Tautan-tautan Akses

IAEA Katakan Ada Ranjau yang Ditemukan di Lokasi PLTN Zaporizhzhia


Pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia, yang terbesar di Eropa, terlihat di latar belakang Waduk Kakhovka yang dangkal setelah bendungan runtuh, di Energodar, Ukraina yang diduduki Rusia, 27 Juni 2023. (Foto: AP)
Pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia, yang terbesar di Eropa, terlihat di latar belakang Waduk Kakhovka yang dangkal setelah bendungan runtuh, di Energodar, Ukraina yang diduduki Rusia, 27 Juni 2023. (Foto: AP)

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengatakan stafnya melihat ranjau-ranjau antipersonnel terarah di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina.

Dalam pernyataannya, IAEA mengatakan bahwa ranjau-ranjau itu terlihat pada hari Minggu “di zona penyangga antara pembatas perimeter internal dan eksternal fasilitas itu.” Badan pengawas nuklir PBB itu mengatakan tidak ada ranjau terlihat “di bagian dalam perimeter PLTN itu.”

Rusia telah menguasai lokasi itu sejak tahap awal invasinya di Ukraina. IAEA telah berulang kali memperingatkan tentang potensi bencana nuklir sambil menganjurkan langkah-langkah keselamatan dan keamanan di PLTN terbesar di Eropa itu.

Dirjen IAEA Rafael Grossi mengatakan ia diberitahu bahwa penempatan ranjau itu merupakan keputusan militer dan dilakukan di wilayah yang dikuasai militer.

“Tetapi memiliki bahan peledak semacam itu di fasilitas tersebut tidak sesuai dengan standar keselamatan dan pedoman keamanan nuklir IAEA, serta menciptakan tekanan psikologis tambahan terhadap staf PLTN – meskipun penilaian awal IAEA yang didasarkan pada pengamatannya sendiri dan klarifikasi oleh PLTN itu adalah bahwa peledakan ranjau itu tidak berdampak pada sistem keselamatan dan keamanan nuklir fasilitas itu,” kata Grossi.

Para pakar IAEA juga terus memantau ketersediaan air untuk mendinginkan reaktor nuklir menyusul penghancuran bendungan Kakhovka pada Juni lalu yang berdampak pada waduk di dekat PLTN tersebut, kata IAEA.

“PLTN ini masih terus memiliki air yang cukup untuk beberapa bulan,” kata IAEA.

Sementara itu Departemen Keuangan AS mengatakan Wakil Menteri untuk Urusan Terorisme dan Intelijen Finansial Brian Nelson akan membahas bagaimana keluarnya Rusia dari Prakarsa Biji-bijian Laut Hitam merugikan negara-negara Afrika pada waktu ia mengunjungi Kenya dan Somalia pekan ini.

Seorang juru bicara departemen tersebut mengatakan Nelson akan mengemukakan bahwa Rusia meninggalkan perjanjian biji-bijian itu terlepas dari upaya AS untuk memfasilitasi arus ekspor biji-bijian dan pupuk Rusia.

Rusia mundur dari kesepakatan itu pekan lalu, dengan alasan tidak mendapat cukup banyak manfaat dari prakarsa paralel yang memungkinkan Rusia mengekspor bahan makanan dan pupuk terlepas dari sanksi-sanksi Barat.

Kunjungan Nelson akan berlangsung sementara Presiden Rusia Vladimir Putin bersiap untuk menerima para pemimpin Afrika di St. Petersburg hari Kamis dan Jumat dengan menjanjikan mereka biji-bijian Rusia secara gratis “untuk menggantikan biji-bijian Ukraina.”

Sekjen PBB Antonio Guterres mengimbau Rusia agar menghidupkan kembali perjanjian yang diperantarai PBB itu untuk memungkinkan lagi arus ekspor biji-bijian dari pelabuhan-pelabuhan Ukraina di Laut Hitam. [uh/ab]

Forum

Recommended

XS
SM
MD
LG