Tautan-tautan Akses

Gencatan Senjata Kacau, PBB Kirim Misi Pengamat ke Suriah


Duta Besar AS bagi PBB, Susan Rice, berbicara di majelis Dewan Keamanan PBB, Sabtu (21/4) yang memutuskan resolusi terbaru soal Suriah.
Duta Besar AS bagi PBB, Susan Rice, berbicara di majelis Dewan Keamanan PBB, Sabtu (21/4) yang memutuskan resolusi terbaru soal Suriah.

Dewan Keamanan PBB secara bulat meloloskan resolusi yang membentuk misi pengamat ke Suriah beranggotakan 300 orang.

DK PBB telah memberi otorisasi bagi pengerahan 300 pemantau yang tidak dipersenjatai ke Suriah di mana kekerasan maut telah mengacaukan gencatan senjata antara pemerintah dan pasukan oposisi.

Dewan secara bulat meloloskan sebuah resolusi, Sabtu (21/4), yang memberi misi pengamat ini wewenang selama 90 hari pertama.

Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon diberi wewenang untuk membuat sebuah penilaian apakah aman menempatkan pemantau di sana. Penilaian yang dibuatnya akan didasarkan pada perkembangan di Suriah, termasuk penghentian kekesaran.

Ban menyambut gembira keputusan itu serta mendesak pemerintah Suriah pimpinan Bashar al-Assad dan fihak-fihak lainnya segera menciptakan kondisi aman bagi pengerahan pemantau tersebut. Dalam pernyataannya ia menyebut tantangan di lapangan sebagai serius.

Sesudah pemungutan suara, Duta Besar Amerika untuk PBB, Susan Rice menuduh Suriah tidak menepati janji-janji dan menipu, serta tambahnya, misi pemantauan ini saja tidak bisa menghentikan kekacauan di negeri itu. "Rakyat Suriah, sebagaimana kita, tahu bahwa pengerahan 300 pemantau, malahan 3000 pengamat sekalipun, tidak akan bisa menghentikan rezim Assad melancarkan kampanye kekerasan tak beradab terhadap rakyat Suriah," ujar Rice. "Yang bisa menghentikan penindasan disertai pembunuhan ini adalah tekanan luar yang berkesinambungan serta ditingkatkan terhadap rejim Assad.”

Duta Besar Suriah untuk PBB, Bashar Ja’afari, menyambut gembira kedatangan lebih banyak pemantau. Namun, ia menuduh masyarakat internasional terus menunjuk pemerintahnya sebagai biang keladi kekerasan sementara mengabaikan kejahatan yang dilakukan kelompok oposisi bersenjata.

Gambar dari video amatir ini menunjukkan sebuah ledakan di Homs, Suriah, 10 April lalu.
Gambar dari video amatir ini menunjukkan sebuah ledakan di Homs, Suriah, 10 April lalu.
Pemerintah Suriah dan pasukan oposisi setuju memberlakukan sebuah genjatan senjata sebagai bagian dari rencana perdamaian yang ditengahi oleh utusan PBB, Liga Arab, Kofi Annan.

Tetapi, pemerintah dan pihak oposisi berulang kali saling menuduh bahwa fihak lainnya melanggar persetujuan tersebut.

Komisi Umum Revolusi Suriah yang beroposisi, mengatakan, “tembakan oleh rezim” menewaskan paling sedikit empat orang di Suriah, Sabtu. Juga aktivis mengatakan bahwa ledakan menggoncangkan sebuah bandara militer dekat ibukota.

Sementara itu, pemerintah mengatakan “teroris yang dipersenjatai” menanam bom rakitan dekat sebuah jalur pipa di provinsi Deir el-Zour Sabtu. Pemerintah menuduh kelompok-kelompok bersenjata melakukan serangkaian serangan terhadap pasukan keamanan dalam beberapa hari terakhir.

DK telah menyetujui sebuah pengiriman tim perintis yang terdiri dari 30 pemantau, tetapi analis mengatakan lebih banyak pemantau dibutuhkan untuk melaksanakan misi PBB itu.

Kantor berita pemerintah Suriah (SANA) mengatakan pemantau mengunjungi titik-titik konflik di Homs, Sabtu, di mana mereka bertemu dengan gubernur dan mengunjungi beberapa daerah pemukiman.

Kawasan Homs menjadi sasaran artileri yang gencar dari pemerintah selama lebih dari seminggu, tetapi aktivis mengatakan kota itu sepi pada Sabtu.
XS
SM
MD
LG