Tautan-tautan Akses

AS

Pfizer: Vaksin COVID-nya Aman dan Efektif untuk Anak-Anak Usia 5-11


Pfizer mengklaim vaksin COVID-19 buatannya aman dan efektif untuk anak-anak berusia 5-11 tahun.  (Foto: ilustrasi)

Pfizer menyatakan vaksin COVID-19 buatannya aman dan efektif untuk anak-anak berusia 5-11 tahun. Perusahaan itu menyatakan uji coba menunjukkan vaksin itu aman, dapat ditoleransi dengan baik dan memperlihatkan respons antibodi penetralisir yang kuat pada tingkat lebih rendah yang diperlukan pada anak-anak berusia lebih muda. Pfizer menyatakan berencana akan meminta otorisasi penggunaan vaksinnya pada anak-anak kelompok usia muda dalam waktu dekat.

Gubernur Mississippi Tate Reeves mengatakan, ia menganggap perintah mengenakan masker oleh Presiden Joe Biden bagi semua pegawai federal sebagai “suatu serangan,” bukan langkah pencegahan yang dimaksudkan untuk menghentikan penyebaran virus corona. Mississippi adalah negara bagian dengan tingkat kematian akibat COVID per kapita tertinggi di AS.

Gubernur Tate Reeves mengatakan dalam acara televisi CNN State of the Union hari Minggu (19/9) bahwa perintah itu merupakan “serangan oleh presiden terhadap pekerja keras Amerika dan pekerja keras Mississippi yang diinginkannya dapat memilih antara mendapatkan vaksinasi dan kemampuan untuk memberi makan keluarga mereka.”

Gubernur Tate Reeves menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers terkait penanganan COVID-19 Mississippi di Jackson, Miss., Kamis, 19 Agustus 2021. (AP Photo/Rogelio V. Solis)
Gubernur Tate Reeves menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers terkait penanganan COVID-19 Mississippi di Jackson, Miss., Kamis, 19 Agustus 2021. (AP Photo/Rogelio V. Solis)

Menurut data yang dikumpulkan The New York Times, tingkat kematian akibat COVID di Mississippi mencapai 306 per 100 ribu orang.

Biden telah membela seruannya baru-baru ini kepada pengusaha dengan sedikitnya 100 karyawan untuk memerintahkan vaksinasi virus corona kepada karyawan mereka atau mewajibkan tes mingguan, dan vaksinasi wajib bagi sekitar 2,5 juta pegawai pemerintah federal, tanpa ada opsi tes COVID-19 mingguan.

Kampanye vaksinasi COVID Inggris untuk anak-anak berusia 12 hingga 15 tahun dimulai hari Senin (20/9) di sekolah-sekolah di berbagai penjuru negara itu.

Sementara itu, beberapa rumah sakit swasta di Kalkuta, yang bersiap-siap menghadapi kemungkinan lonjakan kasus COVID pada anak-anak, telah meningkatkan fasilitas mereka dan memberi pelatihan tambahan untuk para profesional layanan kesehatan mereka.

Suatu studi baru yang diterbitkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengungkapkan bahwa sekitar 1 dari 3 orang yang dites positif COVID-19 masih melaporkan gejala penyakit itu dua bulan kemudian.

Studi itu, yang dilakukan di Long Beach, California, mendapati bahwa sepertiga dari mereka yang dites positif COVID-19 melaporkan sedikitnya satu gejala penyakit yang disebabkan oleh virus corona itu empat pekan atau lebih setelah dites positif.

Orang-orang berduyun-duyun ke pantai untuk menikmati akhir pekan panjang Memorial Day, di Santa Monica, California, AS 30 Mei 2021. (REUTERS/David Swanson)
Orang-orang berduyun-duyun ke pantai untuk menikmati akhir pekan panjang Memorial Day, di Santa Monica, California, AS 30 Mei 2021. (REUTERS/David Swanson)

CDC melaporkan bahwa angka itu bahkan lebih tinggi pada perempuan, orang kulit hitam, mereka yang berusia di atas 40 tahun, dan mereka yang memiliki komorbid. CDC menggambarkan apa yang disebut sebagai “long COVID” itu sebagai gejala empat minggu atau lebih yang dialami sejak dites positif terjangkit virus corona.

Untuk studi tersebut, Departemen Kesehatan Long Beach berbicara kepada 366 orang, berusia 18 tahun ke atas, yang dipilih secara acak dari dua kelompok tes setelah mendapat hasil positif COVID-19 antara 1 April dan 10 Desember 2020.

Dengan mencatat lebih dari 42 juta kasus, AS memiliki kasus COVID-19 lebih banyak dibandingkan dengan negara manapun, kata Johns Hopkins Coronavirus Resource Center.

Orang-orang mengantri untuk menanyakan vaksin Sinovac di sebuah klinik, di tengah pandemi COVID-19 di Singapura, 18 Juni 2021. (Foto: REUTERS/Chen Lin)
Orang-orang mengantri untuk menanyakan vaksin Sinovac di sebuah klinik, di tengah pandemi COVID-19 di Singapura, 18 Juni 2021. (Foto: REUTERS/Chen Lin)

Singapura melaporkan lebih dari 1.000 kasus baru virus corona hari Minggu (19/9), angka tertinggi bagi negara itu sejak April 2020. Meskipun 80 persen populasinya telah divaksinasi penuh, Singapura telah menghentikan pembukaan kembali aktivitas lebih lanjut.

Johns Hopkins Coronavirus Resource Center telah mencatat lebih dari 228 juta kasus COVID-19 global dan 4,7 juta kematian akibat penyakit itu di seluruh dunia. Menurut pusat tersebut, hampir 6 miliar dosis vaksin telah diberikan.

Pada akhir pekan lalu, Kebun Binatang Nasional Smithsonian di Washington DC mengungkapkan bahwa beberapa harimau dan singa di tempat itu teruji positif terjangkit virus corona.

Kebun binatang itu melaporkan bahwa enam singa dan tiga harimau mengalami penurunan nafsu makan, lesu, batuk dan bersin. Tetapi dalam siaran persnya, kebun binatang itu menyatakan berkomitmen untuk kesehatan dan keselamatan hewan-hewan dan staf di sana. [uh/lt]

XS
SM
MD
LG