Tautan-tautan Akses

Hari Keselamatan Pasien Sedunia: Target Utama, Turunkan Angka Kematian Ibu


Seorang dokter melakukan USG pada seorang ibu hamil di sebuah klinik kesehatan nirlaba di Sukadana, Kalimantan Barat. (Foto: AFP/Bay Ismoyo)

Peringatan Hari Keselamatan Pasien Sedunia, 17 September, diharapkan menjadi momentum upaya menurunkan angka kemarian ibu dan bayi di Indonesia yang masih cukup tinggi. Peningkatan layanan kesehatan dan deteksi dini terhadap pasien, dapat menjadi upaya menekan angka kematian pasien di rumah sakit.

Sebanyak 76 persen kematian ibu terjadi di fase persalinan dan pasca persalinan. Faktor-faktor risiko persalinan terjadi pada fase sebelum dan saat hamil, seperti sepsis atau infeksi, hipertensi, anemia, serta penyakit penyerta lainnya. Sementara itu, lebih dari 62 persen kematian ibu dan bayi terjadi di rumah sakit, akibat terlambat dirujuk, atau dirujuk ke RS setelah kondisi kritis.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Abdul Kadir, mengatakan penting bagi ibu hamil untuk melahirkan di fasilitas layanan kesehatan (fasyankes), seperti rumah sakit maupun puskesmas, untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Abdul Kadir (VOA/Petrus Riski).
Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Abdul Kadir (VOA/Petrus Riski).

Selama ini banyak ibu hamil yang enggan melahirkan di fasilitas layanan kesehatan, sehingga berisiko terjadinya kematian ibu dan bayi baru lahir.

“Untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, kita harapkan bahwa semua ibu yang akan melahirkan itu haruslah melahirkan di fasilitas layanan kesehatan. Oleh karena itu akses pelayanan harus kita buka,” jelasnya.

Peran Penting “Desa Siaga”

Abdul Kadir menambahkan, penguatan daerah juga memegang peranan penting dalam upaya penyelamatan ibu dan bayi, dengan mengaktifkan Desa Siaga dan peran serta aktif organisasi profesi di bidang kesehatan.

Hari Keselamatan Pasien Sedunia: Target Utama, Turunkan Angka Kematian Ibu
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:08 0:00

“Desa Siaga harus kita aktifkan dalam rangka pemenuhan SPM kesehatan ibu dan bayi. Artinya apa, yang namanya kepala desa harus bisa mendata, melakukan mapping, di mana saja ada keluarga yang ada ibu hamil, sehingga dengan demikian dapat segera dilakukan tindakan pada saat ada masalah. Kedua, kita meningkatkan koordinasi dengan organisasi profesi (kesehatan). Jadi kami harapkan pada POGI, IDI, PDUI, IBI, itu betul-betul dapat ikut berpartisipasi dengan menempatkan anggotanya pada seluruh puskesmas atau rumah sakit yang ada,” paparnya.

Seorang ibu hamil tiba untuk tes swab COVID-19 di Surabaya, 21 Juli 2020. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)
Seorang ibu hamil tiba untuk tes swab COVID-19 di Surabaya, 21 Juli 2020. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

Pada masa pandemi COVID-19, Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan panduan pelayanan pasien umum non-COVID-19, untuk meminimalkan risiko penularan penyakit kepada pasien penyakit umum, maupun ibu dan bayi yang baru lahir.

“Kita sudah keluarkan panduan pelayanan pasien esensial, atau pasien non-COVID-19 di masa pandemi ini. Jadi, memang di rumah sakit-rumah sakit itu kita wajibkan untuk melakukan pemisahan. Jadi, di rumah sakit itu memang sudah ada semacam zonasi, di mana ada zonasi untuk pasien COVID-19, karena infeksius, dan ada zonasi untuk pasien non-COVID-19. Oleh karena itu juga, maka di dalam pelayanan apakah itu di ruang rawat jalan, atau rawat inap, dan semua tindakan-tindakan operasi itu tidak dicampur, dipisahkan,” kata Abdul Kadir.

Keamanan Berobat di RS

Ketua Komite Nasional Keselamatan Pasien, Bambang Tetuko, memastikan keamanan berobat ke rumah sakit bagi masyarakat di masa pandemi COVID-19. Pasien umum maupun ibu dan bayi yang baru lahir, dapat tetap memeriksakan kesehatannya di rumah sakit tanpa perlu khawatir tertular virus corona.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Pasien, Bambang Tetuko (VOA/Petrus Riski).
Ketua Komite Nasional Keselamatan Pasien, Bambang Tetuko (VOA/Petrus Riski).

“Mereka yang masuk ke rumah sakit ini sudah betul-betul aman, dan kami juga meyakinkan bahwa para tenaga kesehatan di dalam fasyankes ini aman, karena semua tenaga fasyankes sudah diimunasi (vaksin), dan kalau mereka ada kontak (dengan orang positif COVID-19), kita langsung melakukan tracing, sehingga kita berani memastikan bahwa kami yang bekerja di rumah sakit ini, aman untuk pasien yang datang,” jelas Bambang Tetuko.

Upaya menekan angka kematian pasien di masa pandemi, kata Bambang Tetuko, dapat dilakukan masyarakat melalui deteksi dini dan konsultasi kesehatan dengan dokter melalui daring. Tindakan medis yang diperlukan dengan hadirnya pasien di rumah sakit tetap diperlukan, dengan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan secara daring. Pemanfaatan teknologi dengan telemedicine, e-resep, dan sistem rujukan terintegrasi, diharapkan menjadi budaya baru masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan angka keselamatan pasien.

Bidan Desa memberikan penyuluhan dan pemberian imunisasi pada bayi. (VOA: Petrus Riski)
Bidan Desa memberikan penyuluhan dan pemberian imunisasi pada bayi. (VOA: Petrus Riski)

“Kita melakukan juga melalui online, jadi pasien-pasien yang masih takut untuk melakukan AMC, mungkin sebagian dari itu bisa kita lakukan melalui online. Mungkin ada pemeriksaan-pemeriksaan yang harus kita lakukan di rumah sakit, atau di fasyankes yang lain, tetapi sebelum itu kita bisa melakukan secara online, pasien baik ibu maupun anak-anak, bisa bertemu dengan para tenaga kesehatan secara online, dan kalau ada data-data laboratorium atau foto dan lain-lain, itu juga bisa kita sampaikan secara online tadi,” jelasnya. ​ [pr/em]

Lihat komentar

Recommended

XS
SM
MD
LG