Tautan-tautan Akses

Facebook Coba Bangun Citra di Vietnam


ARSIP - Foto yang diambil tanggal 29 Maret 2018, menunjukkan logo Facebook di layar Nasdaq MarketSite, di New York Times Square (foto: AP Photo/Richard Drew)

Sebelum adanya Facebook, Vu Kim Chi mengira ada yang kurang pada pekerjaannya, yang bertujuan untuk mempromosikan ekonomi di dan di sekitar obyek wisata Vietnam yang terkenal, Ha Long Bay. Mengunggah perkembangan terbaru di situs web departemennya, atau memfotokopi dokumen-dokumen komunikasi untuk dikirimkan ke konstituennya, kebanyakan hanya komunikasi satu arah, ujarnya.

Namun setelah ia mengembangkan halaman resmi di Facebook untuk provinsi Quang Ninh, percakapan mulai mengalir dua arah, antara Chi dan warga atau dunia usaha setempat. Itulah mengapa, saat berbicara tentang media sosial, ia berpikir pegawai negeri harus mampu mengikuti tren dengan warga negara lainnya.

“Media sosial, khususnya aplikasi Facebook, banyak dimanfaatkan di Vietnam,” ujar Chi, yang adalah deputi kepala dinas pendukung dan promosi investasi. “Namun lembaga publik yang memanfaatkan piranti itu untuk berinteraksi dengan orang dan dunia usaha, masih belum banyak dimanfaatkan semaksimal mungkin.”

Upaya Facebook Membangun Citra

Bahkan ketika pemerintah negara lain di seluruh dunia tengah menuntut akuntabilitas dan transparansi dari Facebook, pejabat-pejabat publik di Vietnam berusaha mencari lebih banyak cara untuk memanfaatkan situs web itu. Dan Facebook dengan senang hati menurutinya.

Perusahaan itu sedang berupaay untuk membangun citra di Vietnam, dimana kurang lebih penggunanya mencapai 42 juta, hampir setengah dari penduduk negara itu. Selain menugaskan pejabat-pejabat penting di perusahaan itu untuk bertandang ke Vietnam, Facebook telah mengajarkan usaha-usaha kecil cara untuk memasarkan produk-produknya lewat situs ini, dan sekarang perusahaan itu memberi masukan pada para pegawai negeri seperti Chi dalam meningkatkan partispasi dengan publik.

Peluang untuk membangun nama baik di Vietnam berbarengan dengan saat ketika tekanan terhadap Facebook semakin gencar baik di dalam maupun di luar negeri. Secara global, perusahaan itu dituduh terlalu lunak terhadap upaya-upaya untuk meyakinkan pemilih untuk memilih Brexit dan untuk menjatuhkan pilihan pada Donald Trump, selain juga tuduhan dari PBB tentang kecilnya peran perusahaan itu dalam mencegah pembersihan etnis di Myanmar. Perusahaan itu dilaporkan membayar penelitian yang dapat menghancurkan reputasi para pengritik dan pesaingnya, selain juga membocorkan data kepada banyak perusahaan lain tanpa seizin penggunanya.

Undang-undag siber yang baru

Di Vietnam, pemerintah menghimbau para pemasang iklan untuk memboikot Facebook dan situs-situs lain sebagai tanggapan atas postingan para penggunanya yang mengkritik negara yang dikuasai oleh hanya satu partai. Bulan depan, negara itu akan memberlakukan undang-undang siber yang mewajibkan perusahaan untuk menyimpan data secara domestik yang ditentang oleh Facebook.

Namun semua permasalahan itu tidak menjadi topik pembahasan utama di lokakarya yang diselenggarakan di Ho Chi Minh City bulan ini dimana perwakilan perusahaan itu mengajarkan kepada birokrat setempat kiat-kiat untuk membangun halaman Facebook.

“Kita harus memahami dan memberi perhatian lebih pada aspek sosial dari platform ini,” ujar Noudhy Valdryno, yang menangani hubungan pemerintah di Facebook. “Artinya anda harus memahami siapa audiens anda, siapa mereka, dimana mereka tinggal, apa saja minat mereka? Dengan demikian anda dapat memformulasikan strategi yang akurat untuk berinteraksi dengan audiens anda.”

Lokakarya juga menyertakan masukan-masukan untuk para pejabat pemerintah, seperti mengunggah berita terbaru di Facebook dengan jeda yang teratur, merekam video dengan orientasi vertikal untuk menarik perhatian pengguna perangkat selular, dan mendorong percakapan di antara audiens halaman yang kita kelola.

Sambutan untuk perusahaan teknologi

Acara tersebut adalah contoh bagaimana para pejabat Vietnam terbuka untuk bekerja sama dengan perusahaan teknologi. Merupakan suatu hal yang biasa di negara Asia Tenggara itu, ketika warga Vietnam mengatakan “media sosial” yang mereka maksud adalah Facebook, dan saat ditanya surat kabar apa yang merka baca, jawabannya adalah: Facebook.

“Yang kita bahas adalah pemanfaat teknologi secara efektif dewasa ini untuk mencapai semua tujuan kita,” ujar Le Quoc Cuong, wakil direktur departemen informasi dan komunikasi Kota Ho Chi Minh. “Apa yang kita cari adalah efektivitas, mendorong keterlibatan dan kerjasama antara pemerintah dan warga.”

Chi mengatakan ketersediaan lebih banyak data dari Facebook akan membantunya untuk meningkatkan keterlibatan dengan warga di sekitar Quang Ninh, provinsi yang terletak di bagian timur laut yang bersinggungan dengan Samudra Pasifik di satu sisi dan perbatasan dengan China di sisi lainnya. Ia ingin menerima laporan secara reguler, mungkin sebulan sekali, dengan informasi yang akan membantunya menganalisis kinerja fan page provinsi itu, dari kata kunci hingga jumlah “likes.” Jadi di saat banyak orang di seluruh dunia yang mulai mengkritisi perusahaan teknologi karena menyalahgunakan dan mengambil manfaat finansial dari data para penggunanya, ada juga yang masih melihat potensi yang belum dimanfaatkan dengan mengumpulkan lebih banyak data. [ww/ft]

Recommended

XS
SM
MD
LG