Tautan-tautan Akses

AS

Gelombang Panas Mengancam Kesehatan Warga AS


Para turis berkumpul dekat kolam Capitol dengan latar Monumen Washington saat cuaca panas di Washington D.C. deng suhu udara mencapai titip atas 80 Fahrenheit, Jumat, 19 Juli 2019. (Foto: Diaa Bekheet)

Dinas Cuaca Nasional (NWS) memperingatkan "gelombang panas berbahaya" serta kelembaban tinggi di AS pada akhir pekan bisa dengan cepat menyebabkan heat stress atau heat stroke. Heat stroke adalah kondisi suhu tubuh yang meningkat tajam dan tiba-tiba dalam waktu cepat akibat sengatan matahari.

Banyak acara dibatalkan di seluruh negara itu, dari festival dan konser sampai acara olahraga.

NWS mengatakan suhu akan tetap hangat pada Sabtu malam (20/7), antara 70an-80an derajat Farenheit. Suhu panas masih akan terus terasa hingga Minggu (21/7) di Pantai Timur. Dinas itu juga menganjurkan warga untuk mengecek keadaan sanak saudara dan teman, terutama warga lansia.

Dalam tiga hari pada Juli 1995, lebih dari 700 orang meninggal dunia di Chicago, ketika suhu melebihi 36 derajat Celcius. Banyak dari mereka yang tewas adalah orang miskin atau lansia yang tak punya akses ke pendingin ruangan atau AC. Banyak di antara mereka juga hidup sendiri.

Suhu meningkat di berbagai kota dari Midwest sampai Pantai Timur akibat sistem tekanan tinggi yang memerangkap udara panas. Para pejabat kota mengijinkan kolam renang umum untuk buka lebih lama. Pemerintah kota juga mengeluarkan anjuran kepada masyarakat mengenai cara terbaik menghadapi suhu panas.

Para peramal cuaca mengatakan suhu di New York City mencapai 33 derajat Celcius pada Sabtu (20/7), tapi dengan kelembaban, suhunya terasa seperti 43 derajat Celsius.

Pada Sabtu (20/7), suhu di ibu kota AS mencapai 38 derajat Celcius dan Philadelphia 36 derajat Celsius.

Organisasi Meteorologi Sedunia mengatakan Juni 2019 adalah rekor terpanas bumi sepanjang catatan. Selain itu, suhu darat dan laut juga mencapai rekor tertinggi pada Juni. [vm/ft]

XS
SM
MD
LG