Tautan-tautan Akses

Eksodus Warga Sipil Perlambat Gerak Maju Koalisi di Kubu Terakhir ISIS di Suriah


Warga sipil yang menyelamatkan diri saat terjadinya bentrokan Pasukan SDF dan pejuang ISIS di desa Baghouz, Suriah, 26 Januari 2019. (Foto: dok).

Pasukan koalisi dukungan Amerika di Suriah telah melancarkan ofensif untuk menyingkirkan militan ISIS dari kubu pertahanan terakhir mereka di dekat perbatasan dengan Irak. Akan tetapi gerak maju mereka terhambat oleh eksodus warga sipil dari kawasan itu. Militan juga dikabarkan melakukan perlawanan sengit terhadap gerak maju pasukan koalisi.

Ribuan warga sipil telah melarikan diri dari daerah kantong yang dikuasai militan di bagian timur Suriah, menjelang ofensif koalisi yang dimulai pekan lalu. Di antara mereka terdapat sejumlah kerabat anggota ISIS. Salah seorang di antaranya adalah Lydia Fahem, perempuan muda janda anggota ISIS.

“Saya datang ke sini tanpa pengetahuan, dan pengetahuan sangatlah penting dalam Islam. Saya tidak menyesal karena ini membuat saya menjadi kuat, menjadi seorang ibu dan menjadi sangat kuat,” kata Lydia Fahem.

Para pengamat menyatakan sejauh ini lebih dari 20 ribu orang telah meninggalkan daerah yang terdiri dari dua desa di perbatasan dengan Irak. Kelompok-kelompok yang lebih kecil juga masih mengalir keluar dari desa Baghouz hari Minggu.

“Ini adalah pengungsian besar-besaran dan lihatlah bagaimana orang-orang pergi dan kami memperlambat penembakan agar kami tidak melukai warga sipil,” kata Ayman AL Assaf dari Pasukan Tabqa.

Para pengungsi itu menjalani pemeriksaan keamanan awal di luar Baghouz untuk memisahkan warga sipil dari anggota ISIS. Warga sipil kemudian dipindahkan ke kamp-kamp pengungsi di luar zona pertempuran.
Alexandr Bekmirzaev, lelaki Irlandia, telah ditahan karena diduga seorang jihadis.

“Kami mengira semakin banyak anak yang akan kami miliki, semakin banyak perempuan dan anak-anak, kalau kita pergi sebagai kelompok besar, bahayanya akan berkurang, karena mereka akan melihat begitu banyak orang, terutama anak-anak, anak-anak menangis jadi mereka mungkin tidak akan mencederai kami,” kata Alexandr Bekmirzaev.

Banyak yang melarikan diri dari kawasan itu adalah orang-orang asing.

Satu di antaranya adalah Ahmed Tariq Ahmad, lelaki Irak yang sedang menunggu pemeriksaan.

“Berbagai macam orang di sini, ada banyak warga Arab, orang-orang asing dalam jumlah besar. Rumah-rumah tidak cukup menampung mereka. Mereka berada di jalan-jalan, tenda-tenda dan parit-parit perlindungan,” kata Ahmed Tariq Ahmad.

Baghouz Suriah
Baghouz Suriah

​Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi menyatakan militan semakin banyak menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia untuk menghambat gerak maju pasukan.

Para anggota ISIS melakukan perlawanan sengit di desa Baghouz, kubu pertahanan terakhir mereka di Suriah Timur.

“Sekarang ini kami berada di pinggiran Baghouz. Semoga selama periode ini kami akan dapat membebaskannya dari ISIS. Kami punya harapan dan semangat yang tinggi. Kami tidak akan kembali sebelum membebaskannya sepenuhnya dari kekuatan terorisme,” kata Qadir Al-Abdullah, anggota SDF.

ISIS pernah menguasai daerah yang luas di Irak dan Suriah. Akan tetapi kekalifahan yang diproklamasikannya sendiri itu telah dilucuti melalui upaya internasional terpadu dalam beberapa tahun belakangan. Kelompok ekstremis itu masih menguasai daerah-daerah kantong kecil di kedua negara tersebut, dan mampu menimbulkan banyak korban di kalangan pasukan penyerang. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG