Tautan-tautan Akses

Generasi Milenial dan Pemilu: "Golput itu Bukan Pilihan!"


Generasi Milenial Semangat Sambut Pemilu 2019 (dok: VOA)

Para milenial Indonesia di Amerika ikut semangat dalam menyambut pemilu kali ini. Mereka turut mengajak para milenial lainnya untuk tidak jadi golput dan ikut memberikan suara di pemilu mendatang demi pembangunan Indonesia. Sudahkah kamu menentukan pilihanmu?

Generasi milenial ikut semangat dalam menyambut pemilu yang akan diselenggarakan tanggal 13 April di Amerika Serikat, empat hari lebih awal dari pemilu di Indonesia.

Menurut mahasiswa S2 universitas George Washington, Aldwin Yusgiantoro di Washington, D.C. pemilu merupakan sebuah momen untuk menyuarakan pendapat masing-masing individu.

“Kita kaum muda bisa menyuarakan aspirasi kita untuk siapa presiden selanjutnya dan juga gimana presiden selanjutnya bisa mengubah Indonesia lebih maju lagi,” ujar mahasiswa jurusan studi pembangunan internasional ini kepada VOA Indonesia.

Bagi Irwan Saputra yang juga adalah mahasiswa S2 di universitas George Washington jurusan manajemen komunikasi, pemilu adalah sebuah harapan baru.

“Pemilu itu harapan untuk lebih baik, perubahan, yaitu berubah untuk lebih baik,” paparnya saat ditemui oleh VOA Indonesia.

Sebagai milenial, Kevin Herjono yang kini bekerja di bidang industri kreatif, khususnya di bidang visual effects untuk game sinematik di Blur Studio, Culver City, California mengganggap pemilu sebagai penentuan masa depan untuk generasi yang akan datang.

Kevin Herjono, seniman digital di industri efek visual untuk Blur Studio di California (dok: Kevin Herjono)
Kevin Herjono, seniman digital di industri efek visual untuk Blur Studio di California (dok: Kevin Herjono)

“Pemilu bukan hanya bicara masa lalu dan masa sekarang, tapi apa yang akan dilakukan bangsa untuk masa depan,” jelasnya kepada VOA Indonesia.

Mahasiswi S1 di universitas George Washington, Dorotea Purba yang akrab disapa Dea akan memilih untuk pertama kalinya tahun ini. Menurutnya, pemilu merupakan sebuah keuntungan yang tidak dimiliki oleh setiap negara.

“Sebagai negara demokrasi kan kita punya this advantage. Kita bisa pilih pemimpin kita sendiri,” ujar mahasiswi jurusan bisnis dengan fokus di keuangan dan ekonomi ini kepada VOA.

Sama seperti Dea, menurut Kevin demokrasi adalah berkat yang luar biasa untuk Indonesia.

“Dan kita sebagai millennials memiliki tanggung jawab terhadap regenerasi politik untuk masa depan kita,” papar Kevin.

Aldwin Yusgiantoro, mahasiswa S2 George Washington University di Washington, D.C. (dok: Aldwin Yusgiantoro)
Aldwin Yusgiantoro, mahasiswa S2 George Washington University di Washington, D.C. (dok: Aldwin Yusgiantoro)

Ekonomi menjadi faktor penting yang mendorong para milenial ini untuk tidak jadi golput.

“Karena ekonomi adalah yang bisa membangun Indonesia untuk maju dalam hal pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi,” jelas Aldwin yang juga adalah ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (PERMIAS) di Washington, D.C.

Menurut Irwan, dampak eksternal membuat ekonomi Indonesia merosot. Sehingga perlu adanya kekuatan dari dalam negeri.

“Kita butuh kekuatan internal, yaitu kebijakan dari pihak eksekutif untuk menangkal seperti perang dagang antara Amerika-China, supaya kita tidak terlalu jatuh dalam hal ekonomi dan investasi terus masuk, dan kita menjadi lebih baik,” tegas Irwan yang kini menjabat sebagai wakil presiden PERMIAS di Amerika Serikat di Washington, D.C.

Isu pendidikan juga tidak kalah penting dan juga mendorong Aldwin untuk ambil bagian dalam pemilu kali ini.

“Isu pendidikan sangat penting, karena menurut saya pendidikan di Indonesia masih di bawah (dibanding) tetangga-tetangga kita di Asean region. Apalagi pendidikan-pendidikan saudara-saudara kita yang di Papua,” ujarnya.

Selain ekonomi dan pendidikan, pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia juga menjadi faktor pendorong dalam memilih kali ini.

