Tautan-tautan Akses

AS

Facebook Ajarkan Warga New York tentang Privasi pada Sebuah Kios Dadakan


Orang-orang lalu-lalang di sekitar sebuah kios dadakan yang dibuka oleh jaringan media sosial Facebook untuk acara yang berlangsung satu hari pada tanggal 13 Desember 2018 di Bryant Park, New York (foto: Timothy A. Clary/AFP)

Facebook, yang mendapat sorotan tajam terkait kebijakan perlindungan data privasinya yang dianggap keliru, sebagaimana dilansir oleh kantor berita AFP pada tanggal 14/12, berusaha langsung untuk menjangkau publik penggunanya dengan mendirikan sebuah kios dadakan di New York dimana para penggunanya dapat melontarkan pertanyaan dan mengetahui lebih lanjut bagaimana jaringan media sosial tersebut menangani informasi yang bersifat pribadi.

Kegiatan hubungan kemasyarakatan, sebuah acara yang berlangsung satu hari, di pasar dadakan Bryant Park yang berada di tengah kota, adalah kegiatan pertama yang diselenggarakan Facebook di Amerika Serikat dan mengikuti presentasi serupa yang diseleggarakan pada bulan September di London.

Karyawan-karyawan Facebook membagi-bagikan kopi dan coklat hangat serta nasihat bagi para pengguna untuk memahami dan menyesuaikan setelan privasi di akun mereka, selain juga menjelaskan kepada para pengguna bagaimana mereka dapat memilih dengan siapa mereka ingin berbagi atau mengecualikan orang-orang tertentu agar tidak dapat melihat gambar-gambar yang mereka unggah dan postingan-postingan yang mereka buat.

Warga membaca poster tentang kesiapan Facebook untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang praktik-praktik yang dilakukannya dalam berbagi data dan cara untuk memahami kontrol privasi dalam media sosial miliknya (foto: Timothy A. Clary/AFP)
Warga membaca poster tentang kesiapan Facebook untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang praktik-praktik yang dilakukannya dalam berbagi data dan cara untuk memahami kontrol privasi dalam media sosial miliknya (foto: Timothy A. Clary/AFP)

Jaringan media sosial terbesr di dunia – yang mendapat citra buruk oleh terbongkarnya tindak manipulasi yang dilakukan oleh para pelaku yang berada di luar negeri, kebocoran informasi pribadi, di samping berbagai permasalahan lainnya – berusaha untuk menjelaskan bagaimana Facebook mengumpukan data dan memungkinkan dijalankannya iklan yang langsung menyasar pribadi-pribadi penggunanya.

“Kami menyadari para pengguna media sosial kami memiliki pertanyaan tentang kebijakan privasi dan iklan yang dijalankan di media sosial jadi kami pikir ini adalah saat yang tepat untuk bertatap muka dengan warga dan berinteraksi dalam sebuah sesi dan menjawab semua pertanyaan yang mereka miliki,” ujar Khaliah Barnes, manajer privasi dan kebijakan publik di kantor Facebook di Washington, D.C.

“Saya berharap kami dapat berinteraksi dengan lebih banyak pengguna.”

Facebook telah menjadi sasaran boikot dan investigasi di seluruh dunia selama beberapa bulan terakhir, khususnya sejak terbongkarnya pembajakan data pribadi oleh Cambridge Analytica, sebuah perusahaan konsultan yang bekerja untuk kampanye pemilihan presiden Donald Trump tahun 2016.

Jennifer Shin, 26 tahun, yang bekerja dalam sebuah perusahaan periklanan di New York, mengatakan eksperimen ini “menarik” karena citra negatif yang disematkan pada Facebook saat ini.

Mungkin saja bermanfaat, ujarnya, “sekedar mengedukasi publik tentang apa yang dapat anda lakukan dengan setelan privasi anda.”

Michael Beswetherick, seorang insinyur di bidang perangkat lunak berusia 26 tahun yang bekerja untuk New York Times, yang mampir di kios dadakan tersebut, mengakui ia “pastinya memiliki bias negatif” tentang Facebook namun mengatakan semua karyawan Facebook yang hadir di lokasi tersebut “bersikap ramah.” [ww]

XS
SM
MD
LG