Tautan-tautan Akses

Gubernur BI : Penghentian Operasi Pemerintah AS Kuatkan Rupiah


Seorang karyawan tempat penukaran mata uang menghitung uang kertas rupiah, Jakarta, 23 Oktober 2018. (Foto: Reuters)

Penghentian sebagian operasi pemerintah Amerika pada Jumat (4/1) memasuki hari ke-14 dan belum ada tanda-tanda bahwa operasi penuh akan segera dimulai. Di Amerika hal ini menimbulkan kemuraman di sebagian kalangan warga, mengingat ada lebih dari 800.000 pegawai federal yang dirumahkan, sementara sekitar 420.000 lainnya tetap harus bekerja meski tidak dibayar.

Pasar-pasar keuangan pun lesu. Dow Jones, Standard&Poor dan Nasdaq, Kamis (3/1), bahkan terjun bebas. Dow Jones anjlok 2,83% atau lebih dari 600 point, sementara Standard&Poor anjlok 2,48% atau 62.14 point. Demikian pula Nasdaq yang terkoreksi negatif 3 persen atau lebih dari 202 point. Lesunya pasar hari ini diterjemahkan sebagai awal yang buruk 2019.

Akan tetapi hal sebaliknya terjadi di Indonesia. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, yang memantau dengan seksama perkembangan penghentian sebagian operasi pemerintah Amerika dan dampaknya terhadap ekonomi dan pasar keuangan global, mengatakan penghentian sebagian operasi pemerintah justru menstabilkan rupiah.

Diwawancarai VOA melalui telepon Kamis (3/1) pagi, Perry Warjiyo mengatakan “kami tidak melihat dampak negatif terhadap rupiah.” Ditambahkannya, “rupiah bergerak stabil, dan cenderung menguat. Didorong oleh confident (kepercayaan.red) investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dan semakin bekerjanya mekanisme pasar valuta asing domestik.”

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika pada Jumat pagi tercatat pada Rp 14.350 per dolar.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di kantor pusat Bank Indonesia di Jakarta, 20 Desember 2018.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di kantor pusat Bank Indonesia di Jakarta, 20 Desember 2018.

Empat Faktor Stabilitas Rupiah

Lebih jauh Perry Warjiyo, yang mulai menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia sejak Mei 2018 lalu, mengatakan ada empat faktor yang membuatnya optimis akan stabilitas rupiah ke depan.

“Kenaikan suku bunga Fed (bank sentral Amerika.red) yang lebih rendah, prospek ekonomi Indonesia yang lebih baik, defisit current account yang turun dan mekanisme pasar valuta asing domestik yang semakin baik,” ujarnya. “Insya Allah rupiah terus stabil,” imbuhnya.

Sebelumnya Perry Warjiyo, Rabu (2/1), mengatakan kepada wartawan di Jakarta bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 akan berada pada kisaran 5 persen - 5,4 persen atau jika dihitung nilai tengahnya adalah 5,2 persen. Secara keseluruhan lebih baik dibanding perkiraan pertumbuhan 2018 yang mencapai 5,1 persen. Sumber pertumbuhan ekonomi dari sektor domestik, menurutnya cukup kuat, baik dari konsumsi – yang diperkirakan akan mencapai 5,2 persen - maupun dari investasi yang diperkirakan tumbuh sekitar 7 persen.

Ia mengakui bahwa tantangannya tetap pada net-external-demand atau ekspor dikurangi impor yang masih negatif.

Seorang penjual sayuran mengambil uang dari pembelinya di sebuah pasar di Jakarta, 2 Juni 2017. Bank Indonesia memperkirakan inflasi 2019 akan berkisar 3,5 persen.
Seorang penjual sayuran mengambil uang dari pembelinya di sebuah pasar di Jakarta, 2 Juni 2017. Bank Indonesia memperkirakan inflasi 2019 akan berkisar 3,5 persen.

Inflasi Diperkirakan 3,5 Persen

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan inflasi tetap 3,5 persen plus minus 1, dengan titik tengah 3,5 persen. Tahun lalu inflasi diperkirakan 3,2 persen dan realisasinya sedikit lebih baik yaitu 3,1 persen.

“Alhamdulillah nilai tukar tahun 2018 terkendali stabil dengan depresiasi kurang dari 6 persen atau 5,9 persen,- jauh lebih rendah dari depresiasi yang dialami India dan negara-negara lain, termasuk Brazil, Afrika Selatan, Turki maupun Argentina,” ujar Perry Warjiyo sebagaimana dikutip sejumlah media di Jakarta.

“Tahun 2019 ini rupiah akan bergerak lebih stabil dan cenderung menguat,” tambahnya sambil menyebut penghentian sebagian operasi pemerintah Amerika sebagai faktornya. Ia memperkirakan dengan kondisi seperti saat ini, kebijakan fiskal Amerika tidak akan seekspansif sebelumnya.

Selain memperhatikan dengan seksama dampak lanjutan penghentian sebagian operasi pemerinta Amerika, Bank Indonesia juga mencermati kelanjutan positif perundingan dagang Amerika-China, yang diharapkan akan membuahkan hasil sehingga memberi dampak positif pada perekonomian global. [em]

Recommended

XS
SM
MD
LG