Para milenial ini berharap bahwa pemilu kali ini bisa menjadikan rakyat Indonesia lebih bersatu dan tetap damai, juga fokus untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik ke depannya.

Irwan Saputra, mahasiswa S2 di George Washington University di Washington, D.C. (dok: Irwan Saputra)
Irwan Saputra, mahasiswa S2 di George Washington University di Washington, D.C. (dok: Irwan Saputra)

“Kita harus fokus menghabiskan waktu pikiran dan tenaga kita untuk mengurusi hal-hal yang substansial di negeri kita, ketimbang hal-hal yang remeh temeh dan memecah belah,” kata Irwan yang mengaku bahwa dulu apatis dalam hal pemilu.

Haparan Alwdin adalah agar di pemilu kali ini kedua kubu tidak saling tunjuk menunjuk.

“Semoga pemilu tahun ini tidak finger pointing dari kubu lain dan kubu yang satunya lagi dan juga agar kita juga ingat bahwa kita semua adalah warga negara Indonesia, dimana walaupun kita memiliki pendapat yang berbeda-beda, kita harus ingat bahwa kita memilih untuk kemajuan negara kita,” ujar Aldwin.

Walaupun pemilu menjadi tempat untuk adu gagasan, Dea berharap agar hal tersebut tidak memecah belah warga Indonesia.

"Karena it’s not worth it. Everyone has a voice. Nggak semuanya sama, nggak semuanya harus sama. Semua punya hak yang sama. Jadi yang terbaik buat kita semua aja sih,” ucap Dea yang juga aktif di PERMIAS sebagai ketua penyelenggara untuk berbagai acara mahasiswa.

Kevin memiliki harapan tersendiri khususnya untuk perkembangan industri kreatif di Indonesia.

“Saya sangat berharap siapapun pemimpinnya nanti, saya ingin Indonesia berkembang di bidang industri kreatif baik dari sisi sumber daya manusia maupun sisi Infrastruktur yang mendukung. Mungkin sangat berat karena industri kreatif masuk ke kategori industri tertier, tapi saya percaya Indonesia selalu berjalan kedepan penuh optimisme,” papar Kevin.

Maka dari itu, para milenial ini berpesan agar ‘golput’ jangan dijadikan pilihan.

“Golput itu bukan pilihan! Saya masih percaya setiap pemimpin memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Akan tetapi jangan kekurangan itu menjadikan alasan kita untuk tidak memilih. Kita tahu secara umum manusia tidak ada yang sempurna. Seperti yang (tokoh agama) Romo Franz Magnis pernah sampaikan ‘Pemilu itu bukan memilih yang terbaik, tapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa,’” ujar Kevin.

"Para pemilih, ayo kita memilih. Jangan mau hak suara kita itu tidak terpakai atau mungkin disalah gunakan," kata Irwan yang juga adalah pendiri perpustakaan terapung untuk anak-anak nelayan di Belawan, Sumatera Utara ini.

Bagi Aldwin yang juga mengajak para milenial untuk tidak golput, pemilu merupakan kesempatan bagi para milenial untuk menentukan masa depan bangsa.

“Melalui suara yang diberikan, kita bisa memilih presiden dan wakil presiden yang memiliki visi misi membawa negara ini untuk semakin maju dan berjaya. Melalui hak suara yang diberikan, kita bisa memilih wakil wakil rakyat yang berkualitas, bersih dari korupsi dan nanti nya bisa mewakili suara kita semua di gedung parlemen. Generasi milenial akan merasakan dampak dari pemilu untuk lima tahun ke depan, maka itu hak suara kita sebagai milenial akan sangat penting. Ayok bro dan sist, jangan golput, pakai hak suaramu di pemilu ini dan mari kita berpatisipasi di pesta demokrasi April nanti,” kata Aldwin.

Warga negara Indonesia yang tinggal di Amerika memiliki dua pilihan dalam menyoblos, yaitu langsung di TPS atau melalui surat suara yang dikirim melalui pos kepada panitia pemilihan luar negeri (PPLN). Pemilu di Amerika diselenggarakan secara serentak hari Sabtu, tanggal 13 April 2019, dengan pertimbangan karena adalah hari libur untuk mayoritas warga di Amerika.

Namun, penghitungan surat suara yang terbuka untuk publik akan tetap dilakukan tanggal 17 April di Amerika. Surat suara yang dikirim melalui pos ditunggu hingga pukul 10 pagi tanggal 17 April. [di]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG