat sanitas dan praktik-praktik perawatan anak yang lebih baik, menurut para skeptis.

Tahun 1970an, sebelum anak-anak divaksinasi, campak merupakan penyebab utama kematian anak-anak di dunia.

"Campak adalah aktor buruk. Bahkan jika ia tidak membunuh, ia dapat menyebabkan kerusakan syaraf," ujar Hotez.

Para ahli kesehatan publik memperkirakan bahwa vaksin-vaksin mencegah kematian sekitar 2,5 juta anak-anak di seluruh dunia setiap tahun, namun campak dan batuk dapat menyebar mudah di populasi-populasi di mana sejumlah orang tidak divaksinasi. [hd]

XS
SM
MD
LG