Tautan-tautan Akses

Gelombang Panas dan Kekeringan Melanda Eropa


Sungai Loire di Montjean-sur-Loire, Prancis barat pada 24 Juli 2019, karena kondisi kekeringan terjadi di sebagian besar Eropa barat. (Foto: AFP)
Sungai Loire di Montjean-sur-Loire, Prancis barat pada 24 Juli 2019, karena kondisi kekeringan terjadi di sebagian besar Eropa barat. (Foto: AFP)

Sebagian benua Eropa kini kembali dilanda suhu panas.Sebagai akibatnya, wargapun harus berjuang melawan kekeringan dan kebakaran hutan.Saat pemerintahan menghadapi pandemi virus corona, sejumlah ahli mengkhawatirkan tanda bahaya pada lingkungan tersebut tidak mendapatkan perhatian yang layak.

Belum lama berlalu, cuaca dingin pada bulan Agustus yang dipenuhi dengan hujan di kota Paris bisa saja membuat para turis terkejut, namun tidak demikian halnya bagi warga Paris. Kini nampaknya itu semua bagaikan sejarah kuno yang telah terlupakan. Minggu lalu, suhu di daerah tersebut naik hampir 40 derajat Celsius, atau lebih dari 104 derajat Fahrenheit, dan setelah cuaca mendingin sebentar, diperkirakan suhu akan kembali naik.

Kisah yang serupa terjadi di sebagian besar negara Perancis di mana penggunaan air di sekitar dua-per-tiga dari seluruh kantor pemerintah harus dibatasi setelah terjadinya cuaca kering yang berlebihan. Curah hujan kini berada pada tingkat terendah dalam lebih dari 60 tahun.

Sejumlah negara lain di Eropa, termasuk Spanyol, Italia dan Inggris, kini juga turut merasakan suhu panas yang luar biasa.

Ada sejumlah ahli cuaca yang menghubungkan secara langsung cuaca panas dan kering tersebut dengan perubahan iklim. Ada pula yang berpendapat lebih halus.

"Kami melihat perubahan iklim pasti sangat berperan sebagai penggeraknya.. membuat peristiwa-peristiwa seperti ini menjadi lebih sering dan juga semakin keras dan lebih berat,” kata Klaus Röhrig, seorang koordinator kebijakan iklim dan tenaga di 'Climate Action Network Europe' sebuah LSM yang berbasis di kota Brussels

Musim panas yang kering dan sangat panas di Eropa telah menjadi pola selama beberapa tahun belakangan. Pada tahun 2019 terjadi kekeringan dan gelombang panas yang memecahkan rekor di sebagian wilayah Eropa sehingga menyebabkan flora dan fauna mengalami stres.

Seorang perempuan menggunakan payung untuk melindungi dari panas musim panas di Pamplona, utara Spanyol, Jumat, 28 Juni 2019. (Foto: AP)
Seorang perempuan menggunakan payung untuk melindungi dari panas musim panas di Pamplona, utara Spanyol, Jumat, 28 Juni 2019. (Foto: AP)

Sebuah studi baru oleh Universitas Potsdam dan Pusat Penelitian Ilmu Bumi Jerman GFZ menemukan bahwa kekeringan di Eropa tengah baru-baru ini telah banyak menguras sumber daya air tanah yang menjadi tumpuan hidup hutan, mengakibatkan kekurangan air yang besar walau terjadi hujan musim dingin sekalipun.

Eva Boergens adalah salah satu periset dalam penelitian tersebut yang mempelajari lima negara: Jerman, Polandia, Swiss, Austria dan Republik Ceko. Dia mengatakan bahwa hutan dapat mengatasi kekeringan selama satu tahun, namun tidak secara berturut-turut. Dan, setidaknya di Jerman, negara asalnya, dia tidak melihat adanya sikap urgensi.

Gelombang Panas dan Kekeringan Melanda Eropa
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:30 0:00

"Kami tidak melihat banyak tindakan untuk melawan kekeringan, setidaknya tahun ini kita telah mengalami curah hujan. Jadi orang-orang cenderung menyangka semua sudah membaik, padahal air yang tersimpan di bawah tanah tetap menghilang,” katanya.

Studi lain oleh Universitas Basel juga menemukan cuaca kering dan panas menyebabkan kerusakan jangka panjang pada hutan-hutan di Eropa, terutama pada pohon pinus dan beech. Tahun lalu, Badan Lingkungan Uni Eropa mengatakan cuaca yang memanas telah memicu penurunan besar keanekaragaman hayati. [aa/lt]

Recommended

XS
SM
MD
LG