Di tengah keindahan perbukitan Himalaya di Nepal yang menakjubkan terdapat kenyataan kelam. Di sana, ada sebuah desa bernama Hokse yang dikenal sebagai “Lembah Ginjal”. Karena kemiskinan, salah seorang dari setiap rumah tangga di desa itu pernah menjual organ vital tersebut.
Selama bertahun-tahun, banyak calo gelap berusaha meyakinkan orang-orang untuk menjual salah satu ginjal mereka meskipun faktanya itu ilegal.
Suman, seorang ayah yang berusia 31 tahun, adalah salah seorang yang terbujuk. Ia menjual ginjalnya untuk mendapatkan sekitar 3.750 dolar AS atau sekitar Rp60 juta.
"Utang saya sangat banyak dan sempat berpikir untuk bunuh diri. Saya tidak punya pilihan. Saya berbicara dengan seorang teman dan dia membawa saya ke India. Saya merasa lemah dan kehilangan kesadaran ketika saya bangun. Sungguh menyakitkan. Sekarang saya tidak bisa bekerja. Saya sekarang berusaha mengingatkan siapa saja untuk tidak menjual ginjal mereka,” jelasnya.
Namun, itu cerita masa lalu. Pendidikan telah mengubah pandangan warga setempat mengenai bahaya yang dihadapi mereka yang hanya hidup dengan satu ginjal. Tidak ada lagi keluarga, yang sebagian besar anggotanya, menjual ginjal mereka.
Namun, kemiskinan masih mencengkeram. Kini semakin banyak warga Nepal yang memilih bekerja di luar negeri, khususnya di negara-negara Teluk di Timur Tengah.
Beberapa pekerja kini mengalami gagal ginjal, dan para ilmuwan menduga penyebabnya adalah paparan panas dan dehidrasi parah akibat kondisi kerja yang buruk.
Setiap tahun, ratusan ribu warga Nepal pergi bekerja ke negara-negara Teluk namun menghadapi suhu yang meningkat dan kondisi kerja yang tidak bersahabat.
Jit, seorang warga Nepal, menghabiskan tiga tahun bekerja di Arab Saudi. Kini pria berusia 29 tahun itu menghabiskan 12 jam seminggu untuk cuci darah.
“Saya harus bekerja dalam cuaca yang sangat panas hingga 50 derajat. Kami tidak punya waktu untuk makan siang, pergi ke toilet atau minum air. Saya sering kepanasan. Tiba-tiba kaki saya berkeringat dan tidak bisa berjalan. Lalu saya diberitahu bahwa ginjal saya gagal berfungsi,” sebutnya.
Di Pusat Transplantasi Organ Manusia di Bhaktapur, Dokter Pukar Chandra dulunya hanya melakukan transplantasi pada pasien lanjut usia, namun kini ia melihat semakin banyak pasien muda yang mengalami kerusakan ginjal.
“Sekitar sepertiga dari pasien transplantasi kami adalah pekerja migran yang datang dari luar negeri. Hal ini menyebabkan beban besar terhadap sumber daya kesehatan kami. Mereka adalah pemuda-pemuda yang sangat sehat dan cocok untuk bekerja di luar negeri. Dan ketika mereka kembali, Anda tahu, mereka datang dengan ginjal yang gagal berfugsi,” kata Chandra.
Beberapa negara Teluk, seperti Qatar, telah mengurangi jumlah jam kerja di bawah sinar matahari, namun beberapa penelitian menunjukkan risiko panas ekstrem di negara-negara Teluk semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir akibat perubahan iklim. [ab/uh]
Forum