Tautan-tautan Akses

Ebola Menyebar Luas di Provinsi Equateur, Kongo


Vaksinasi Ebola di Beni, Kongo, 13 Juli 2019. (Foto: dok).
Vaksinasi Ebola di Beni, Kongo, 13 Juli 2019. (Foto: dok).

Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) mengkhawatirkan peningkatan dan penyebaran cepat virus Ebola yang mematikan di sebuah wilayah terpencil dan dipenuhi hutan di Provinsi Equateur di Republik Demokratik Kongo (DRC). 

Para pejabat kesehatan melaporkan 100 orang di DRC telah terinfeksi Ebola dalam kurang dari 100 hari, menewaskan hampir separuh dari 43 orang yang terjangkit penyakit sangat menular itu.

WHO mengatakan virus itu terus menyebar dan telah berada di 11 dari 17 zona kesehatan di provinsi itu. Situasi ini sangat mengkhawatirkan karena sulitnya mencapai masyarakat yang terkena dampaknya di wilayah geografis tersebut.

Direktur WHO Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan sekarang ini ada keterlambatan sekitar lima hari sejak munculnya gejala hingga peringatan mengenai dugaan kasus.

"Ini mengkhawatirkan karena semakin lama pasien dibiarkan tanpa perawatan, semakin rendah kemungkinannya bertahan hidup, dan semakin lama virus itu bisa menyebar tanpa terdeteksi dalam masyarakat. Situasinya semakin dipersulit dengan adanya aksi mogok para petugas kesehatan, yang berdampak pada berbagai aktivitas termasuk vaksinasi dan pemakaman yang aman."

Para petugas kesehatan di Mbandaka, ibukota provinsi Equateur, baru-baru ini melakukan aksi mogok untuk memprotes upah yang katanya belum dibayar. Setelah janji-janji oleh pemerintah untuk diselidiki, aksi mogok itu dilaporkan telah berakhir.

Namun demikian, uang tetap menjadi masalah utama dalam perang melawan epidemi penyakit ini, apalagi banyak dana operasional Ebola terkuras untuk membiayai penanganan COVID-19. Tedros mengatakan penanganan Ebola kurang biaya.

"Di sana masih sangat memerlukan penambahan sumber daya manusia dan kapasitas logistik untuk mendukung respons yang efektif di seluruh wilayah geografis yang terus meluas, dan untuk membantu para petugas kesehatan mengidentifikasi kasus-kasus lebih dini. Pemerintah DRC telah mengembangkan sebuah rencana yang membutuhkan sekitar 40 juta dolar. Kami mendesak mitra-mitra untuk mendukung rencana ini."

Wabah Ebola terbaru ini, yang ke-11 di DRC, dinyatakan di Provinsi Equateur tanggal 1 Juni, ketika wabah sebelumnya di provinsi Kivu Utara dan Ituri sedang mereda. Wabah itu, yang terbesar dalam sejarah negara itu, menginfeksi 3.481 orang dan menewaskan hampir 2.300. [vm/ii]

Recommended

XS
SM
MD
LG